alexametrics
25.8 C
Mojokerto
Thursday, May 19, 2022

Penyedia Obat Aborsi Divonis 10 Bulan Penjara

KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Kasus jual beli obat ilegal yang menyeret Dianus Pionam, (DP), 55, warga Kelurahan Pluit, Kecamatan Penjaringan, Kota Jakarta Utara, berakhir di persidangan, kemarin (19/10). Hakim Pengadilan Negeri (PN) Mojokerto memvonis terdakwa dengan hukuman 10 bulan penjara. Vonis ini lebih ringan 2 bulan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Kabupaten.

Humas PN Mojokerto Dr Pandu Dewanto, SH, MH, mengatakan, proses persidangan terhadap terdakwa Dianus memasuki tahap akhir. Sesuai dengan putusan yang dibacakan majelis hakim, terdakwa divonis bersalah. ’’Terdakwa Dianus divonis 10 bulan dan denda Rp 30 juta subsider 6 bulan kurungan,’’ ungkapnya, kemarin.

Sidang yang dipimpin ketua majelis Sutrisno, SH, MH. dengan hakim anggota Dr. Pandu Dewanto, SH, MH, dan Dr. BM. Cintis Buana, SH, MH, terdakwa diyakini terbukti sebagaimana dakwaan alternatif kesatu JPU. Yakni, dengan sengaja memproduksi atau mengedarkan sediaan farmasi dan atau alat kesehatan yang tidak memiliki izin edar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat 1 UU RI Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. Sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 197 juncto pasal 106 ayat 1.

Baca Juga :  Disatroni Maling, HP dan Uang Tunai Amblas

Namun, vonis ini lebih ringan 2 bulan dari tuntutan jaksa. Yakni satu tahun penjara. Sesuai pasal, tuntutan ini juga tergolong ringan dari ancaman. Yakni maksimal 15 tahun penjara dan denda paling banyak Rp 1,5 miliar. ’’Terdakwa terbukti sebagaimana dakwaan alternatif kesatu JPU. Ada waktu tujuh hari, jaksa dan terdakwa diberikan waktu oleh undang-undang untuk pikir-pikir terhadap putusan hakim,’’ paparnya.

Dalam putusan itu, hakim juga menetapkan sejumlah barang bukti dirampas untuk negara. Meliputi, uang tunai Rp 8,2 juta, uang hasil penjualan obat Rp 1,5 juta, uang Rp 15,2 juta sisa keuntungan dari penjualan obat cytotec, uang Rp 857 ribu keuntungan.

Hakim juga menetapkan sejumlah barang bukti dirampas dan dimusnahkan. Di antaranya, pil cytotec tiga strip berisi 30 butir, satu box obat merek Zelona, satu box obat merek Histico, satu box obat merek Faridexon forte, dan 19 box berisi 2280 tablet obat merek cytotec. ’’Dan ada juga barang bukti lain seperti tanda bukti pengiriman dan sejumlah ATM BCA agar dirampas dan dimusnahkan,’’ tegasnya.

Baca Juga :  Penyedia Obat Aborsi Dituntut Ringan

Disinggung soal penahanan terdakwa, Pandu menyerahkan sepenuhnya kepada jaksa. ’’Terserah jaksanya sebagai eksekutor pidana, apakah mau langsung eksekusi atau bagaimana, karena jaksa sebagai pemilik perkara,’’ jelasnya.

Dikonfirmasi terpisah atas vonis tersebut Kasi Pidum Kejaksaan Negeri Kabupaten Mojokerto Ivan Yoko Wibowo, belum memberikan jawaban. (ori/abi)

 

KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Kasus jual beli obat ilegal yang menyeret Dianus Pionam, (DP), 55, warga Kelurahan Pluit, Kecamatan Penjaringan, Kota Jakarta Utara, berakhir di persidangan, kemarin (19/10). Hakim Pengadilan Negeri (PN) Mojokerto memvonis terdakwa dengan hukuman 10 bulan penjara. Vonis ini lebih ringan 2 bulan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Kabupaten.

Humas PN Mojokerto Dr Pandu Dewanto, SH, MH, mengatakan, proses persidangan terhadap terdakwa Dianus memasuki tahap akhir. Sesuai dengan putusan yang dibacakan majelis hakim, terdakwa divonis bersalah. ’’Terdakwa Dianus divonis 10 bulan dan denda Rp 30 juta subsider 6 bulan kurungan,’’ ungkapnya, kemarin.

Sidang yang dipimpin ketua majelis Sutrisno, SH, MH. dengan hakim anggota Dr. Pandu Dewanto, SH, MH, dan Dr. BM. Cintis Buana, SH, MH, terdakwa diyakini terbukti sebagaimana dakwaan alternatif kesatu JPU. Yakni, dengan sengaja memproduksi atau mengedarkan sediaan farmasi dan atau alat kesehatan yang tidak memiliki izin edar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat 1 UU RI Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. Sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 197 juncto pasal 106 ayat 1.

Baca Juga :  Warga Surabaya Tewas di Hutan Pinus, Petugas Evakuasi Pakai APD

Namun, vonis ini lebih ringan 2 bulan dari tuntutan jaksa. Yakni satu tahun penjara. Sesuai pasal, tuntutan ini juga tergolong ringan dari ancaman. Yakni maksimal 15 tahun penjara dan denda paling banyak Rp 1,5 miliar. ’’Terdakwa terbukti sebagaimana dakwaan alternatif kesatu JPU. Ada waktu tujuh hari, jaksa dan terdakwa diberikan waktu oleh undang-undang untuk pikir-pikir terhadap putusan hakim,’’ paparnya.

Dalam putusan itu, hakim juga menetapkan sejumlah barang bukti dirampas untuk negara. Meliputi, uang tunai Rp 8,2 juta, uang hasil penjualan obat Rp 1,5 juta, uang Rp 15,2 juta sisa keuntungan dari penjualan obat cytotec, uang Rp 857 ribu keuntungan.

Hakim juga menetapkan sejumlah barang bukti dirampas dan dimusnahkan. Di antaranya, pil cytotec tiga strip berisi 30 butir, satu box obat merek Zelona, satu box obat merek Histico, satu box obat merek Faridexon forte, dan 19 box berisi 2280 tablet obat merek cytotec. ’’Dan ada juga barang bukti lain seperti tanda bukti pengiriman dan sejumlah ATM BCA agar dirampas dan dimusnahkan,’’ tegasnya.

Baca Juga :  Kejari Kota Bongkar Korupsi BPRS
- Advertisement -

Disinggung soal penahanan terdakwa, Pandu menyerahkan sepenuhnya kepada jaksa. ’’Terserah jaksanya sebagai eksekutor pidana, apakah mau langsung eksekusi atau bagaimana, karena jaksa sebagai pemilik perkara,’’ jelasnya.

Dikonfirmasi terpisah atas vonis tersebut Kasi Pidum Kejaksaan Negeri Kabupaten Mojokerto Ivan Yoko Wibowo, belum memberikan jawaban. (ori/abi)

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/