alexametrics
23.8 C
Mojokerto
Thursday, May 26, 2022

Bus Transbuck Ditahan Polisi

KOTA, Jawa Pos Radar Mojokerto – Bus Transbuck yang mencoba mengenalkan wisata lokal di Mojokerto, mendadak ditahan Satlantas Polres Mojokerto Kota. Kemarin, bus ini ditilang dan ditahan di depan mapolresta, Jalan Bayangkara.

Dani Arihadi, pengelola Majapahit Tour, menceritakan, bus dominan warna cokelat ini mendadak dihentikan oleh anggota Satlantas Polres Mojokerto Kota saat hendak mengangkut penumpang di depan stasiun. ’’Saat itu, bus kami sedang ada di Jalan Gajah Mada. Mendadak ditilang dan ditahan,’’ ujarnya.

Penilangan yang dilakukan kepolisian ini, cerita Dani, dinilai unprocedural. Karena semua berkas perizinan sudah dinyatakan lengkap. ’’Katanya, bus kami melanggar rambu. Tapi, kenapa bukan SIM atau STNK yang ditahan. Justru kendaraannya yang harus ditahan?’’ beber dia.

Lebih aneh lagi, pagi ini, ia diminta salah satu petugas untuk bertemu dengan Kasatlantas dan Kapolresta Mojokerto untuk membicarakan persoalan yang menimpanya. ’’Kalau sudah ditilang, kenapa saya harus bertemu?’’ kata Dani.

Bus yang mengenalkan wisata lokal Mojokerto ini, dikatakan Dani, semula diluncurkan untuk mengurangi kepenatan di tengah wabah korona di Mojokerto. Untuk itu, bus ini dikonsep sesuai dengan protokol kesehatan.

Semisal, seluruh penumpang harus menggunakan masker, sebelum naik bus akan dilakukan thermo gun, dan menggunakan hand sanitizer. ’’Kami juga physical distancing. Isi bus kami hanya 28 orang dari idealnya 50 orang,’’ beber dia.

Baca Juga :  Ditinggal Salat Id, Rumah Ludes Dilalap si Jago Merah

Untuk aturan lainnya, sebenarnya Dani sudah pernah melakukan koordinasi dengan dinas perhubungan (dishub) dan juga Jubir Tim Gugus Tugas Covid-19 Kota Mojokerto Gaguk Tri Prasetyo. ’’Semua sudah kami antisipasi. Jangan sampai kami menyalahi aturan. Tapi, kenapa tidak pernah ada peringatan, mendadak saja ditilang. Ini sangat aneh,’’ ungkapnya.

Perlu diketahui, sejak awal diluncurkan, bus ini memang banyak peminat. Bus ini keliling ke sejumlah tempat wisata. Di antaranya, museum Trowulan, Candi Tikus, dan sejumlah objek wisata.

Di dalam bus, penumpang juga dibatasi hanya 28 orang. Karena, bus ini dikonsep dengan sangat apik. Sejumlah kursi dilepas dan diganti meja dengan segelas kopi dan camilan. Dengan ngopi di bus ini, serasa ngopi di kafe.

Konsep ini mendapat apresiasi dari sejumlah kalangan. Tak sedikit sejumlah pejabat yang telah menikmatinya. Bahkan, suami Wali Kota Mojokerto, Supriyadi Karima Syaiful, sempat menilik dan mengapresiasi bus berkonsep physical distancing itu.

Sementara itu, Kasatlantas Polres Mojokerto Kota AKP Fitria Wijayanti mengaku penindakan bus pariwisata tersebut tak lain karena sudah melanggar aturan lalu lintas angkutan jalan. Salah satunya, karena bus tersebut nekat masuk kota saat jam larangan operasi. Yakni, pukul 06.00-18.00. ’’Jadi, untuk kepentingan dan keselamatan bersama bus kita tindak,’’ ungkapnya.

Di hari sebelumnya saja, lanjut Fitri, saat ada salah satu PO Bus masuk kota dengan dalih memanaskan mesin karena mau beroperasi lagi Agustus mendatang, Wali Kota Ika Puspitasari juga marah-marah. ’’Gimana ini, kok ada bus masuk kota jam segini. Kok boleh jam segini,’’ tuturnya. Menurutnya, sekarang masih satu bus. ’’Gimana kalau ada 10 bus beroperasi di tengah kota. Tentunya bisa dibayangkan,’’ tambahnya.

Baca Juga :  Kepala BKD Kota: Kami Pastikan Tidak Ada Jual Beli Jabatan

Terlepas jam larangan, polisi juga menemukan jika bus untuk pariwisata itu belum memiliki izin operasional. Baik dari Dishub Kota Mojokerto maupun Kemenhub RI seperti yang sampaikan pemiliknya.

Hasil penidakan yang dilakukan petugas di lapangan, petugas hanya menemukan surat izin uji coba saja. Hal itu pun disebutnya belum final lantaran bukan kewenangan dishub saja. Melainkan ada forum lalu lintas. Di dalamnya, meliputi dishub, polisi, Jasa Raharja dan lain-lain.

Sebaliknya, jika dishub sudah mengizinkannya, pihaknya menganggap, pemerintah tidak memikirkan efek daripada beroperasi bus di jalan protokol kota. Sebab, jika satu unit dizinkan, bisa dipastikan kompetitor lainnya akan ikut mengurus izin. Sehingga, mau tidak mau, izin tersebut juga harus dikeluarkan. ’’Jadi bisa dibayangkan, dengan kondisi jalan yang seperti itu. Apakah akan memberikan efek dampak yang baik untuk arus lalu lintas jalan protokol di jantung kota. Terlebih daripada itu, dishub sendiri sebenarnya belum berani menerbitkan izin. Karena spesifikasi teknis sendiri tidak memenuhi syarat,’’ tegasnya.

KOTA, Jawa Pos Radar Mojokerto – Bus Transbuck yang mencoba mengenalkan wisata lokal di Mojokerto, mendadak ditahan Satlantas Polres Mojokerto Kota. Kemarin, bus ini ditilang dan ditahan di depan mapolresta, Jalan Bayangkara.

Dani Arihadi, pengelola Majapahit Tour, menceritakan, bus dominan warna cokelat ini mendadak dihentikan oleh anggota Satlantas Polres Mojokerto Kota saat hendak mengangkut penumpang di depan stasiun. ’’Saat itu, bus kami sedang ada di Jalan Gajah Mada. Mendadak ditilang dan ditahan,’’ ujarnya.

Penilangan yang dilakukan kepolisian ini, cerita Dani, dinilai unprocedural. Karena semua berkas perizinan sudah dinyatakan lengkap. ’’Katanya, bus kami melanggar rambu. Tapi, kenapa bukan SIM atau STNK yang ditahan. Justru kendaraannya yang harus ditahan?’’ beber dia.

Lebih aneh lagi, pagi ini, ia diminta salah satu petugas untuk bertemu dengan Kasatlantas dan Kapolresta Mojokerto untuk membicarakan persoalan yang menimpanya. ’’Kalau sudah ditilang, kenapa saya harus bertemu?’’ kata Dani.

Bus yang mengenalkan wisata lokal Mojokerto ini, dikatakan Dani, semula diluncurkan untuk mengurangi kepenatan di tengah wabah korona di Mojokerto. Untuk itu, bus ini dikonsep sesuai dengan protokol kesehatan.

Semisal, seluruh penumpang harus menggunakan masker, sebelum naik bus akan dilakukan thermo gun, dan menggunakan hand sanitizer. ’’Kami juga physical distancing. Isi bus kami hanya 28 orang dari idealnya 50 orang,’’ beber dia.

Baca Juga :  Sopir Mengantuk, Truk Sasar Tiang Listrik, lalu Terguling
- Advertisement -

Untuk aturan lainnya, sebenarnya Dani sudah pernah melakukan koordinasi dengan dinas perhubungan (dishub) dan juga Jubir Tim Gugus Tugas Covid-19 Kota Mojokerto Gaguk Tri Prasetyo. ’’Semua sudah kami antisipasi. Jangan sampai kami menyalahi aturan. Tapi, kenapa tidak pernah ada peringatan, mendadak saja ditilang. Ini sangat aneh,’’ ungkapnya.

Perlu diketahui, sejak awal diluncurkan, bus ini memang banyak peminat. Bus ini keliling ke sejumlah tempat wisata. Di antaranya, museum Trowulan, Candi Tikus, dan sejumlah objek wisata.

Di dalam bus, penumpang juga dibatasi hanya 28 orang. Karena, bus ini dikonsep dengan sangat apik. Sejumlah kursi dilepas dan diganti meja dengan segelas kopi dan camilan. Dengan ngopi di bus ini, serasa ngopi di kafe.

Konsep ini mendapat apresiasi dari sejumlah kalangan. Tak sedikit sejumlah pejabat yang telah menikmatinya. Bahkan, suami Wali Kota Mojokerto, Supriyadi Karima Syaiful, sempat menilik dan mengapresiasi bus berkonsep physical distancing itu.

Sementara itu, Kasatlantas Polres Mojokerto Kota AKP Fitria Wijayanti mengaku penindakan bus pariwisata tersebut tak lain karena sudah melanggar aturan lalu lintas angkutan jalan. Salah satunya, karena bus tersebut nekat masuk kota saat jam larangan operasi. Yakni, pukul 06.00-18.00. ’’Jadi, untuk kepentingan dan keselamatan bersama bus kita tindak,’’ ungkapnya.

Di hari sebelumnya saja, lanjut Fitri, saat ada salah satu PO Bus masuk kota dengan dalih memanaskan mesin karena mau beroperasi lagi Agustus mendatang, Wali Kota Ika Puspitasari juga marah-marah. ’’Gimana ini, kok ada bus masuk kota jam segini. Kok boleh jam segini,’’ tuturnya. Menurutnya, sekarang masih satu bus. ’’Gimana kalau ada 10 bus beroperasi di tengah kota. Tentunya bisa dibayangkan,’’ tambahnya.

Baca Juga :  Dua Menit Tertidur

Terlepas jam larangan, polisi juga menemukan jika bus untuk pariwisata itu belum memiliki izin operasional. Baik dari Dishub Kota Mojokerto maupun Kemenhub RI seperti yang sampaikan pemiliknya.

Hasil penidakan yang dilakukan petugas di lapangan, petugas hanya menemukan surat izin uji coba saja. Hal itu pun disebutnya belum final lantaran bukan kewenangan dishub saja. Melainkan ada forum lalu lintas. Di dalamnya, meliputi dishub, polisi, Jasa Raharja dan lain-lain.

Sebaliknya, jika dishub sudah mengizinkannya, pihaknya menganggap, pemerintah tidak memikirkan efek daripada beroperasi bus di jalan protokol kota. Sebab, jika satu unit dizinkan, bisa dipastikan kompetitor lainnya akan ikut mengurus izin. Sehingga, mau tidak mau, izin tersebut juga harus dikeluarkan. ’’Jadi bisa dibayangkan, dengan kondisi jalan yang seperti itu. Apakah akan memberikan efek dampak yang baik untuk arus lalu lintas jalan protokol di jantung kota. Terlebih daripada itu, dishub sendiri sebenarnya belum berani menerbitkan izin. Karena spesifikasi teknis sendiri tidak memenuhi syarat,’’ tegasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/