alexametrics
25.8 C
Mojokerto
Thursday, May 26, 2022

Hasil Pencucian Uang untuk Pelesir, Beli Rumah dan Fortuner

MOJOKERTO – Sidang lanjutan kasus dugaan penipuan calon pegawai negeri sipil (CPNS) dan pencucian uang Rp 10 miliar kembali digelar di Pengadilan Negeri (PN) Mojokerto, Rabu (18/10). Sidang menghadirkan terdakwa Aswin Bachrein, 38, warga Kelurahan Pengasinan, Kecamatan Rawalumbu, Kota Bekasi, Jawa Barat, ini mengagendakan pemeriksaan terdakwa dan keterangan saksi meringankan.

Sidang dipimpin hakim ketua Ina Rachman SH dengan dua hakim anggota, Hendra Hutabarat, SH dan Ni Made Oktimandeani, SH, dipusatkan di ruang Candra.  Kepada majelis hakim, terdakwa mengaku dalam praktik penipuan ini mendapat bagian Rp 1 miliar dari Rp 10 miliar. Uang itu didapat dari setoran puluhan korban. ’’Sedangkan Rp 9 miliar sudah saya setor ke BKN (Badan Kepegawaian Negara) di Jakarta. Saya hanya kebagian satu miliar,’’ tegasnya.

Aswin mengaku, dalam beraksi dia tidak berjalan sendiri, melainkan dibantu empat orang. Masing-masing berinisial SW, KS, AB dan AH. Mereka disebut-sebut sebagai oknum PNS di lingkungan Pemkab Mojokerto. Aswin menuding, empat orang tersebut sebagai koordinator mencari korban hingga terkumpul uang Rp 10 miliar. ’’Sebanyak Rp 6,6 miliar saya dapat setoran dari SW dengan jumlah 81 korban. Sedangkan, Rp 3,4 miliar dari tiga orang lainnya (KS, AB, dan AH),’’ jelasnya.

Baca Juga :  HP Di-Charge, Dua Rumah Dilalap Si Jago Merah

Dari pengkuan terdakwa, bagian uang Rp 1 miliar yang diterima habis untuk membeli barang-barang mewah. Seperti membeli rumah Rp 700 juta pada tahun 2013, dan beberapa mobil mewah. Di antaranya, Toyota Fortuner dan Honda CRV bernilai ratusan juta. ’’Beli jam tangan Rp 19 juta, tas istri Rp 20 juta, dan buat kebutuhan belanja istri setiap bulan Rp 30 juta,’’ bebernya.

Selain itu, uangnya dihabiskan untuk berlibur ke luar negeri. Di antaranya ke Hongkong dan Singapura. Majelis hakim juga menghadirkan saksi meringankan, Prasasti Dewi. Perempuan asal Ceger, Kecamatan Cipayung, Kota Bekasi ini tak lain adalah tante terdakwa. Dalam keterangannya, dia mengaku tidak tahu menahu uang sebesar Rp 10 miliar adalah hasil penipuan CPNS. ’’Saya tahunya beli rumah pakai uang Rp 600 juta hasil pembagian waris penjualan rumah orang tua. Selebihnya tidak tahu,’’ katanya singkat di persidangan.

Baca Juga :  Sakit Komplikasi, Dokter Spesialis Cabul Urung Ditahan

Sementara itu, Humas PN Mojokerto Hendra Hutabarat menyatakan, terdakwa didakwa jaksa penuntut umum (JPU) dengan pasal berlapis. Selain pasal penipuan juga dijerat pasal pencucian uang. Yakni, pasal 372 dan 378 KUHP tentang Penipuan, juncto UU RI Nomor 8 Tahun 2010 tentang Penegakan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. ’’Dengan hukuman penjara paling lama 20 tahun,’’ katanya.

Pada sidang sebelumnya sebelumnya, JPU Bunari dan Djoko Susanto dari Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Timur (Jatim) dibantu JPU Dwi Martanto, dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Mojokerto menghadirkan dua orang saksi. Masing-masing Jaya Putra Yadi, dan Slamet. Hendra. Hendra menyatakan, dalam sidang itu, SW yang turut dihadirkan mengaku mengenal Aswin Bachrein dari Kasmir Sirigar pada tahun 2012. Kebetulan, saat itu, dia juga menitipkan keponakannya menjadi CPNS, melalui jalur patas kepada terdakwa. Dengan syarat menyetorkan Rp 80 Juta. 

MOJOKERTO – Sidang lanjutan kasus dugaan penipuan calon pegawai negeri sipil (CPNS) dan pencucian uang Rp 10 miliar kembali digelar di Pengadilan Negeri (PN) Mojokerto, Rabu (18/10). Sidang menghadirkan terdakwa Aswin Bachrein, 38, warga Kelurahan Pengasinan, Kecamatan Rawalumbu, Kota Bekasi, Jawa Barat, ini mengagendakan pemeriksaan terdakwa dan keterangan saksi meringankan.

Sidang dipimpin hakim ketua Ina Rachman SH dengan dua hakim anggota, Hendra Hutabarat, SH dan Ni Made Oktimandeani, SH, dipusatkan di ruang Candra.  Kepada majelis hakim, terdakwa mengaku dalam praktik penipuan ini mendapat bagian Rp 1 miliar dari Rp 10 miliar. Uang itu didapat dari setoran puluhan korban. ’’Sedangkan Rp 9 miliar sudah saya setor ke BKN (Badan Kepegawaian Negara) di Jakarta. Saya hanya kebagian satu miliar,’’ tegasnya.

Aswin mengaku, dalam beraksi dia tidak berjalan sendiri, melainkan dibantu empat orang. Masing-masing berinisial SW, KS, AB dan AH. Mereka disebut-sebut sebagai oknum PNS di lingkungan Pemkab Mojokerto. Aswin menuding, empat orang tersebut sebagai koordinator mencari korban hingga terkumpul uang Rp 10 miliar. ’’Sebanyak Rp 6,6 miliar saya dapat setoran dari SW dengan jumlah 81 korban. Sedangkan, Rp 3,4 miliar dari tiga orang lainnya (KS, AB, dan AH),’’ jelasnya.

Baca Juga :  Ditendang Empat Kali Langsung Terjungkal

Dari pengkuan terdakwa, bagian uang Rp 1 miliar yang diterima habis untuk membeli barang-barang mewah. Seperti membeli rumah Rp 700 juta pada tahun 2013, dan beberapa mobil mewah. Di antaranya, Toyota Fortuner dan Honda CRV bernilai ratusan juta. ’’Beli jam tangan Rp 19 juta, tas istri Rp 20 juta, dan buat kebutuhan belanja istri setiap bulan Rp 30 juta,’’ bebernya.

Selain itu, uangnya dihabiskan untuk berlibur ke luar negeri. Di antaranya ke Hongkong dan Singapura. Majelis hakim juga menghadirkan saksi meringankan, Prasasti Dewi. Perempuan asal Ceger, Kecamatan Cipayung, Kota Bekasi ini tak lain adalah tante terdakwa. Dalam keterangannya, dia mengaku tidak tahu menahu uang sebesar Rp 10 miliar adalah hasil penipuan CPNS. ’’Saya tahunya beli rumah pakai uang Rp 600 juta hasil pembagian waris penjualan rumah orang tua. Selebihnya tidak tahu,’’ katanya singkat di persidangan.

Baca Juga :  Pelakor Mengamuk Usai Divonis 6 Bulan Penjara

Sementara itu, Humas PN Mojokerto Hendra Hutabarat menyatakan, terdakwa didakwa jaksa penuntut umum (JPU) dengan pasal berlapis. Selain pasal penipuan juga dijerat pasal pencucian uang. Yakni, pasal 372 dan 378 KUHP tentang Penipuan, juncto UU RI Nomor 8 Tahun 2010 tentang Penegakan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. ’’Dengan hukuman penjara paling lama 20 tahun,’’ katanya.

- Advertisement -

Pada sidang sebelumnya sebelumnya, JPU Bunari dan Djoko Susanto dari Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Timur (Jatim) dibantu JPU Dwi Martanto, dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Mojokerto menghadirkan dua orang saksi. Masing-masing Jaya Putra Yadi, dan Slamet. Hendra. Hendra menyatakan, dalam sidang itu, SW yang turut dihadirkan mengaku mengenal Aswin Bachrein dari Kasmir Sirigar pada tahun 2012. Kebetulan, saat itu, dia juga menitipkan keponakannya menjadi CPNS, melalui jalur patas kepada terdakwa. Dengan syarat menyetorkan Rp 80 Juta. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/