alexametrics
30.8 C
Mojokerto
Tuesday, May 24, 2022

Gagal Ibadah Haji, Pasutri Laporkan Agen Travel ke Polisi

MOJOKERTO – Obsesi bisa menunaikan haji tanpa harus antre puluhan tahun yang bakal dilakoni pasangan suami istri (pasutri) Makbul Qadar, 43, dan Dian Mujiarti, warga Kelurahan Meri, Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto tahun ini harus pupus.

Setelah dia merasa diduga tertitu sebuah agen perjalanan haji yang menawarkan berangkat menuju Tanah Suci. Keduanya mengaku baru menyadari gagal berangkat lantaran kesalahan visa yang dipakai. Kejadian tersebut yang akhirnya menggerakkan dirinya untuk melapor atas dugaan penipuan yang dilakukan salah satu agen travel haji di Kota Mojokerto ke Polresta Mojokerto, Selasa (12/9). 

Dalam laporannya, Makbul menceritakan, proses hajinya yang berlangsung sejak tahun 2016 lalu. Di mana, dia datang ke agen travel bersangkutan untuk menanyakan kuota Haji ONH Plus. Oleh agen travel tersebut, Makbul dan sang istri diberikan kuota berangkat di musim haji tahun 2017, namun dengan syarat harus melunasi biaya haji yang mencapai Rp 272 juta untuk dua orang. Hingga akhirnya Makbul melunasinya secara bertahap. 

Baca Juga :  Fuso Sasar Dua Motor, Tiga Warga Satu Desa Tewas Sekaligus

Setelah proses administrasi selesai, tanggal 24 Agustus lalu Makbul dan Dian lalu diantar oleh pihak travel yang sudah berganti nama tersebut ke Bandara Internasional Juanda menuju Arab Saudi. Namun, sebelum itu, keduanya masih harus transit dulu di Jakarta dan diinapkan di Hotel Aeropolis. Namun, selang sehari Jakarta, keduanya merasa tidak ada kejelasan keberangkatan hingga keduanya memilih pulang kembali ke Mojokerto.

Akan tetapi, belum tiba di rumah, keduanya kembali diminta pihak travel  kembali Jakarta untuk langsung menuju Kuala Lumpur, Malaysia, bersama seseorang yang dikuasakan pihak travel mengurusi keberangkatan Makbul dan Dian. Di sana, keduanya lalu bertemu sang pemimpin rombongan haji untuk bisa berangkat bersama-sama menuju Riyad. Namun, sebelum tiba, perjalanan haji keduanya masih harus transit dulu ke Bombay, India. 

Nah, di sini persoalan pelik muncul secara tiba-tiba. Di mana, saat pihak Imigrasi India mengecek kelengkapan dokumen haji kedua jamaah, ternyata ditemukan kejanggalan. Yakni, visa yang dipakai kedua jamaah ternyata bukan visa haji, melainkan visa ziarah hingga tidak diperkenankan melanjutkan perjalanan menuju Riyad. Hingga akhirnya tanggal 30 Agustus kedua jamaah dideportasi ke Indonesia.

Baca Juga :  Gelapkan 11 Mobil Rental Senilai Rp 2,2 Miliar

Kejadian tersebut yang akhirnya membuat kesal Makbul dan Dian lantaran merasa ditipu. Makbul pun sempat melabrak pihak travel di Kota Mojokerto ini, Senin (4/9) lalu. Hanya, lagi-lagi Makbul tidak mendapati sang pemilik travel berada di tempat. Hingga akhirnya, Makbul memutuskan melaporkan ke Polresta Mojokerto.

Kasatreskrim Polresta Mojokerto, AKP Suharyono membenarkan laporan tersebut. Saat ini, laporan tersebut masih dalam proses penyelidikan untuk mengumpulkan bahan dan keterangan (pulbaket). Dari data yang berhasil dihimpun sementara, korban yang melaporkan adanya dugaan penipuan masih dua orang. Namun, hal tersebut bukan berarti menghentikan langkah satreskrim untuk terus menyelidiki kasus tersebut. ”Iya, untuk saat ini masih lidik. Mengumpulkan bukti-bukti dulu. Dugaan awal memang benar, namun korban hanya satu (suami-istri),” pungkasnya.

MOJOKERTO – Obsesi bisa menunaikan haji tanpa harus antre puluhan tahun yang bakal dilakoni pasangan suami istri (pasutri) Makbul Qadar, 43, dan Dian Mujiarti, warga Kelurahan Meri, Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto tahun ini harus pupus.

Setelah dia merasa diduga tertitu sebuah agen perjalanan haji yang menawarkan berangkat menuju Tanah Suci. Keduanya mengaku baru menyadari gagal berangkat lantaran kesalahan visa yang dipakai. Kejadian tersebut yang akhirnya menggerakkan dirinya untuk melapor atas dugaan penipuan yang dilakukan salah satu agen travel haji di Kota Mojokerto ke Polresta Mojokerto, Selasa (12/9). 

Dalam laporannya, Makbul menceritakan, proses hajinya yang berlangsung sejak tahun 2016 lalu. Di mana, dia datang ke agen travel bersangkutan untuk menanyakan kuota Haji ONH Plus. Oleh agen travel tersebut, Makbul dan sang istri diberikan kuota berangkat di musim haji tahun 2017, namun dengan syarat harus melunasi biaya haji yang mencapai Rp 272 juta untuk dua orang. Hingga akhirnya Makbul melunasinya secara bertahap. 

Baca Juga :  Izin Galian C Dimoratorium

Setelah proses administrasi selesai, tanggal 24 Agustus lalu Makbul dan Dian lalu diantar oleh pihak travel yang sudah berganti nama tersebut ke Bandara Internasional Juanda menuju Arab Saudi. Namun, sebelum itu, keduanya masih harus transit dulu di Jakarta dan diinapkan di Hotel Aeropolis. Namun, selang sehari Jakarta, keduanya merasa tidak ada kejelasan keberangkatan hingga keduanya memilih pulang kembali ke Mojokerto.

- Advertisement -

Akan tetapi, belum tiba di rumah, keduanya kembali diminta pihak travel  kembali Jakarta untuk langsung menuju Kuala Lumpur, Malaysia, bersama seseorang yang dikuasakan pihak travel mengurusi keberangkatan Makbul dan Dian. Di sana, keduanya lalu bertemu sang pemimpin rombongan haji untuk bisa berangkat bersama-sama menuju Riyad. Namun, sebelum tiba, perjalanan haji keduanya masih harus transit dulu ke Bombay, India. 

Nah, di sini persoalan pelik muncul secara tiba-tiba. Di mana, saat pihak Imigrasi India mengecek kelengkapan dokumen haji kedua jamaah, ternyata ditemukan kejanggalan. Yakni, visa yang dipakai kedua jamaah ternyata bukan visa haji, melainkan visa ziarah hingga tidak diperkenankan melanjutkan perjalanan menuju Riyad. Hingga akhirnya tanggal 30 Agustus kedua jamaah dideportasi ke Indonesia.

Baca Juga :  Dipindahkan dari Mapolresta, Mobil Sitaan KPK Dititipkan di Rubpasan

Kejadian tersebut yang akhirnya membuat kesal Makbul dan Dian lantaran merasa ditipu. Makbul pun sempat melabrak pihak travel di Kota Mojokerto ini, Senin (4/9) lalu. Hanya, lagi-lagi Makbul tidak mendapati sang pemilik travel berada di tempat. Hingga akhirnya, Makbul memutuskan melaporkan ke Polresta Mojokerto.

Kasatreskrim Polresta Mojokerto, AKP Suharyono membenarkan laporan tersebut. Saat ini, laporan tersebut masih dalam proses penyelidikan untuk mengumpulkan bahan dan keterangan (pulbaket). Dari data yang berhasil dihimpun sementara, korban yang melaporkan adanya dugaan penipuan masih dua orang. Namun, hal tersebut bukan berarti menghentikan langkah satreskrim untuk terus menyelidiki kasus tersebut. ”Iya, untuk saat ini masih lidik. Mengumpulkan bukti-bukti dulu. Dugaan awal memang benar, namun korban hanya satu (suami-istri),” pungkasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

Terancam Hukuman Maksimal

PPDB SMA/SMK Dimulai


/