alexametrics
26.8 C
Mojokerto
Monday, May 23, 2022

Berdiri Di Bibir Sungai, Rumah Mewah Ini Dibongkar Paksa

BANGSAL, Jawa Pos Radar Mojokerto – Bangunan rumah sekaligus difungsikan sebagai tempat mengaji di Desa Tinggarbuntut, Kecamatan Bangsal, Kabupaten Mojokerto, dibongkar paksa petugas gabungan, Senin (16/12).

Pembongkaran ini sempat mendapat perlawanan dari warga. Mereka juga mempertanyakan dasar hukum pembongkaran pada bangunan megah berlantai dua itu. Adu mulut antara petugas dengan warga tak bisa dihindari.

Bahkan, seorang warga nekat menerobos menuju alat berat dengan maksud ingin menghentikan pembongkaran. Namun, upaya tersebut digagalkan petugas gabungan.

Yakni, satpol PP, Polres Mojokerto, dan Dinas PU Sumber Daya Air Jatim. Bangunan ini diketahui milik Nur Kholis, 49. Petugas terpaksa merobohkan karena lokasi bangunan berada di bantaran Sungai Sadar.

’’Sebenarnya ada 59 bangunan tak berizin. Tapi, tinggal dua bangunan saja yang tidak mau dibongkar,’’ ungkap Kasi Pengawasan Dinas Pekerjaan Umum (PU) Provinsi Jawa Timur, Ruse Rante Pademme, kemarin.

Anggota tim Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) ini menyatakan, 57 dari 59 bangunan saat ini telah dibongkar sendiri oleh pemiliknya. Menyusul, keberadaan bangunan-bangunan tersebut juga diketahui berdiri di atas bantaran Sungai Sadar. Namun, tidak bagi dua bangunan lainnya. Salah satunya adalah rumah milik Nur Kholis. Selama ini, dia keukeuh menolak untuk membongkarnya sendiri. Dengan alasan, bangunan tersebut dimanfaatkan sebagai tempat tinggal dan mengaji.

Baca Juga :  Korban Masker Online Bertambah

Sebelumnya, Nur Kholis melalui tim pengacaranya pernah melayangkan gugatan ke Pengadilan Negeri (PN) Mojokerto. Namun, gugatan berisi tuntutan bangunan tersebut tidak berhak dibongkar oleh pemerintah, ditolak pengadilan. ’’Berbagai cara juga sudah kami lakukan. Mulai sosialisasi, surat peringatan satu sampai tiga juga sudah,’’ ujarnya.

Tindakan, persuasif, lanjut Ruse Rante Pademme, juga sudah dilakukan hingga beberapa kali. Namun, tidak pernah dihiraukan pemilik bangunan. Namun, karena BBWS dikejar deadline agar pembangunan parapet atau tanggul pembatas, petugas tidak punya pilihan lain. ’’Kami ada kerjaan untuk mengatasi banjir. Karena tinggal seminggu pekerjaan kami harus selesai, tapi hanya dihalangi satu bangunan. Sehingga hari ini (kemarin, Red) kami tertibkan,’’ tegasnya.

Perlawanan Nur Kholis dan para simpatisan tak membuat petugas menghentikan rencana pembongkaran. Alat berat tetap merobohkan bangunan dua lantai itu hingga rata dengan tanah.

Baca Juga :  Ini Foto Penggeledahan Pasutri dan Tante Pengedar Sabu

Pembongkaran dilakukan setelah semua perabotan rumah tangga dikeluarkan. ’’Saya sudah mengajukan ganti rugi atas bangunan ini ke BBWS Brantas, tapi tidak pernah diberi,’’ ungkap Nur Kholis, dengan nada kesal.

Dia mengaku membangun rumah dan tempat mengaji tersebut pada 2003 silam. Selama ini, bangunan ini dihuni keluarga, dan puluhan jamaah pengajian yang diasuhnya. Ia mengaku pendirian bangunan tersebut telah menghabiskan biaya Rp 600 juta.

Sementara, selama 16 tahun dia mengaku rutin membayar pajak kepada pemerintah. Meski selama ini dia tidak mempunyai sertifikat tanah tempat rumahnya berdiri. ’’Saya minta ganti rugi sesuai bangunan, Rp 600 juta. Sesuai dengan yang saya habiskan untuk membangun,’’ tambahnya.

Kuasa Hukum Nur Kholis, Yoko Laksono, menambahkan, pihaknya mengajukan gugatan ke PN Mojokerto. Dengan demikian, status bangunan yang dibongkar ini masih di atas tanah bersengketa. Namun, petugas memaksa membongkar. Sehingga, pihaknya pun akan melakukan upaya hukum lainnya. ’’Kami juga memohon hearing dengan DPRD Kabupaten Mojokerto. Minimal, supaya klien kami mendapatkan ganti rugi,’’ pungkasnya.

BANGSAL, Jawa Pos Radar Mojokerto – Bangunan rumah sekaligus difungsikan sebagai tempat mengaji di Desa Tinggarbuntut, Kecamatan Bangsal, Kabupaten Mojokerto, dibongkar paksa petugas gabungan, Senin (16/12).

Pembongkaran ini sempat mendapat perlawanan dari warga. Mereka juga mempertanyakan dasar hukum pembongkaran pada bangunan megah berlantai dua itu. Adu mulut antara petugas dengan warga tak bisa dihindari.

Bahkan, seorang warga nekat menerobos menuju alat berat dengan maksud ingin menghentikan pembongkaran. Namun, upaya tersebut digagalkan petugas gabungan.

Yakni, satpol PP, Polres Mojokerto, dan Dinas PU Sumber Daya Air Jatim. Bangunan ini diketahui milik Nur Kholis, 49. Petugas terpaksa merobohkan karena lokasi bangunan berada di bantaran Sungai Sadar.

’’Sebenarnya ada 59 bangunan tak berizin. Tapi, tinggal dua bangunan saja yang tidak mau dibongkar,’’ ungkap Kasi Pengawasan Dinas Pekerjaan Umum (PU) Provinsi Jawa Timur, Ruse Rante Pademme, kemarin.

Anggota tim Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) ini menyatakan, 57 dari 59 bangunan saat ini telah dibongkar sendiri oleh pemiliknya. Menyusul, keberadaan bangunan-bangunan tersebut juga diketahui berdiri di atas bantaran Sungai Sadar. Namun, tidak bagi dua bangunan lainnya. Salah satunya adalah rumah milik Nur Kholis. Selama ini, dia keukeuh menolak untuk membongkarnya sendiri. Dengan alasan, bangunan tersebut dimanfaatkan sebagai tempat tinggal dan mengaji.

Baca Juga :  Pura-Pura Membesuk, Nyelinap di Empat Rumah Sakit, Sambar Tas Pasien
- Advertisement -

Sebelumnya, Nur Kholis melalui tim pengacaranya pernah melayangkan gugatan ke Pengadilan Negeri (PN) Mojokerto. Namun, gugatan berisi tuntutan bangunan tersebut tidak berhak dibongkar oleh pemerintah, ditolak pengadilan. ’’Berbagai cara juga sudah kami lakukan. Mulai sosialisasi, surat peringatan satu sampai tiga juga sudah,’’ ujarnya.

Tindakan, persuasif, lanjut Ruse Rante Pademme, juga sudah dilakukan hingga beberapa kali. Namun, tidak pernah dihiraukan pemilik bangunan. Namun, karena BBWS dikejar deadline agar pembangunan parapet atau tanggul pembatas, petugas tidak punya pilihan lain. ’’Kami ada kerjaan untuk mengatasi banjir. Karena tinggal seminggu pekerjaan kami harus selesai, tapi hanya dihalangi satu bangunan. Sehingga hari ini (kemarin, Red) kami tertibkan,’’ tegasnya.

Perlawanan Nur Kholis dan para simpatisan tak membuat petugas menghentikan rencana pembongkaran. Alat berat tetap merobohkan bangunan dua lantai itu hingga rata dengan tanah.

Baca Juga :  Jelang Pelantikan Presiden Jokowi, Polisi Latihan Bersama

Pembongkaran dilakukan setelah semua perabotan rumah tangga dikeluarkan. ’’Saya sudah mengajukan ganti rugi atas bangunan ini ke BBWS Brantas, tapi tidak pernah diberi,’’ ungkap Nur Kholis, dengan nada kesal.

Dia mengaku membangun rumah dan tempat mengaji tersebut pada 2003 silam. Selama ini, bangunan ini dihuni keluarga, dan puluhan jamaah pengajian yang diasuhnya. Ia mengaku pendirian bangunan tersebut telah menghabiskan biaya Rp 600 juta.

Sementara, selama 16 tahun dia mengaku rutin membayar pajak kepada pemerintah. Meski selama ini dia tidak mempunyai sertifikat tanah tempat rumahnya berdiri. ’’Saya minta ganti rugi sesuai bangunan, Rp 600 juta. Sesuai dengan yang saya habiskan untuk membangun,’’ tambahnya.

Kuasa Hukum Nur Kholis, Yoko Laksono, menambahkan, pihaknya mengajukan gugatan ke PN Mojokerto. Dengan demikian, status bangunan yang dibongkar ini masih di atas tanah bersengketa. Namun, petugas memaksa membongkar. Sehingga, pihaknya pun akan melakukan upaya hukum lainnya. ’’Kami juga memohon hearing dengan DPRD Kabupaten Mojokerto. Minimal, supaya klien kami mendapatkan ganti rugi,’’ pungkasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/