alexametrics
23.8 C
Mojokerto
Sunday, May 22, 2022

Eks Kadis PUPR Zaenal Tak Sekadar Operator

JAKARTA, Jawa Pos Radar Mojokerto – Mantan Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Mojokerto Zaenal Abidin, tak sekadar menjadi operator Bupati Mojokerto Mustofa Kamal Pasa (MKP). Namun, ia juga ikut menikmati aliran dana yang mengalir dari sejumlah rekanan.

Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Firli Bahuri, mengatakan, Zaenal Abidin bersama seorang kontraktor, Eryk Armando Talla, mengatur pemenang-pemenang lelang yang dikehendaki. ’’Tersangka meminta kepada rekanan atas fee yang diminta Mustofa Kamal Pasa untuk dipenuhi rekanan,’’ ujarnya.

Fee proyek yang diberikan Eryk Armando Talla, ternyata tak seluruhnya diserahkan ke MKP. Namun, ia juga ikut menikmatinya. ’’Dan, tersangka juga menerima fee proyek dari rekanan yang mengerjakan proyek di Dinas PUPR Kabupaten Mojokerto tersebut,’’ beber Firli.

Tahap pertama, Zaenal diduga menikmati aliran dana haram senilai Rp 1,020 miliar. Dana yang diterima staf ahli Pemkab Mojokerto ini terjadi sebanyak gelombang. Yakni Rp 200 juta, Rp 120 juta, dan Rp 700 juta. Tahap kedua, Eryk Armando Talla kembali menyetorkan dana ke Zaenal sebesar Rp 100 juta.

Baca Juga :  KPK Sita 40 Tanah dan Bangunan Milik MKP

Dugaan suap proyek yang diterima MKP dari rekanan ini terjadi sepanjang Tahun 2011 hingga 2012. Zaenal dijerat Pasal 12 B Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Ketua lembaga antirasuah ini menambahkan, Zaenal dilakukan penahanan selama 20 hari ke depan. Dan, masih bisa diperpanjang 30 hari. ’’Segera kami sidangkan. KPK berharap, tak ada lagi penyelenggara negara yang menyalahgunakan kewenangannya mengambil uang rakyat karena sejatinya dia mengabdi untuk kemajuan rakyatnya bangsa dan negaranya NKRI tercinta,’’ kata Firli.

Baca Juga :  Diperiksa KPK, Pejabat Pemkab Kompak Irit Bicara

Penahanan terhadap Zaenal ini, juga sebagai bukti keseriusan KPK menyelesaikan kasus-kasus yang belum tuntas. ’’KPK tidak lemah dan kerja. Ini buktinya. Seorang pelaku tindak pidana korupsi harus mempertanggungjawabkan perbuatannya,’’ tegasnya.

Lalu siapa Eryk Armando Talla? Sejumlah sumber menceritakan, Eryk merupakan kontraktor ternama. Ia berulang-ulang harus berurusan dengan KPK. Sebelumnya, ia juga terseret kasus korupsi di Kabupaten Malang yang melibatkan Bupati Rendra Kresna. Eryk terbukti melakukan suap terhadap Rendra senilai Rp 3,5 miliar.

Di Kabupaten Mojokerto, Eryk menguasai sejumlah proyek besar saat MKP menjabat periode pertama. Deretan mega proyek digarap dengan menggunakan berbagai perusahaan kontraktor.

JAKARTA, Jawa Pos Radar Mojokerto – Mantan Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Mojokerto Zaenal Abidin, tak sekadar menjadi operator Bupati Mojokerto Mustofa Kamal Pasa (MKP). Namun, ia juga ikut menikmati aliran dana yang mengalir dari sejumlah rekanan.

Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Firli Bahuri, mengatakan, Zaenal Abidin bersama seorang kontraktor, Eryk Armando Talla, mengatur pemenang-pemenang lelang yang dikehendaki. ’’Tersangka meminta kepada rekanan atas fee yang diminta Mustofa Kamal Pasa untuk dipenuhi rekanan,’’ ujarnya.

Fee proyek yang diberikan Eryk Armando Talla, ternyata tak seluruhnya diserahkan ke MKP. Namun, ia juga ikut menikmatinya. ’’Dan, tersangka juga menerima fee proyek dari rekanan yang mengerjakan proyek di Dinas PUPR Kabupaten Mojokerto tersebut,’’ beber Firli.

Tahap pertama, Zaenal diduga menikmati aliran dana haram senilai Rp 1,020 miliar. Dana yang diterima staf ahli Pemkab Mojokerto ini terjadi sebanyak gelombang. Yakni Rp 200 juta, Rp 120 juta, dan Rp 700 juta. Tahap kedua, Eryk Armando Talla kembali menyetorkan dana ke Zaenal sebesar Rp 100 juta.

Baca Juga :  Jambret Ibu Rumah Tangga Asal Sooko, Arek Kangkungan Ditembak Polisi

Dugaan suap proyek yang diterima MKP dari rekanan ini terjadi sepanjang Tahun 2011 hingga 2012. Zaenal dijerat Pasal 12 B Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Ketua lembaga antirasuah ini menambahkan, Zaenal dilakukan penahanan selama 20 hari ke depan. Dan, masih bisa diperpanjang 30 hari. ’’Segera kami sidangkan. KPK berharap, tak ada lagi penyelenggara negara yang menyalahgunakan kewenangannya mengambil uang rakyat karena sejatinya dia mengabdi untuk kemajuan rakyatnya bangsa dan negaranya NKRI tercinta,’’ kata Firli.

Baca Juga :  KPK Sita 40 Tanah dan Bangunan Milik MKP
- Advertisement -

Penahanan terhadap Zaenal ini, juga sebagai bukti keseriusan KPK menyelesaikan kasus-kasus yang belum tuntas. ’’KPK tidak lemah dan kerja. Ini buktinya. Seorang pelaku tindak pidana korupsi harus mempertanggungjawabkan perbuatannya,’’ tegasnya.

Lalu siapa Eryk Armando Talla? Sejumlah sumber menceritakan, Eryk merupakan kontraktor ternama. Ia berulang-ulang harus berurusan dengan KPK. Sebelumnya, ia juga terseret kasus korupsi di Kabupaten Malang yang melibatkan Bupati Rendra Kresna. Eryk terbukti melakukan suap terhadap Rendra senilai Rp 3,5 miliar.

Di Kabupaten Mojokerto, Eryk menguasai sejumlah proyek besar saat MKP menjabat periode pertama. Deretan mega proyek digarap dengan menggunakan berbagai perusahaan kontraktor.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/