alexametrics
29.8 C
Mojokerto
Thursday, May 19, 2022

Toko Busana dan Konter Disegel

MOJOSARI, Jawa Pos Radar Mojokerto – Toko busana dan konter handphone di Pasar Legi, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto, disegel tim Gugus Tugas Covid-19, Senin (14/9). Penutupan paksa itu lantaran dua toko tersebut melanggar protokol kesehatan dengan tidak menyediakan tempat cuci tangan. Selain itu, petugas juga menjaring 60 pengguna jalan yang tidak memakai masker saat berkendara.

Kapolres Mojokerto AKBP Dony Alexander mengatakan, Operasi Yustisi sebagai upaya pemerintah mendisiplinkan masyarakat untuk tetap mematuhi protokol kesehatan dalam beraktivitas. Hal itu sesuai Peraturan Bupati (Perbup) Nomor 44 Tahun 2020 tentang Penegakan Disiplin Protokol Kesehatan dan Inpres Nomor 6 Tahun 2020 tentang Peningkatan Disiplin dan Penegakan Hukum Protokol Kesehatan dalam Pencegahan dan Pengendalian Covid-19. ’’Untuk itu, dalam upaya mendisiplinkan masyarakat, kami lakukan Operasi Yustisi dengan denda,’’ ungkapnya.

Namun, di hari pertama Operasi Yustisi yang berlangsung serentak ini masih tahapan imbauan, sosialisasi, edukasi, dan teguran lisan, serta tertulis. Sebab, bagi sebagian orang, kesadaran disiplin mematuhi protokol kesehatan masih rendah. Terbukti, dalam operasi yang berlangsung satu jam di Jalan Gajah Mada,  tepatnya di Pasar Legi Mojosari, petugas berhasil menjaring 60 pengendara tak memakai masker. Mereka yang melanggar pun lantas diminta membuat surat pernyatan untuk tidak mengulangi lagi. ’’Tapi, untuk selanjutnya pelanggar akan ditipiring yang melibatkan dari kejaksaan dan pengadilan negeri sesuai peraturan,’’ tegasnya.

Baca Juga :  Setelah Kerja Keras Tim Berhasil Selamatkan Uang Negara

Sesuai Perbup Nomor 44 Tahun 2020 tentang Penegakan Disiplin Protokol Kesehatan, dendanya pun sudah jelas. Yakni, Rp 50 ribu untuk perorangan, Rp 75 ribu untuk PKL, serta Rp 100 ribu untuk pelaku usaha yang skalanya lebih besar. ’’Dalam Operasi Yustisi ini, kami juga segel dua toko yang kedapatan tidak menyediakan tempat cuci tangan,’’ tegasnya.

Sehingga, untuk bisa berjualan kembali, petugas meminta pemilik usaha melengkapi tempat cuci tangan.

Asisten 1 Bupati Mojokerto Didik Chusnul Yakin menjelaskan, denda ini agar warga yang melanggar menjadi jera dan patuh untuk melakukan protokol kesehatan. Disebutkannya, denda nantinya juga akan berlaku sistem progresif. Artinya, bagi mereka yang kedapatan beberapa kali melanggar, tak menuntut kemungkinan denda akan dinaikkan. ’’Kadang-kadang orang meremehkan karena nilai denda kecil, kenaikannya bisa 100 persen,’’ ungkapnya.

Baca Juga :  Blokade Jalan, Aksi Mahasiswa Diwarnai Bentrokan

Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Kabupaten Mojokerto M. Hari Wahyudi menambahkan, hasil denda yang diterima dari pelanggar akan dimasukkan ke kas daerah. Sanksi denda yang dijatuhkan pada para pelnggar pun akan melalui proses sidang tipiring yang digelar bersama PN Mojokerto. ’’Dari denda itu akan kita setor ke negara menjadi kas daerah,’’ ungkapnya.

MOJOSARI, Jawa Pos Radar Mojokerto – Toko busana dan konter handphone di Pasar Legi, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto, disegel tim Gugus Tugas Covid-19, Senin (14/9). Penutupan paksa itu lantaran dua toko tersebut melanggar protokol kesehatan dengan tidak menyediakan tempat cuci tangan. Selain itu, petugas juga menjaring 60 pengguna jalan yang tidak memakai masker saat berkendara.

Kapolres Mojokerto AKBP Dony Alexander mengatakan, Operasi Yustisi sebagai upaya pemerintah mendisiplinkan masyarakat untuk tetap mematuhi protokol kesehatan dalam beraktivitas. Hal itu sesuai Peraturan Bupati (Perbup) Nomor 44 Tahun 2020 tentang Penegakan Disiplin Protokol Kesehatan dan Inpres Nomor 6 Tahun 2020 tentang Peningkatan Disiplin dan Penegakan Hukum Protokol Kesehatan dalam Pencegahan dan Pengendalian Covid-19. ’’Untuk itu, dalam upaya mendisiplinkan masyarakat, kami lakukan Operasi Yustisi dengan denda,’’ ungkapnya.

Namun, di hari pertama Operasi Yustisi yang berlangsung serentak ini masih tahapan imbauan, sosialisasi, edukasi, dan teguran lisan, serta tertulis. Sebab, bagi sebagian orang, kesadaran disiplin mematuhi protokol kesehatan masih rendah. Terbukti, dalam operasi yang berlangsung satu jam di Jalan Gajah Mada,  tepatnya di Pasar Legi Mojosari, petugas berhasil menjaring 60 pengendara tak memakai masker. Mereka yang melanggar pun lantas diminta membuat surat pernyatan untuk tidak mengulangi lagi. ’’Tapi, untuk selanjutnya pelanggar akan ditipiring yang melibatkan dari kejaksaan dan pengadilan negeri sesuai peraturan,’’ tegasnya.

Baca Juga :  Operasi Yustisi Makin Ketat, Satpol PP Pertebal Personil

Sesuai Perbup Nomor 44 Tahun 2020 tentang Penegakan Disiplin Protokol Kesehatan, dendanya pun sudah jelas. Yakni, Rp 50 ribu untuk perorangan, Rp 75 ribu untuk PKL, serta Rp 100 ribu untuk pelaku usaha yang skalanya lebih besar. ’’Dalam Operasi Yustisi ini, kami juga segel dua toko yang kedapatan tidak menyediakan tempat cuci tangan,’’ tegasnya.

Sehingga, untuk bisa berjualan kembali, petugas meminta pemilik usaha melengkapi tempat cuci tangan.

Asisten 1 Bupati Mojokerto Didik Chusnul Yakin menjelaskan, denda ini agar warga yang melanggar menjadi jera dan patuh untuk melakukan protokol kesehatan. Disebutkannya, denda nantinya juga akan berlaku sistem progresif. Artinya, bagi mereka yang kedapatan beberapa kali melanggar, tak menuntut kemungkinan denda akan dinaikkan. ’’Kadang-kadang orang meremehkan karena nilai denda kecil, kenaikannya bisa 100 persen,’’ ungkapnya.

Baca Juga :  Blokade Jalan, Aksi Mahasiswa Diwarnai Bentrokan
- Advertisement -

Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Kabupaten Mojokerto M. Hari Wahyudi menambahkan, hasil denda yang diterima dari pelanggar akan dimasukkan ke kas daerah. Sanksi denda yang dijatuhkan pada para pelnggar pun akan melalui proses sidang tipiring yang digelar bersama PN Mojokerto. ’’Dari denda itu akan kita setor ke negara menjadi kas daerah,’’ ungkapnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/