alexametrics
24.8 C
Mojokerto
Friday, May 27, 2022

Penularan TBC di Lapas Mengkhawatirkan

KOTA, Jawa Pos Radar Mojokerto – Tingkat penderita penyakit tubekulosis (TBC) di Lapas Kelas IIB Mojokerto mengkhawatirkan. Sepanjang tahun 2021, sebanyak 371 warga binaan tercatat mengalami gejala penyakit menular tersebut. 10 orang di antaranya  hingga kini menjalani perawatan lantaran terdiagnosis mengidap TBC aktif.

Masifnya penularan TBC tak lepas dari kondisi lapas yang mengalami overkapasitas hingga 300 persen. Per kemarin (14/1), jumlah warga binaan yang menampung tahanan dan narapidana (napi) dari dua wilayah hukum di Mojokerto ini mencapai 977 orang. Angka ini hampir tiga kali lipat lebih banyak dari kapasitas normal, yakni 344 orang. ’’Overkapasitas sangat memungkinkan penularannya (penyakit TBC) sangat cepat,’’ ungkap Udin Agus, perawat Klinik Lapas Klas IIB Mojokerto kemarin.

Banyaknya penghuni lapas membuat kamar hunian penuh sesak. Situasi yang menuntut warga binaan terpaksa tinggal secara berdesakan ini menyimpan ancaman kesehatan. Salah satunya penularan TBC.

Udin menyebut, sepanjang tahun lalu, sebanyak 371 warga binaan terdeteksi mengalami gejala TBC. Seperti batuk berdahak lebih dari dua minggu, lemas, nafsu makan turun, hingga mengeluarkan keringat dingin. Mereka diambil sampel dahak untuk kemudian dilakukan tes cepat molekuler (TCM) di Labkesda Kota Mojokerto. Tes tersebut untuk mendiagnosis apakah pasien positif mengalami TBC atau tidak. ’’371 itu yang kita curigai suspek TBC sepanjang tahun kemarin. Untuk total yang terkonfirmasi TBC saya lupa. Jumlahnya banyak,’’ ujarnya.

Baca Juga :  Diparkir, Avanza Nyemplung ke Sungai

Yang pasti, lanjut Udin, hingga saat ini sebanyak 10 pasien TBC aktif masih menjalani perawatan. Mereka ditempatkan di sel khusus untuk warga binaan yang mengalami sakit. Menurutnya, tingkat TBC kesepuluh warga binaan ini bervariasi. Lama proses pengobatan mereka juga bergantung tingkat keterparahan. Mulai dari 6 bulan dengan tingkat rendah sampai satu tahun lebih bagi penderita akut.

Udin mengatakan, sejauh ini belum sampai ada warga binaan yang mengidap TBC berakibat meninggal. Yang paling parah, menurutnya, pasien TBC dengan tingkat kerusakan pada bagian paru-paru. ’’Paru-paru kanannya terendam 1000 cc. Hari Selasa (11/1) kita bawa ke poli paru RSUD (Kota Mojokerto). Hasilya, paru-parunya ada cairan seperti nanah,’’ beber dia.

Baca Juga :  Aneh, Jumlah Uang ATM BCA yang Dibobol Terdakwa Berkurang

Di luar itu, klinik lapas yang hanya memiliki dua perawat, dia dan satu orang lain, bisa melayani 30-40 pasien setiap hari. Selain perawatan intensif, kerentanan penularan diantisipasi dengan pelacakan terhadap penghuni lain yang tinggal sekamar dengan pasien yang mengalami gejala TBC. Mengingat penularan TBC umunya terjadi lewat udara. ’’Dengan situasi pemukiman yang padat jelas rentan. Kami harus waspada,’’ terang Udin.

Kasi Binadik Lapas Kelas IIB Mojokerto Bayu Noviyanto menjelaskan, upaya pencegahan penularan TBC dilakukan dengan menggerakkan para tamping untuk mengajak warga binaan lain memeriksa kesehatannya secara rutin ke klinik lapas. Selain itu, kegiatan sosialisasi tanggap TBC untuk memberi pengetahuan tentang penyakit menular tersebut sekaligu meningkatkan kewaspadaan. ’’Termasuk upaya pencegahan dan apa yang harus dilakukan jika mengalami gejala TBC. Sosialisasi ini kami lakukan secara rutin dan berkala,’’ jelasnya. (adi/abi)

 

 

KOTA, Jawa Pos Radar Mojokerto – Tingkat penderita penyakit tubekulosis (TBC) di Lapas Kelas IIB Mojokerto mengkhawatirkan. Sepanjang tahun 2021, sebanyak 371 warga binaan tercatat mengalami gejala penyakit menular tersebut. 10 orang di antaranya  hingga kini menjalani perawatan lantaran terdiagnosis mengidap TBC aktif.

Masifnya penularan TBC tak lepas dari kondisi lapas yang mengalami overkapasitas hingga 300 persen. Per kemarin (14/1), jumlah warga binaan yang menampung tahanan dan narapidana (napi) dari dua wilayah hukum di Mojokerto ini mencapai 977 orang. Angka ini hampir tiga kali lipat lebih banyak dari kapasitas normal, yakni 344 orang. ’’Overkapasitas sangat memungkinkan penularannya (penyakit TBC) sangat cepat,’’ ungkap Udin Agus, perawat Klinik Lapas Klas IIB Mojokerto kemarin.

Banyaknya penghuni lapas membuat kamar hunian penuh sesak. Situasi yang menuntut warga binaan terpaksa tinggal secara berdesakan ini menyimpan ancaman kesehatan. Salah satunya penularan TBC.

Udin menyebut, sepanjang tahun lalu, sebanyak 371 warga binaan terdeteksi mengalami gejala TBC. Seperti batuk berdahak lebih dari dua minggu, lemas, nafsu makan turun, hingga mengeluarkan keringat dingin. Mereka diambil sampel dahak untuk kemudian dilakukan tes cepat molekuler (TCM) di Labkesda Kota Mojokerto. Tes tersebut untuk mendiagnosis apakah pasien positif mengalami TBC atau tidak. ’’371 itu yang kita curigai suspek TBC sepanjang tahun kemarin. Untuk total yang terkonfirmasi TBC saya lupa. Jumlahnya banyak,’’ ujarnya.

Baca Juga :  Diparkir, Avanza Nyemplung ke Sungai

Yang pasti, lanjut Udin, hingga saat ini sebanyak 10 pasien TBC aktif masih menjalani perawatan. Mereka ditempatkan di sel khusus untuk warga binaan yang mengalami sakit. Menurutnya, tingkat TBC kesepuluh warga binaan ini bervariasi. Lama proses pengobatan mereka juga bergantung tingkat keterparahan. Mulai dari 6 bulan dengan tingkat rendah sampai satu tahun lebih bagi penderita akut.

Udin mengatakan, sejauh ini belum sampai ada warga binaan yang mengidap TBC berakibat meninggal. Yang paling parah, menurutnya, pasien TBC dengan tingkat kerusakan pada bagian paru-paru. ’’Paru-paru kanannya terendam 1000 cc. Hari Selasa (11/1) kita bawa ke poli paru RSUD (Kota Mojokerto). Hasilya, paru-parunya ada cairan seperti nanah,’’ beber dia.

Baca Juga :  Aneh, Jumlah Uang ATM BCA yang Dibobol Terdakwa Berkurang
- Advertisement -

Di luar itu, klinik lapas yang hanya memiliki dua perawat, dia dan satu orang lain, bisa melayani 30-40 pasien setiap hari. Selain perawatan intensif, kerentanan penularan diantisipasi dengan pelacakan terhadap penghuni lain yang tinggal sekamar dengan pasien yang mengalami gejala TBC. Mengingat penularan TBC umunya terjadi lewat udara. ’’Dengan situasi pemukiman yang padat jelas rentan. Kami harus waspada,’’ terang Udin.

Kasi Binadik Lapas Kelas IIB Mojokerto Bayu Noviyanto menjelaskan, upaya pencegahan penularan TBC dilakukan dengan menggerakkan para tamping untuk mengajak warga binaan lain memeriksa kesehatannya secara rutin ke klinik lapas. Selain itu, kegiatan sosialisasi tanggap TBC untuk memberi pengetahuan tentang penyakit menular tersebut sekaligu meningkatkan kewaspadaan. ’’Termasuk upaya pencegahan dan apa yang harus dilakukan jika mengalami gejala TBC. Sosialisasi ini kami lakukan secara rutin dan berkala,’’ jelasnya. (adi/abi)

 

 

Artikel Terkait

Most Read

Berpotensi Muncul Bencana Susulan

Galakkan Pengabdian Kader

Ukur Kekuatan 12 Pecatur

Artikel Terbaru


/