alexametrics
23.8 C
Mojokerto
Thursday, May 26, 2022

Kejari Usut Proyek Irigasi, Kepala Disperta Dinas Diperiksa

MOJOKERTO – Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Mojokerto tengah memelototi dugaan penyelewengan proyek pembangunan jaringan irigasi yang dilakukan dinas pertanian (disperta).

Kini, korps Adhyaksa ini pun, tengah sibuk memeriksa sejumlah pejabat yang disinyalir terlibat. Data yang dihimpun Jawa Pos Radar Mojokerto, menyebut, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), hingga Kepala Disperta Sulistyawati, sudah berulang-ulang keluar masuk gedung kejari di Jalan RA Basuni, Sooko.

Mereka mendatangi penyidik dan diperiksa atas sederet proyek yang telah dilakukan sepanjang tahun 2016 itu. Di tahun itu, Disperta Kabupaten Mojokerto mendapat jatah proyek sebesar Rp 29,3 miliar. Anggaran yang bersumber dari APBD tersebut, didominasi pembangunan jaringan irigasi.

Mulai dari pengembangan jaringan irigasi tersier, rehabilitasi jaringan irigasi tersier, irigasi air tanah dangkal, hingga pembangunan irigasi air permukaan. Dari total 131 kegiatan di disperta, pembangunan irigasi tersebut mencapai 109 titik.

Baca Juga :  Graha Poppy Jadi Perhatian Forkopimda, Izin Usaha Dikaji

Sementara, sisanya untuk pembangunan Jalan Usaha Tani (JUT), rehabilitasi gedung Balai Penyuluhan Petani (BPP), dan proyek penerapan budidaya jagung. Besaran dana yang digelontorkan untuk proyek sebanyak itu kisaran Rp 80 juta hingga nilai tertinggi sebesar Rp 190 juta.

Kejari mencurigai, tingginya dana yang disuntikkan untuk pembangunan irigasi tersebut, sarat penyelewengan. Karena, penyidik menemukan sejumlah sumur yang telah rampung dibangun tiga tahun lalu itu, kini sudah tak bisa dimanfaatkan. Sumur mengalami kekeringan.

Kasi Intelijen Kejari Kabupaten Mojokerto Nugroho Wisnu Pujoyono, SH, saat dikonfirmasi terkait terjunnya korps Adhyaksa ke disperta, tak membantah sedikit pun. Ia menyebut, terjunnya penyelidik tersebut masih dalam proses pulbaket (pengumpulan data dan keterangan). ’’Terkait irigasi dinas pertanian. Masih lidik,’’ katanya, kemarin.

Baca Juga :  Selama Ramadan, Angka Kecelakaan Turun

Ia menegaskan, untuk mendalami proses penyelidikan, sejumlah orang sudah dimintai keterangan. Bahkan, beberapa penyidik sudah terjun ke lokasi proyek. ’’Belum naik ke dik (penyidikan). Belum,’’ pungkas Wisnu.

 

MOJOKERTO – Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Mojokerto tengah memelototi dugaan penyelewengan proyek pembangunan jaringan irigasi yang dilakukan dinas pertanian (disperta).

Kini, korps Adhyaksa ini pun, tengah sibuk memeriksa sejumlah pejabat yang disinyalir terlibat. Data yang dihimpun Jawa Pos Radar Mojokerto, menyebut, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), hingga Kepala Disperta Sulistyawati, sudah berulang-ulang keluar masuk gedung kejari di Jalan RA Basuni, Sooko.

Mereka mendatangi penyidik dan diperiksa atas sederet proyek yang telah dilakukan sepanjang tahun 2016 itu. Di tahun itu, Disperta Kabupaten Mojokerto mendapat jatah proyek sebesar Rp 29,3 miliar. Anggaran yang bersumber dari APBD tersebut, didominasi pembangunan jaringan irigasi.

Mulai dari pengembangan jaringan irigasi tersier, rehabilitasi jaringan irigasi tersier, irigasi air tanah dangkal, hingga pembangunan irigasi air permukaan. Dari total 131 kegiatan di disperta, pembangunan irigasi tersebut mencapai 109 titik.

Baca Juga :  Graha Poppy Jadi Perhatian Forkopimda, Izin Usaha Dikaji

Sementara, sisanya untuk pembangunan Jalan Usaha Tani (JUT), rehabilitasi gedung Balai Penyuluhan Petani (BPP), dan proyek penerapan budidaya jagung. Besaran dana yang digelontorkan untuk proyek sebanyak itu kisaran Rp 80 juta hingga nilai tertinggi sebesar Rp 190 juta.

Kejari mencurigai, tingginya dana yang disuntikkan untuk pembangunan irigasi tersebut, sarat penyelewengan. Karena, penyidik menemukan sejumlah sumur yang telah rampung dibangun tiga tahun lalu itu, kini sudah tak bisa dimanfaatkan. Sumur mengalami kekeringan.

- Advertisement -

Kasi Intelijen Kejari Kabupaten Mojokerto Nugroho Wisnu Pujoyono, SH, saat dikonfirmasi terkait terjunnya korps Adhyaksa ke disperta, tak membantah sedikit pun. Ia menyebut, terjunnya penyelidik tersebut masih dalam proses pulbaket (pengumpulan data dan keterangan). ’’Terkait irigasi dinas pertanian. Masih lidik,’’ katanya, kemarin.

Baca Juga :  Proyek Normalisasi Waduk Randegan Tak Butuh Biaya

Ia menegaskan, untuk mendalami proses penyelidikan, sejumlah orang sudah dimintai keterangan. Bahkan, beberapa penyidik sudah terjun ke lokasi proyek. ’’Belum naik ke dik (penyidikan). Belum,’’ pungkas Wisnu.

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/