Rabu, 27 Oct 2021
Radar Mojokerto
Home / Hukum & Kriminal
icon featured
Hukum & Kriminal

Tak Bayar Pajak, Rumah Makan Disegel

Sejak 2017, Tunggakan Mencapai Rp 148 Juta

12 Oktober 2021, 08: 00: 59 WIB | editor : Fendy Hermansyah

Tak Bayar Pajak, Rumah Makan Disegel

DITINDAK: Petugas Satpol PP memasang banner penyegelan Warung Bebek Sagu, di Jalan , di Jalan Raya Desa Terusan, Kecamatan Gedeg, kemarin. (Yulianto Adi Nugroho/jawaposradarmojokerto.id)

Share this      

GEDEG, Jawa Pos Radar Mojokerto – Satpol PP Kabupaten Mojokerto menyegel Warung Bebek Sagu, di Jalan Raya Desa Terusan, Kecamatan Gedeg, Senin (11/10). Penutupan dilakukan lantaran rumah makan tersebut tidak membayar pajak sejak 2017. Nilai tunggakannya mencapai Rp 148 juta.

Tempat makan yang berada di seberang Kantor Kecamatan Gedeg ini dipasangi banner bertuliskan lokasi objek pajak ditutup. Petugas juga memasang garis satpol PP di warung yang memiliki 23 cabang tersebut.

Kabid Penegakan Perda Satpol PP Kabupaten Akhmad Samsul Bakri mengatakan, penutupan secara paksa ini dilakukan karena pemilik tidak membayar Pajak Restoran. Berdasarkan laporan Badan Pendapatan Hasil Daerah (Bapenda), tunggakan pajak sebesar 10 persen itu terjadi sejak tahun 2017. ”Mulai tahun 2017 sampai tahun ini tanggungannya Rp 148 juta. Setelah kita proses, ternyata perkembangan dari pembayaran tagihan itu tidak signifikan. Sehingga kami dari satpol PP sebagai penegak perda diminta Dispenda (Bapenda) untuk melakukan penutupan,” terangnya.

Baca juga: Kantor Layanan Kepolisian Dipasang PeduliLindungi

Ditegaskan Bakri, penghentian kegiatan operasional sementara sesuai dengan Perda Kabupaten Mojokerto Nomor 1 Tahun 2018 Tentang Perubahan Keempat Atas Perda Nomor 1 Tahun 2011 Tentang Pajak Daerah. Tunggakan senilai ratusan juta itu, lanjutnya, juga menjadi temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) pada tahun 2017. Sehingga pihaknya berkewajiban melakukan penagihan.

Upaya peringatan hingga non-yudisial seperti negosiasi sudah dilakukan berkali-kali. Namun, pemilik tak kunjung melunasi. ”Penyegelan ini dilakukan sampai pemilik menyelesaikan tunggakannya,” ujar.

Samsul Huda, pemilik Warung Bebek Sagu menyatakan, tunggakan tersebut memang belum terlunasi. Pihaknya baru membayar sekitar Rp 40 juta dari total tagihan Rp 148 juta atau kurang dari 30 persen dari angka hasil negosiasi dengan pihak pemkab. ”Kami minta negosiasi. Diminta membayar minimal 30 persen dulu. Sebenarnya kami ya menyesalkan tindakan ini. Tapi bagaimana lagi,” ungkap Samsul.

Selama ini, lanjut dia, rumah makan tidak pernah menarik pajak 10 persen kepada pelanggan. Namun, rupanya hal itu justru menjadi tunggakan pajak ke pemkab. Hal ini berdasarkan perekaman tapping box atau alat sadap transaksi yang dipasang Bapenda di restoran ini.

Dari alat yang dipasang sejak 2017 itu, kewajiban pajak yang harus dibayarnya melonjak tajam. Dari nilai pajak yang biasanya hanya sekitar Rp 500 ribu menjadi Rp 5 juta-Rp 9 juta. ”Dikasih alat tapping box itu dihitung kan setiap pembeli. Per bulan saya kena Rp 9 juta-an. Kita kan keberatan kalau segitu,” ujar dia.

Dia tak membayar karena merasa keberatan. Selain nilainya besar, usahanya juga sedang sekarat. Dari 23 cabang, kini tinggal enam yang buka. Bahkan, warung makan yang disegel ini juga sudah dipasangi papan pengumuman untuk dijual. (adi/ron)

(mj/ADI/fen/JPR)

 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia