alexametrics
27.8 C
Mojokerto
Saturday, May 21, 2022

Proyek Betonisasi Desa Lolawang Diusut

Hanya Dikerjakan Separo, Kejari Mulai Pulbaket

KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Kejaksaan Negeri Kabupaten mulai mengusut dugaan korupsi di Desa Lolawang, Kecamatan Ngoro. Dugaan kerugian negara mencapai Rp 300 juta. ’’Saat ini kejaksaan sedang melakukan penyelidikan dugaan korupsi BK Desa Lolawang, dengan nilai Rp 300 juta,’’ ungkap Kasi Intel Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Mojokerto M. Indra Subrata.

Pengusutan penyelewengan bantuan keuangan (BK) desa ini tak lepas dari pengaduan masyarakat yang diterima korps Adhyaksa. Dalam laporannya, desa ini diduga tidak menyelesaikan bangunan fisik yang sudah didanai dari APBD 2021. ’’Pengerjaan jalan cor dengan anggaran Rp 300 juta itu tidak selesai, hanya diselesaikan separo saja,’’ tambahnya.

Sebagai tindak lanjut, penyidik tengah melakukan pengumpulan barang bukti dan keterangan saksi. Hal itu menjadi pijakan kejaksaan mangambil langkah selanjutnya. Pulbaket ini juga untuk mencari adanya unsur pidana. ’’Jadi kami belum bisa memberikan informasi lebih jauh. Kita periksa dulu berkasnya, kalau kita temukan kejanggalan, baru akan kita lakukan pemanggilan pihak-pihak yang diduga terlibat sebagai saksi,’’ paparnya.

Baca Juga :  Jaringan Lapas Madiun Dibongkar, Rekam Pesta Sabu dengan Handphone

Pengusutan dugaan korupsi di Lolawang ini menambah daftar panjang desa bermasalah di Kabupaten Mojokerto. Desa yang juga tengah dalam penelusuran APH adalah Desa Sumengko, Kecamatan Jatirejo. Kadesnya disinyalir melakukan penyelewengan Dana Desa (DD) tahun anggaran 2020. Bahkan, berdasarkan hasil pemeriksaan inspektorat, kasus ini mengalami kerugian negara Rp 212 juta.

Desa ini diduga melakukan mark up atau mencairkan anggaran di sejumlah kegiatan, namun tidak dilaksanakan sesuai dengan RAB. Di antaranya, belanja tidak sesuai ketentuan sekitar Rp 24 juta, setoran pajak terutang sekitar Rp 49 juta, hingga pembangunan penerangan jalan, musala, gudang pertanian dan perpustakaan sekitar Rp 136 juta.

Selain itu. Agustus 2021, Polres Mojokerto juga menjebloskan mantan Kades Dukuhngarjo, Kecamatan Jatirejo atas dugaan korupsi dana desa tahun anggaran 2019. Tak sendirian, Ali Irsad, 53, ini masuk sel tahanan bersama mantan Sekretaris Desa Manting, Jatirejo, Supendik Bambang Irawan, 50, yang merupakan rekanan.

Baca Juga :  Klaim Semua Pemohon Tidak Keberatan

Keduanya bersekongkol memperkaya diri dan merugikan keuangan negara sebesar Rp 712 juta. Di 2021 juga, mantan Kades Sumberwuluh, Kecamatan Dawarblandong Riyantono, 43, juga masuk jeruji besi setelah diduga melakukan tindak pidana korupsi DD TA 2018 senilai Rp 274 juta. (ori/ron)

Hanya Dikerjakan Separo, Kejari Mulai Pulbaket

KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Kejaksaan Negeri Kabupaten mulai mengusut dugaan korupsi di Desa Lolawang, Kecamatan Ngoro. Dugaan kerugian negara mencapai Rp 300 juta. ’’Saat ini kejaksaan sedang melakukan penyelidikan dugaan korupsi BK Desa Lolawang, dengan nilai Rp 300 juta,’’ ungkap Kasi Intel Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Mojokerto M. Indra Subrata.

Pengusutan penyelewengan bantuan keuangan (BK) desa ini tak lepas dari pengaduan masyarakat yang diterima korps Adhyaksa. Dalam laporannya, desa ini diduga tidak menyelesaikan bangunan fisik yang sudah didanai dari APBD 2021. ’’Pengerjaan jalan cor dengan anggaran Rp 300 juta itu tidak selesai, hanya diselesaikan separo saja,’’ tambahnya.

Sebagai tindak lanjut, penyidik tengah melakukan pengumpulan barang bukti dan keterangan saksi. Hal itu menjadi pijakan kejaksaan mangambil langkah selanjutnya. Pulbaket ini juga untuk mencari adanya unsur pidana. ’’Jadi kami belum bisa memberikan informasi lebih jauh. Kita periksa dulu berkasnya, kalau kita temukan kejanggalan, baru akan kita lakukan pemanggilan pihak-pihak yang diduga terlibat sebagai saksi,’’ paparnya.

Baca Juga :  Polisi Bakal Panggil Pemohon

Pengusutan dugaan korupsi di Lolawang ini menambah daftar panjang desa bermasalah di Kabupaten Mojokerto. Desa yang juga tengah dalam penelusuran APH adalah Desa Sumengko, Kecamatan Jatirejo. Kadesnya disinyalir melakukan penyelewengan Dana Desa (DD) tahun anggaran 2020. Bahkan, berdasarkan hasil pemeriksaan inspektorat, kasus ini mengalami kerugian negara Rp 212 juta.

Desa ini diduga melakukan mark up atau mencairkan anggaran di sejumlah kegiatan, namun tidak dilaksanakan sesuai dengan RAB. Di antaranya, belanja tidak sesuai ketentuan sekitar Rp 24 juta, setoran pajak terutang sekitar Rp 49 juta, hingga pembangunan penerangan jalan, musala, gudang pertanian dan perpustakaan sekitar Rp 136 juta.

- Advertisement -

Selain itu. Agustus 2021, Polres Mojokerto juga menjebloskan mantan Kades Dukuhngarjo, Kecamatan Jatirejo atas dugaan korupsi dana desa tahun anggaran 2019. Tak sendirian, Ali Irsad, 53, ini masuk sel tahanan bersama mantan Sekretaris Desa Manting, Jatirejo, Supendik Bambang Irawan, 50, yang merupakan rekanan.

Baca Juga :  Sambil Bawa Linggis, Ini Gambar Tiga Pelaku saat Membobol Dua Brankas

Keduanya bersekongkol memperkaya diri dan merugikan keuangan negara sebesar Rp 712 juta. Di 2021 juga, mantan Kades Sumberwuluh, Kecamatan Dawarblandong Riyantono, 43, juga masuk jeruji besi setelah diduga melakukan tindak pidana korupsi DD TA 2018 senilai Rp 274 juta. (ori/ron)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/