alexametrics
24.8 C
Mojokerto
Saturday, May 28, 2022

Nasabah Direkrut Dari Jamaah Pengajian

Penyelidikan kasus investasi bodong diduga dilakukan PT Rofiq Habifah Sukses (RHS) Group terus menunjukkan perkembangan. Belakangan diketahui selain bermodus bagi hasil 5-10 persen, untuk menjaring investor, disinyalir para pelaku senagaja memanfaatkan forum-forum jamaah pengajian rutin.

’’Rekrutmennya ternyata lewat jamaah pengajian,’’ ungkap kuasa hukum para korban, Tuty Rahayu Laremba, SH, kemarin. Modus itu diduga membuat para investor mudah terjebak dalam pusaran investasi PT RHS dan Bisham tersebut. ’’Apalagi, dalam struktur kepengurusan, di dalamnya diduga ada tokoh agama berpengaruh,’’ tambahnya.

Modus jamaah pengajian ini terungkap dari sejumlah korban yang saat ini menjadi klien Tuty Rahayu. Artinya, dari ratusan korban yang sudah resmi melapor ke Mapolresta Mojokerto, banyak yang mengaku sebelumnya direkrut melalui jamaah pengajian.

Baca Juga :  Polisi Dalami Aliran Dana Investasi, Polisi Periksa Ulang Investor

Dengan embel-embel agamis, dan memanfaatkan ketokohan. Sehingga membuat mereka dengan mudah mempercayai. Yang mengejutkan, lanjut Tuty, melalui pengajian itu seolah-olah investasi tersebut untuk kemaslahatan umat. ’’Artinya, selain keuntungan, ada pahala yang didapat.

Memang, pelaku selalu mengatakan tujuan investasi itu untuk kemaslahatan masyarakat,’’ paparnya. Namun, seiring berjalannya waktu, bukan untung dan pahala yang didapat. Justru kesialan yang diterima. Terbukti, dari sejumlah uang yang diinvestasikan para korban, bagi hasilnya mengalami kemacetan.

Pun demikian dengan uang investasi mereka. Hilang tak kembali. Bahkan, nilai kerugian sementara dialami ratusan korban mencapai Rp 7 miliar. Tuty Rahayu menegaskan, rekrutmen melalui pengajian tidak hanya sekali saja dilakukan manajemen PT RHS. Dengan berpindah-pindah lokasi forum pengajian, tak jarang para jamaah terjebak di pusaran investasi diduga fiktif ini.

Baca Juga :  Telur Busuk Gagal Edar

Sebab, dengan cara pengajian tersebut sebagian dari mereka justru mudah tertarik. ’’Itu yang kemarin diungkapkan para korban. Dalam strutur kepengurusan juga ada tim syiar (marketing, Red). Di tim ini ada beberapa tokoh masyarakat. Termasuk, dewan penasihat juga merupakan tokoh (agama),’’ jelasnya. Terlepas dari itu, imbuh Tuty Rahayu, sebagai kelengkapan, belakangan pelaku pihaknya menyerahkan alat bukti baru. Alat bukti baru ini merupakan skema kepengurusan. Di dalamnya termasuk ada tim sembilan. ’’Bukan hanya direktur dan kepala cabang, tapi ada tim sembilan. Indikasinya, tim ini ada keterlibatan,’’ tandasnya.

Penyelidikan kasus investasi bodong diduga dilakukan PT Rofiq Habifah Sukses (RHS) Group terus menunjukkan perkembangan. Belakangan diketahui selain bermodus bagi hasil 5-10 persen, untuk menjaring investor, disinyalir para pelaku senagaja memanfaatkan forum-forum jamaah pengajian rutin.

’’Rekrutmennya ternyata lewat jamaah pengajian,’’ ungkap kuasa hukum para korban, Tuty Rahayu Laremba, SH, kemarin. Modus itu diduga membuat para investor mudah terjebak dalam pusaran investasi PT RHS dan Bisham tersebut. ’’Apalagi, dalam struktur kepengurusan, di dalamnya diduga ada tokoh agama berpengaruh,’’ tambahnya.

Modus jamaah pengajian ini terungkap dari sejumlah korban yang saat ini menjadi klien Tuty Rahayu. Artinya, dari ratusan korban yang sudah resmi melapor ke Mapolresta Mojokerto, banyak yang mengaku sebelumnya direkrut melalui jamaah pengajian.

Baca Juga :  Telur Busuk Gagal Edar

Dengan embel-embel agamis, dan memanfaatkan ketokohan. Sehingga membuat mereka dengan mudah mempercayai. Yang mengejutkan, lanjut Tuty, melalui pengajian itu seolah-olah investasi tersebut untuk kemaslahatan umat. ’’Artinya, selain keuntungan, ada pahala yang didapat.

- Advertisement -

Memang, pelaku selalu mengatakan tujuan investasi itu untuk kemaslahatan masyarakat,’’ paparnya. Namun, seiring berjalannya waktu, bukan untung dan pahala yang didapat. Justru kesialan yang diterima. Terbukti, dari sejumlah uang yang diinvestasikan para korban, bagi hasilnya mengalami kemacetan.

Pun demikian dengan uang investasi mereka. Hilang tak kembali. Bahkan, nilai kerugian sementara dialami ratusan korban mencapai Rp 7 miliar. Tuty Rahayu menegaskan, rekrutmen melalui pengajian tidak hanya sekali saja dilakukan manajemen PT RHS. Dengan berpindah-pindah lokasi forum pengajian, tak jarang para jamaah terjebak di pusaran investasi diduga fiktif ini.

Baca Juga :  Korban Bullying Dapat Pendampingan Pemda

Sebab, dengan cara pengajian tersebut sebagian dari mereka justru mudah tertarik. ’’Itu yang kemarin diungkapkan para korban. Dalam strutur kepengurusan juga ada tim syiar (marketing, Red). Di tim ini ada beberapa tokoh masyarakat. Termasuk, dewan penasihat juga merupakan tokoh (agama),’’ jelasnya. Terlepas dari itu, imbuh Tuty Rahayu, sebagai kelengkapan, belakangan pelaku pihaknya menyerahkan alat bukti baru. Alat bukti baru ini merupakan skema kepengurusan. Di dalamnya termasuk ada tim sembilan. ’’Bukan hanya direktur dan kepala cabang, tapi ada tim sembilan. Indikasinya, tim ini ada keterlibatan,’’ tandasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/