alexametrics
27.8 C
Mojokerto
Thursday, May 26, 2022

Gapura ala Majapahitan Ambruk, Enam Orang Diperiksa

SOOKO, Jawa Pos Radar Mojokerto Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Mojokerto melakukan pemeriksaan terhadap enam orang yang disinyalir terlibat dalam pembangunan gapura Rest Area Mojo Kembang Park (MKP), Desa Petak, Kecamatan Pacet, Senin (9/3). Mereka diperiksa secara maraton selama hampir enam jam.

Kasi Pidana Khusus (Pidsus) Kejari Kabupaten Mojokerto Agus Hariyono, mengatakan, enam orang yang telah menjalani pemeriksaan itu adalah Kepala Desa Petak Supoyo, Sekretaris Desa M. Rokhim, Bendahara Desa Rina Astriana, Ketua Tim Pelaksana Kegiatan (TPK) Wiherno, Sekretaris TPK Muslikh, dan Bendahara TPK Sukandar Wibowo.

Menurutnya, pemeriksaan itu untuk mengusut dugaan penyimpangan proyek senilai Rp 11 miliar yang digelontorkan Pemerintah Kabupaten Mojokerto di desa tersebut. ’’Masih lidik (penyelidikan). Ini masih tahap awal,’’ ujarnya, usai melakukan pemeriksaan.

Dari hasil pemeriksaan sementara, para penyelidik mulai menggali informasi terkait proses pembangunan gapura hingga  berakhir ambruk, pada 4 Maret lalu. Mulai dari model pengelolaan hingga proses pembangunan berlangsung. ’’Semua masih terkait dengan gapura,’’ imbuh Mantan Kasi Intelijen Kejari Pasuruan ini.

Baca Juga :  Cipkon Perdana di Tahun 2019, Banyak Pelajar Kena Razia

Pemeriksaan yang berlangsung panjang itu, dipastikan tak tuntas. Rencananya, pagi ini, kejari akan memanggil konsultan perencanaan. Konsultan inilah yang akan mengetahui konsep pembangunan secara utuh. ’’Apakah proyek itu sudah sesuai dengan perencanaan, akan kita lihat nanti,’’ imbuh Agus.

Sementara itu, Kades Petak Supoyo, usai menjalani pemeriksaan, mengaku, sudah menjelaskan seluruh proses pembangunan ke penyidik hingga kronologi robohnya gapura yang menelan biaya hampir Rp 100 juta itu. ’’Sudah saya jelaskan semuanya ke penyidik,’’ ujarnya.

Supoyo mengamini, jika ambruknya gapura bukan disebabkan petir yang menyambar. ’’Bukan. Bukan,’’ katanya singkat.

Meski telah ambruk, tetapi Supoyo memastikan, proses perbaikan atas gapura berkonsep Majapahitan itu tengah berlangsung. ’’Sekarang masih dibenahi. Belum selesai,’’ pungkas dia.

Keseriusan kejari menelusuri dugaan penyelewengan pembangunan Rest Area MKP, Petak, Kecamatan Pacet, cukup mencolok. Selain menerjunkan tim ke lokasi, tim teknis juga dilibatkan. Kejari melibatkan tim akademisi untuk menelusuri dugaan underspec dalam proses pembangunan.

Baca Juga :  Ratusan Knalpot Brong Dimusnahkan

Tim teknis dari akademisi yang digandeng kejari ini telah turun sehari pasca gapura ambruk. Dan, ternyata hasilnya sangat mengecewakan. Reruntuhan sudah bersih. Bahkan, besi beton  yang semula amburadul, sudah kembali diperbaiki. Pembersihan yang dilakukan dengan sangat cepat itu, menjadi salah indikasi ketakutan para pelaksana pekerjaan.

Saat datang ke lokasi, tim ahli itu hanya berhasil menemukan sejumlah material dan dibawa untuk diteliti di laboratorium. Penelitian untuk mengetahui jenis spesifikasi dan material yang dipasang.

Sebelumnya, Bendahara Tim Pelaksana Kegiatan (TPK) Pembangunan MKP, Sukandar Wibowo, membantah jika ambruknya gapura tersebut karena konstruksi bangunan yang kurang bagus. ’’Kualitas tidak bermasalah. Sudah sesuai dengan spesifikasi,’’ ungkapnya saat itu.

Menurutnya, saat mengerjakan dirinya tak berani mengurangi sepesifikasi sedikit pun. Meski kualitasnya bisa dijamin, gapura setinggi 9 meter itu runtuh akibat derasnya guyuran hujan yang terjadi semalaman di lereng Gunung Welirang. 

SOOKO, Jawa Pos Radar Mojokerto Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Mojokerto melakukan pemeriksaan terhadap enam orang yang disinyalir terlibat dalam pembangunan gapura Rest Area Mojo Kembang Park (MKP), Desa Petak, Kecamatan Pacet, Senin (9/3). Mereka diperiksa secara maraton selama hampir enam jam.

Kasi Pidana Khusus (Pidsus) Kejari Kabupaten Mojokerto Agus Hariyono, mengatakan, enam orang yang telah menjalani pemeriksaan itu adalah Kepala Desa Petak Supoyo, Sekretaris Desa M. Rokhim, Bendahara Desa Rina Astriana, Ketua Tim Pelaksana Kegiatan (TPK) Wiherno, Sekretaris TPK Muslikh, dan Bendahara TPK Sukandar Wibowo.

Menurutnya, pemeriksaan itu untuk mengusut dugaan penyimpangan proyek senilai Rp 11 miliar yang digelontorkan Pemerintah Kabupaten Mojokerto di desa tersebut. ’’Masih lidik (penyelidikan). Ini masih tahap awal,’’ ujarnya, usai melakukan pemeriksaan.

Dari hasil pemeriksaan sementara, para penyelidik mulai menggali informasi terkait proses pembangunan gapura hingga  berakhir ambruk, pada 4 Maret lalu. Mulai dari model pengelolaan hingga proses pembangunan berlangsung. ’’Semua masih terkait dengan gapura,’’ imbuh Mantan Kasi Intelijen Kejari Pasuruan ini.

Baca Juga :  TP4D Dibubarkan, PPK Proyek Makin Galau

Pemeriksaan yang berlangsung panjang itu, dipastikan tak tuntas. Rencananya, pagi ini, kejari akan memanggil konsultan perencanaan. Konsultan inilah yang akan mengetahui konsep pembangunan secara utuh. ’’Apakah proyek itu sudah sesuai dengan perencanaan, akan kita lihat nanti,’’ imbuh Agus.

Sementara itu, Kades Petak Supoyo, usai menjalani pemeriksaan, mengaku, sudah menjelaskan seluruh proses pembangunan ke penyidik hingga kronologi robohnya gapura yang menelan biaya hampir Rp 100 juta itu. ’’Sudah saya jelaskan semuanya ke penyidik,’’ ujarnya.

- Advertisement -

Supoyo mengamini, jika ambruknya gapura bukan disebabkan petir yang menyambar. ’’Bukan. Bukan,’’ katanya singkat.

Meski telah ambruk, tetapi Supoyo memastikan, proses perbaikan atas gapura berkonsep Majapahitan itu tengah berlangsung. ’’Sekarang masih dibenahi. Belum selesai,’’ pungkas dia.

Keseriusan kejari menelusuri dugaan penyelewengan pembangunan Rest Area MKP, Petak, Kecamatan Pacet, cukup mencolok. Selain menerjunkan tim ke lokasi, tim teknis juga dilibatkan. Kejari melibatkan tim akademisi untuk menelusuri dugaan underspec dalam proses pembangunan.

Baca Juga :  Bongkar Makam untuk Disucikan dan Disalati Lagi

Tim teknis dari akademisi yang digandeng kejari ini telah turun sehari pasca gapura ambruk. Dan, ternyata hasilnya sangat mengecewakan. Reruntuhan sudah bersih. Bahkan, besi beton  yang semula amburadul, sudah kembali diperbaiki. Pembersihan yang dilakukan dengan sangat cepat itu, menjadi salah indikasi ketakutan para pelaksana pekerjaan.

Saat datang ke lokasi, tim ahli itu hanya berhasil menemukan sejumlah material dan dibawa untuk diteliti di laboratorium. Penelitian untuk mengetahui jenis spesifikasi dan material yang dipasang.

Sebelumnya, Bendahara Tim Pelaksana Kegiatan (TPK) Pembangunan MKP, Sukandar Wibowo, membantah jika ambruknya gapura tersebut karena konstruksi bangunan yang kurang bagus. ’’Kualitas tidak bermasalah. Sudah sesuai dengan spesifikasi,’’ ungkapnya saat itu.

Menurutnya, saat mengerjakan dirinya tak berani mengurangi sepesifikasi sedikit pun. Meski kualitasnya bisa dijamin, gapura setinggi 9 meter itu runtuh akibat derasnya guyuran hujan yang terjadi semalaman di lereng Gunung Welirang. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/