alexametrics
28.8 C
Mojokerto
Saturday, May 28, 2022

Prostitusi Online, Gadis SMA Dihargai Rp 1 Juta

KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Dua kasus perdagangan anak di bawah umur dibalut prostitusi online di kawasan wisata Pacet, Kabupaten Mojokerto dibongkar Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Mojokerto. Satu dari dua mucikari yang diamankan diduga juga turut melakukan perbuatan asusila terhadap korban, sebelum akhirnya dijual kepada lelaki hidung belang atau tamu hotel. Bahkan, gadis yang masih duduk di bangku SMA ini ditawarkan dengan service layanan threesome.

Kini, dua tersangka ditahan di Mapolres Mojokerto dalam proses pengembangan untuk mengungkap jaringan mereka. Kedua tersangka itu masing-masing Muhammad Agung Muliono, 20, warga Desa Wonorejo, Kecamatan Trowulan, dan Sofyan Maulana, 18, warga Desa/Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto.

Kapolres Mojokerto AKBP Dony Alexander mengatakan, dua tersangka digerebek di dua lokasi dan dalam waktu berbeda. Pengungkapan ini berawal dari laporan masyarakat akan maraknya prostitusi di kawasan wisata Pacet. Kedua tersangka diduga menjual anak di bawah umur dan masih berstatus pelajar. ’’Dua pelaku ini kita lakukan penangkapan dengan modus menawarkan jasa kepada para lelaki hidung belang untuk berhubungan layaknya suami istri tanpa ada status,’’ ungkapnya di mapolres.

Namun, dalam praktik ini, lanjut Doni, para gadis yang dijual tersebut statusnya masih sebagai pelajar SMA. Di antaranya, DRS, 18, warga Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, dan dua lainnya warga Kabupaten Jombang, masing-masing ANJ, 16 dan PSM, 18. ’’Status korban pelajar, namun ada satu sudah berumur 18 tahun SMA,’’ tegasnya. Menurut Dony, perkenalan perempuan dengan pelaku ini berawal dari jejaringan sosial Facebook (FB). ’’Ada juga yang dari perantara sesama teman,’’ tambahnya.

Baca Juga :  Ditinggal Salat Id, Rumah Ludes Dilalap si Jago Merah

Sehingga perkenalan ini membuat pelaku kerap menawarkan korban kepada para lelaki hidung belang. Seperti yang dilakukan Agung. Dia ditangkap saat transaksi sekaligus mengantar gadis untuk melayani pengunjung di Hotel Puri Srijaya, Pacet, Selasa (29/9). Dalam praktiknya, dia juga menyediakan layanan threesome. Namun, saat dilakukan penggerebekan pukul 13.00, di dalam kamar, baru satu perempuan yang datang. Berikut barang bukti, ANJ lantas diamankan ke Mapolres Mojokerto. Sementara satu perempuan lainnya, PSM, 18, dijemput petugas di Stadion Gajah Mada, Mojosari, di hari yang sama. ’’Setiap perempuan dipasang harga Rp 1 juta. Tarif ini untuk per tiga jam,’’ urai Dony. Namun, di tengah penggerebekan, pelaku baru mendapat bayaran Rp 1 juta untuk satu perempuan.

Dari hasil transaksi, mucikari dan sang perempuan ini mendapat bagian berbeda. Masing-masing Rp 200 ribu untuk jatah mucikari, dan Rp 800 ribu milik sang gadis. Selain itu, Agung juga mendapat uang transport Rp 100 ribu dari pelanggan. ’’Dengan modus ini, tersangka mendapat untung Rp 300 ribu untuk sekali transaksi. Ini akan kita lakukan proses penyidikan dan pengembangan jaringan yang lain,’’ tegasnya.

Baca Juga :  Pemilu Kondusif, Kinerja Polres Mojokerto Diapresiasi Tokoh Agama

Sedangkan tersangka Sofyan Maulana digerebek di Hotel Sederhana, Kecamatan Pacet pada Sabtu (12/9) lalu. Dia diamankan kala mengantar anak buahnya ke kamar hotel. Sayangnya, di tengah menunggu dalam kamar hotel, tersangka akhirnya diamankan petugas berikut barang bukti. Di antaranya, dua handphone (HP) berisi chatting antara tersangka dan saksi, serta uang tunai hasil transaksi. ’’Tarif kencannya juga Rp 1 juta untuk tiga jam. Dari tarif itu, tersangka mendapat Rp 300 ribu,’’ tegasnya. Oleh polisi, tersangka Sofyan Maulana dijerat pasal 296 KUHP dan pasal 506 KUHP dengan ancaman hukuman 1 tahun empat bulan penjara. Sedangkan Agung dijerat pasal 88 juncto pasal 76 UU Nomor 35 Tahun 2014 dan pasal 506 KUHP, dengan ancaman 10 tahun penjara.

Kini petugas masih melakukan pengembangan untuk mengungkap jaringan keduanya. Termasuk, para korban di bawah umur yang diduga jual mucikari kepada pelanggan atau pengunjung hotel. ’’Salah satunya dengan mencari alat bukti lebih lanjut dengan membuka beberapa sistem komunikasi HP yang kami sita sebagai barang bukti,’’ tandas Dony.

KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Dua kasus perdagangan anak di bawah umur dibalut prostitusi online di kawasan wisata Pacet, Kabupaten Mojokerto dibongkar Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Mojokerto. Satu dari dua mucikari yang diamankan diduga juga turut melakukan perbuatan asusila terhadap korban, sebelum akhirnya dijual kepada lelaki hidung belang atau tamu hotel. Bahkan, gadis yang masih duduk di bangku SMA ini ditawarkan dengan service layanan threesome.

Kini, dua tersangka ditahan di Mapolres Mojokerto dalam proses pengembangan untuk mengungkap jaringan mereka. Kedua tersangka itu masing-masing Muhammad Agung Muliono, 20, warga Desa Wonorejo, Kecamatan Trowulan, dan Sofyan Maulana, 18, warga Desa/Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto.

Kapolres Mojokerto AKBP Dony Alexander mengatakan, dua tersangka digerebek di dua lokasi dan dalam waktu berbeda. Pengungkapan ini berawal dari laporan masyarakat akan maraknya prostitusi di kawasan wisata Pacet. Kedua tersangka diduga menjual anak di bawah umur dan masih berstatus pelajar. ’’Dua pelaku ini kita lakukan penangkapan dengan modus menawarkan jasa kepada para lelaki hidung belang untuk berhubungan layaknya suami istri tanpa ada status,’’ ungkapnya di mapolres.

Namun, dalam praktik ini, lanjut Doni, para gadis yang dijual tersebut statusnya masih sebagai pelajar SMA. Di antaranya, DRS, 18, warga Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, dan dua lainnya warga Kabupaten Jombang, masing-masing ANJ, 16 dan PSM, 18. ’’Status korban pelajar, namun ada satu sudah berumur 18 tahun SMA,’’ tegasnya. Menurut Dony, perkenalan perempuan dengan pelaku ini berawal dari jejaringan sosial Facebook (FB). ’’Ada juga yang dari perantara sesama teman,’’ tambahnya.

Baca Juga :  Dor! Polisi Lubangi Spesialis Curi Motor

Sehingga perkenalan ini membuat pelaku kerap menawarkan korban kepada para lelaki hidung belang. Seperti yang dilakukan Agung. Dia ditangkap saat transaksi sekaligus mengantar gadis untuk melayani pengunjung di Hotel Puri Srijaya, Pacet, Selasa (29/9). Dalam praktiknya, dia juga menyediakan layanan threesome. Namun, saat dilakukan penggerebekan pukul 13.00, di dalam kamar, baru satu perempuan yang datang. Berikut barang bukti, ANJ lantas diamankan ke Mapolres Mojokerto. Sementara satu perempuan lainnya, PSM, 18, dijemput petugas di Stadion Gajah Mada, Mojosari, di hari yang sama. ’’Setiap perempuan dipasang harga Rp 1 juta. Tarif ini untuk per tiga jam,’’ urai Dony. Namun, di tengah penggerebekan, pelaku baru mendapat bayaran Rp 1 juta untuk satu perempuan.

Dari hasil transaksi, mucikari dan sang perempuan ini mendapat bagian berbeda. Masing-masing Rp 200 ribu untuk jatah mucikari, dan Rp 800 ribu milik sang gadis. Selain itu, Agung juga mendapat uang transport Rp 100 ribu dari pelanggan. ’’Dengan modus ini, tersangka mendapat untung Rp 300 ribu untuk sekali transaksi. Ini akan kita lakukan proses penyidikan dan pengembangan jaringan yang lain,’’ tegasnya.

Baca Juga :  Siswa SMP Tewas Dikeroyok
- Advertisement -

Sedangkan tersangka Sofyan Maulana digerebek di Hotel Sederhana, Kecamatan Pacet pada Sabtu (12/9) lalu. Dia diamankan kala mengantar anak buahnya ke kamar hotel. Sayangnya, di tengah menunggu dalam kamar hotel, tersangka akhirnya diamankan petugas berikut barang bukti. Di antaranya, dua handphone (HP) berisi chatting antara tersangka dan saksi, serta uang tunai hasil transaksi. ’’Tarif kencannya juga Rp 1 juta untuk tiga jam. Dari tarif itu, tersangka mendapat Rp 300 ribu,’’ tegasnya. Oleh polisi, tersangka Sofyan Maulana dijerat pasal 296 KUHP dan pasal 506 KUHP dengan ancaman hukuman 1 tahun empat bulan penjara. Sedangkan Agung dijerat pasal 88 juncto pasal 76 UU Nomor 35 Tahun 2014 dan pasal 506 KUHP, dengan ancaman 10 tahun penjara.

Kini petugas masih melakukan pengembangan untuk mengungkap jaringan keduanya. Termasuk, para korban di bawah umur yang diduga jual mucikari kepada pelanggan atau pengunjung hotel. ’’Salah satunya dengan mencari alat bukti lebih lanjut dengan membuka beberapa sistem komunikasi HP yang kami sita sebagai barang bukti,’’ tandas Dony.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/