alexametrics
26.8 C
Mojokerto
Sunday, June 26, 2022

Warga Gondang Sambatan Bau Busuk di Bekas Galian C

DLH-Polres Tunggu Hasil Laboraturium
GONDANG, Jawa Pos Radar Mojokerto – Warga mengeluhkan bau busuk menyengat di salah satu bekas galian C di Dusun Pandansari, Desa Wonoploso, Kecamatan Gondang. Diduga, bau tak sedap itu dipicu aktivitas penimbunan limbah kotoran ayam di lokasi.

Bau busuk yang bersumber di bekas tambang pasir milik Slamet, warga Desa Kalikatir, itu mulai mengusik warga sejak sekitar dua bulan lalu. Terdapat empat kubangan bekas galian yang diisi limbah yang kotoran ayam. Sehingga itu berlanjut hingga saat ini jika lokasi dihempas hembusan angin.

’’Warga resah karena baunya menyengat. Apalagi kalau hujan limbah itu meluber ke lahan pertanian warga. Sampai sekarang kadang-kadang masih bau sampai sini. Namanya bekas galian, kemungkinan dalamnya kubangan itu sampai lima meter,’’ ujar Mashudi, 44, warga setempat.

Dijelaskannya, warga yang resah lantas berbondong-bondong ke lokasi untuk menghentikan aktivitas pembuangan limbah. Hingga salah satu truk muatan kotoran ayam dibawa di balai desa untuk dibuktikan muatan limbah yang dibuang ke lokasi. Hingga Slamet membuat surat pernyataan dihadapan warga desa. Di antaranya, menghentikan pembuangan limbah di lokasi, menanggulangi bau yang ditimbulkan, hingga membuat tanggul agar limbah tidak meluber ke pertanian warga.

’’Terakhir seminggu setelah lebaran itu waktu bikin pernyataan di desa, semua perangkat desa hadir. Kelihatannya pernyataan itu sudah dilakukan Pak Slamet. Mungkin karena lahan dan kotorannya banyak jadi sewaktu-waktu masih bau. Terutama pagi hari, sering masih bau,’’ urainya.

Baca Juga :  Komponen PJU Digasak Maling

Dusun Ponggok dan Pandansari di Desa Wonoploso merupakan daerah yang kerap dihantui bau busuk. Tidak jarang, aroma tak sedap itu sampai mengusik warga Desa Kalikatir.

Sementara itu Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Mojokerto Zaqqi mengatakan, pihaknya sudah meninjau lokasi bersama Komisi III DPRD Kabupaten Mojokerto, Senin (6/6). Hasilnya, tidak ditemukan adanya indikasi limbah bahan berbahaya beracun (B3). ’’Kemunginan besar kotoran ternak ayam, bukan limbah B3. Kabarnya, nanti pihak yang bersangkutan akan diundang dewan untuk dimintai keterangan,’’ sebutnya.

Dikatakannya, pemilik lahan rencananya mengumpulkan kotoran ayam tersebut untuk dibuat pupuk lahan pisang tak jauh dari lokasi. Hanya saja, menurutnya, pemilik lahan mesti memperhatikan aspek dampak lingkungan bagi masyarakat sekitar. ’’Bisa saja itu langsung dicampuri tanah jadi tidak begitu bau. Atau menggunakan katalisator, untuk mengintervensi bau itu dengan bahan kimia. Sekaligus membuat tanggul di sekitar lokasi supaya kala hujan tidak meluber,’’ tandas Zaqqi.

Senada dengan Zaqqi, Kanit Tipidter Satreskrim Polres Mojokerto Iptu Raditya Herlambang mengatakan, dugaan sementara limbah tersebut tidak tergolong B3. Hasil penelusuran petugas, pemilik lahan mengaku memasok kotoran ayam dari wilayah Jetis untuk dibuat pupuk lahan pisang cavendis yang tengah digarap.

Baca Juga :  Ingin Nge-Fly, Kalangan Pelajar Konsumsi Obat Antimabuk-CTM

Dikatakannya, kepolisian langsung mengecek lokasi usai menerima laporan adanya dugaan dumping limbah itu. ’’Kemungkinan bukan B3, itu kotoran ayam. Pertengahan bulan Mei kami bersama DLH sudah ke lokasi dan ambil sampel untuk diujikan ke Laboratorium DLH Provinsi Jatim. Mungkin minggu ini hasilnya sudah keluar,’’ ujarnya saat dikonfirmasi terpisah.

Disinggung soal aktivitas dumping limbah terhadap pemilik lahan, pihaknya enggan gegabah bertindak. Dijelaskannya, aktivitas dumping limbah bisa dikenakan Pasal 104 UU RI No 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Dengan ancaman penjara tiga tahun lamanya dan denda maksimal Rp 3 miliar. Hanya saja, menurutnya kasus ini belum memenuhi unsur pelanggaran hukum.

’’Pasal 104 UU RI No 32 Tahun 2009 tentang PPLH itu kan mengacu pada Pasal 60. Dan Pasal 60 itu ada dalam Bab VII terkait Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun Serta Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun. Sedangkan dugaan sementara ini bukan B3, jadi tidak ada unsur pelanggarannya. Untuk lebih jelasnya lagi kita tunggu hasil lab-nya,’’ tandas Herlambang. (vad/fen)

DLH-Polres Tunggu Hasil Laboraturium
GONDANG, Jawa Pos Radar Mojokerto – Warga mengeluhkan bau busuk menyengat di salah satu bekas galian C di Dusun Pandansari, Desa Wonoploso, Kecamatan Gondang. Diduga, bau tak sedap itu dipicu aktivitas penimbunan limbah kotoran ayam di lokasi.

Bau busuk yang bersumber di bekas tambang pasir milik Slamet, warga Desa Kalikatir, itu mulai mengusik warga sejak sekitar dua bulan lalu. Terdapat empat kubangan bekas galian yang diisi limbah yang kotoran ayam. Sehingga itu berlanjut hingga saat ini jika lokasi dihempas hembusan angin.

’’Warga resah karena baunya menyengat. Apalagi kalau hujan limbah itu meluber ke lahan pertanian warga. Sampai sekarang kadang-kadang masih bau sampai sini. Namanya bekas galian, kemungkinan dalamnya kubangan itu sampai lima meter,’’ ujar Mashudi, 44, warga setempat.

Dijelaskannya, warga yang resah lantas berbondong-bondong ke lokasi untuk menghentikan aktivitas pembuangan limbah. Hingga salah satu truk muatan kotoran ayam dibawa di balai desa untuk dibuktikan muatan limbah yang dibuang ke lokasi. Hingga Slamet membuat surat pernyataan dihadapan warga desa. Di antaranya, menghentikan pembuangan limbah di lokasi, menanggulangi bau yang ditimbulkan, hingga membuat tanggul agar limbah tidak meluber ke pertanian warga.

’’Terakhir seminggu setelah lebaran itu waktu bikin pernyataan di desa, semua perangkat desa hadir. Kelihatannya pernyataan itu sudah dilakukan Pak Slamet. Mungkin karena lahan dan kotorannya banyak jadi sewaktu-waktu masih bau. Terutama pagi hari, sering masih bau,’’ urainya.

Baca Juga :  Komponen PJU Digasak Maling

Dusun Ponggok dan Pandansari di Desa Wonoploso merupakan daerah yang kerap dihantui bau busuk. Tidak jarang, aroma tak sedap itu sampai mengusik warga Desa Kalikatir.

- Advertisement -

Sementara itu Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Mojokerto Zaqqi mengatakan, pihaknya sudah meninjau lokasi bersama Komisi III DPRD Kabupaten Mojokerto, Senin (6/6). Hasilnya, tidak ditemukan adanya indikasi limbah bahan berbahaya beracun (B3). ’’Kemunginan besar kotoran ternak ayam, bukan limbah B3. Kabarnya, nanti pihak yang bersangkutan akan diundang dewan untuk dimintai keterangan,’’ sebutnya.

Dikatakannya, pemilik lahan rencananya mengumpulkan kotoran ayam tersebut untuk dibuat pupuk lahan pisang tak jauh dari lokasi. Hanya saja, menurutnya, pemilik lahan mesti memperhatikan aspek dampak lingkungan bagi masyarakat sekitar. ’’Bisa saja itu langsung dicampuri tanah jadi tidak begitu bau. Atau menggunakan katalisator, untuk mengintervensi bau itu dengan bahan kimia. Sekaligus membuat tanggul di sekitar lokasi supaya kala hujan tidak meluber,’’ tandas Zaqqi.

Senada dengan Zaqqi, Kanit Tipidter Satreskrim Polres Mojokerto Iptu Raditya Herlambang mengatakan, dugaan sementara limbah tersebut tidak tergolong B3. Hasil penelusuran petugas, pemilik lahan mengaku memasok kotoran ayam dari wilayah Jetis untuk dibuat pupuk lahan pisang cavendis yang tengah digarap.

Baca Juga :  Dam Tlusur Masuk Kategori Tak Aman

Dikatakannya, kepolisian langsung mengecek lokasi usai menerima laporan adanya dugaan dumping limbah itu. ’’Kemungkinan bukan B3, itu kotoran ayam. Pertengahan bulan Mei kami bersama DLH sudah ke lokasi dan ambil sampel untuk diujikan ke Laboratorium DLH Provinsi Jatim. Mungkin minggu ini hasilnya sudah keluar,’’ ujarnya saat dikonfirmasi terpisah.

Disinggung soal aktivitas dumping limbah terhadap pemilik lahan, pihaknya enggan gegabah bertindak. Dijelaskannya, aktivitas dumping limbah bisa dikenakan Pasal 104 UU RI No 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Dengan ancaman penjara tiga tahun lamanya dan denda maksimal Rp 3 miliar. Hanya saja, menurutnya kasus ini belum memenuhi unsur pelanggaran hukum.

’’Pasal 104 UU RI No 32 Tahun 2009 tentang PPLH itu kan mengacu pada Pasal 60. Dan Pasal 60 itu ada dalam Bab VII terkait Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun Serta Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun. Sedangkan dugaan sementara ini bukan B3, jadi tidak ada unsur pelanggarannya. Untuk lebih jelasnya lagi kita tunggu hasil lab-nya,’’ tandas Herlambang. (vad/fen)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/