25.8 C
Mojokerto
Sunday, December 4, 2022

Puluhan Pelajar Tuntun Motor

Diparkir di Gang, Polisi Beri Pembinaan

KOTA, Jawa Pos Radar Mojokerto – Maraknya pelajar di bawah umur yang mengendarai motor ke sekolah menjadi perhatian kepolisian. Kamis (6/10) pagi, Satlantas Polres Mojokerto Kota melakukan sosialisasi di SMPN 2 Kota Mojokerto. Sebanyak 30 siswa yang memarkir motornya di luar sekolah dikumpulkan dan diminta membuat surat pernyataan.

Sosialisasi berkendara kepada pelajar ini merupakan bagian dari Operasi Zebra Semeru 2022. Kegiatan diawali dengan imbauan dari Kasatlantas Polres Mojokerto Kota AKP Heru Sudjio Budi Santoso mengenai aturan ketertiban berlalu lintas. ’’Hari ini siapa yang mengendarai motor ke sekolah?,’’ tanya Heru kepada para siswa yang berkumpul di lapangan.

Sebanyak 30 siswa lalu mengacungkan jari. Mereka mengaku membawa motor dan memarkirnya di gang samping sekolah. Para siswa yang masih berusia 15 tahun itu lantas diminta berdiri dan mengambil motor yang dititipkan di luar lingkungan sekolah.

Baca Juga :  Overkapasitas, 20 Napi Dilayar ke Lapas Probolinggo

Satu per satu siswa pun menuntut motornya dengan di dampingi petugas kepolisian dan memarkirnya di tengah lapangan. Mereka diminta berdiri di samping kendaraannya masing-masing. ’’Kita lakukan pembinaan dengan pemahaman dulu kenapa mereka tidak boleh mengendarai motor dan apa risikonya karena usia dini ini rawan kecelakaan lalu lintas,’’ jelasnya.

Para pelajar rata-rata masih duduk di kelas 8 dan 9. Sesuai dengan peraturan, kata Heru, mereka belum diperbolehkan mengendarai motor karena belum memiliki SIM. Setelah diberi pembinaan, para pelajar langsung membuat surat penyataan tidak lagi mengendarai motor ke sekolah. ’’Selanjutnya akan kita datangnya orang tuanya agar tidak terjadi lagi. Mata rantai seperti ini harus kita putus karena kalau terjadi kecelakaan risikonya sangat tinggi,’’ tandas Heru.

Baca Juga :  Sopir Melamun Saat Mengemudi

Pihaknya mengaku akan berkoordinasi dengan wali murid, pihak sekolah, dan pemda terkait masih banyaknya pelajar yang nekat mengendarai motor meskipun sudah dilarang. ’’Mungkin solusinya melalui angkutan sekolah atau ojek online. Nanti akan kita bicarakan bersama,’’ imbuhnya. Heru menyatakan, kegiatan sosialisasi ini akan dilakukan secara merata di sejumlah sekolah lain.

Sementara itu, Kepala SMPN 2 Kota Mojokerto Mulib menyampaikan, pihak sekolah sudah berkali-kali mengimbau pelajar dan mendatangkan orang tua untuk melarang anaknya membawa motor. Sekolah, kata dia juga tidak menyediakan lahan parkir sebagai bentuk penegasan larangan tersebut. ’’Kuncinya di orang tua. Kami berkali-kali sudah melarang. Kami tidak punya kewenangan melarang parkir di luar sekolah. Prinsipnya kami tidak menyediakan lahan parkir di lingkungan sekolah,’’ bebernya. (adi/ron)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/