25.8 C
Mojokerto
Sunday, December 4, 2022

Kaki-Tangan Pejabat Dikonfrontasi

Kasus Honorer Fiktif Naik Penyidikan

KOTA, Jawa Pos Radar Mojokerto – Kasus dugaan rekrutmen tenaga honorer fiktif di tubuh Pemkot Mojokerto terus bergulir. Kemarin (6/10), polisi memeriksa lima orang yang terindikasi sebagai kaki tangan kabag organisasi periode 2021. Mereka dikonfrontasi guna memperjelas modus penipuan yang dilakukan.

Penanganan kasus yang menyeret nama pejabat aktif pemkot ini setidaknya sudah bergulir sejak dua bulan terakhir. Saat ini prosesnya dalam tahap penyidikan di Satreskrim Polres Mojokerto Kota. Dari pendalaman yang dilakukan polisi, sedikitnya terdapat lima enam orang yang diduga terlibat. Antara lain kabag organisasi periode 2021 serta lima kaki tangannya.

”Tadi kami panggil untuk dikonfrontir. Ada lima orang, yang satu (eks kabag ortala, Red) tidak hadir,” jelas Kanittipikor Satreskrim Polres Mojokerto Kota Ipda Muklisin, kemarin.

Baca Juga :  Diperiksa KPK, Ngaku Tak Banyak Tahu

Sejauh ini, mereka diperiksa dengan status sebagai saksi. Kelimanya diduga ikut membantu terlapor mencari calon korban. Bahkan, terdapat pula yang menggunakan rekeningnya untuk menerima transfer biaya rekrutmen.

Muklisin menyatakan, pemeriksaan bakal terus berlangsung baik terhadap pihak-pihak yang diduga terlibat maupun para korban. Sejauh ini, lanjutnya, terdapat 15 orang yang mengaku menjadi korban modus penerimaan tenaga honorer fiktif ini. Masing-masing dari mereka diperas hingga Rp 30 juta sampai Rp 40 juta. ”Kasusnya sudah naik sidik (penyidikan, Red),” imbuh dia.

Pengusutan dugaan penipuan ini bermula dari laporan salah satu korban. Dalam aksinya, terlapor dengan dibantu rekan-rekannya seolah-olah membuat tahapan wawancara untuk menyeleksi tenaga honorer. Selama korban sepakat menyerahkan uang senilai yang ditentukan, dia langsung diminta masuk kerja. Penyerahan uang dilakukan baik secara kontan maupun dicicil. ”Interview-nya itu di kantornya sendiri pas malam-malam, jadi tidak ada orang,” ungkap Muklisin.

Baca Juga :  Acim Sandang Status DPO, Polisi Menduga Tersangka Kabur ke Luar Kota

Setelah dipekerjakan, para rekrutan baru itu hanya luntang-lantung di kantor tanpa mendapat bayaran. Bahkan, sebagian dari mereka lebih sering diliburkan karena tenaganya tidak dibutuhkan. ”Ada yang sehari-hari hanya di kantin. Saat itu memang tidak ada penerimaan (tegana honorer, Red),” tandasnya. (adi/ron)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/