alexametrics
27.8 C
Mojokerto
Thursday, May 26, 2022

Korupsi Proyek, Buron Kejari Terus Diburu

MAGERSARI, Jawa Pos Radar Mojokerto – Direktur CV Karya Mulia Karyono telah divonis Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Surabaya dengan hukuman penjara selama 5 tahun. Meski begitu, Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Mojokerto tak kunjung mengeksekusinya.

Hari ini, Kejari Kota Mojokerto mulai mengumumkan kepada publik. Bagi siapa saja yang mengetahui keberadaan kontraktor pengerjaan gedung Dinas Perpustakaan dan Arsip Kota Mojokerto itu segera melaporkan ke kejari. ’’Siapapun yang mengetahui keberadaan terpidana, segera bisa melaporkan kepada kami,” kata Kasi Intelijen Kejari Kota Mojokerto, Barkah Dwi Hatmoko, Kamis (6/2).

Barkah menjelaskan, perburuan terhadap Karyono tak pernah dihentikan. Terlebih, pasca putusan pengadilan Tipikor Surabaya, pada akhir 2019 lalu. ’’Kami sangat berharap, terpidana segera menyerahkan diri. Dan kalau ada masyarakat yang mengetahui, segera melaporkan,” tambah dia. Direktur CV Karya Mulya Karyono sebagai tersangka tunggal dalam kasus dugaan korupsi proyek senilai Rp 2,09 miliar tersebut selalu mangkir dari panggilan kejari. Panggilan ketiga yang diabaikan, membuat korps Adhyaksa hilang kesabaran. Penyidik akhirnya melimpahkan kasus ini ke PN Tipikor Surabaya untuk disidangkan.

Baca Juga :  Satu Tersangka Asusila Anak Masih Bebas

Karyono dikabarkan telah menghilang sejak proses penyidikan kasus dugaan korupsi pembangunan gedung Dinas Perpustakaan dan Arsip Kota Mojokerto dimulai. Namun, pelarian Karyono yang semula tinggal di Jalan Layur Blok D-11, Desa/Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto, itu tak menghambat proses penyidikan yang dilakukan kejari. Perlu diketahui, Karyono merupakan pemborong kondang di Mojokerto. Di tahun 2014 lalu, ia mampu memperoleh proyek bernilai miliaran rupiah. Terdeteksi, empat proyek besar, dimenangkan perusahaannya.

Keempat proyek itu adalah pembangunan gedung Perpustakaan dan Arsip dengan pagu Rp 2,09 miliar, gedung Puskesmas Pembantu Balongsari dengan pagu Rp 500 juta, gedung Inspektorat dengan pagu Rp 2,2 miliar, dan gedung SDN Wates dengan pagu Rp 700 juta.

Baca Juga :  Korupsi Alat Peraga SMKN 2, Berkas 5 Tersangka Beres

Setahun kemudian, BPK mengeluarkan Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) BPK dan merekomendasikan jika proyek pembangunan Perpustakaan dan Arsip terdapat kekurangan volume, dan kelebihan pembayaran senilai Rp 135 juta.

Di persidangan inabsentia pengadilan Tipikor Surabaya, Karyono divonis penjara selama 5 tahun, dan denda Rp 300 juta, serta membayar uang pengganti senilai Rp 70 juta. Untuk mengantisipasi tak dibayarnya uang pengganti, hakim Tipikor, Surabaya meminta agar melelang harta benda milik terpidana.

MAGERSARI, Jawa Pos Radar Mojokerto – Direktur CV Karya Mulia Karyono telah divonis Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Surabaya dengan hukuman penjara selama 5 tahun. Meski begitu, Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Mojokerto tak kunjung mengeksekusinya.

Hari ini, Kejari Kota Mojokerto mulai mengumumkan kepada publik. Bagi siapa saja yang mengetahui keberadaan kontraktor pengerjaan gedung Dinas Perpustakaan dan Arsip Kota Mojokerto itu segera melaporkan ke kejari. ’’Siapapun yang mengetahui keberadaan terpidana, segera bisa melaporkan kepada kami,” kata Kasi Intelijen Kejari Kota Mojokerto, Barkah Dwi Hatmoko, Kamis (6/2).

Barkah menjelaskan, perburuan terhadap Karyono tak pernah dihentikan. Terlebih, pasca putusan pengadilan Tipikor Surabaya, pada akhir 2019 lalu. ’’Kami sangat berharap, terpidana segera menyerahkan diri. Dan kalau ada masyarakat yang mengetahui, segera melaporkan,” tambah dia. Direktur CV Karya Mulya Karyono sebagai tersangka tunggal dalam kasus dugaan korupsi proyek senilai Rp 2,09 miliar tersebut selalu mangkir dari panggilan kejari. Panggilan ketiga yang diabaikan, membuat korps Adhyaksa hilang kesabaran. Penyidik akhirnya melimpahkan kasus ini ke PN Tipikor Surabaya untuk disidangkan.

Baca Juga :  Hamil Tiga Bulan, Perempuan Ini Tewas Terlindas Truk Gandeng

Karyono dikabarkan telah menghilang sejak proses penyidikan kasus dugaan korupsi pembangunan gedung Dinas Perpustakaan dan Arsip Kota Mojokerto dimulai. Namun, pelarian Karyono yang semula tinggal di Jalan Layur Blok D-11, Desa/Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto, itu tak menghambat proses penyidikan yang dilakukan kejari. Perlu diketahui, Karyono merupakan pemborong kondang di Mojokerto. Di tahun 2014 lalu, ia mampu memperoleh proyek bernilai miliaran rupiah. Terdeteksi, empat proyek besar, dimenangkan perusahaannya.

Keempat proyek itu adalah pembangunan gedung Perpustakaan dan Arsip dengan pagu Rp 2,09 miliar, gedung Puskesmas Pembantu Balongsari dengan pagu Rp 500 juta, gedung Inspektorat dengan pagu Rp 2,2 miliar, dan gedung SDN Wates dengan pagu Rp 700 juta.

Baca Juga :  Kejari-Polisi Berebut Usut Kasus Mutasi

Setahun kemudian, BPK mengeluarkan Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) BPK dan merekomendasikan jika proyek pembangunan Perpustakaan dan Arsip terdapat kekurangan volume, dan kelebihan pembayaran senilai Rp 135 juta.

- Advertisement -

Di persidangan inabsentia pengadilan Tipikor Surabaya, Karyono divonis penjara selama 5 tahun, dan denda Rp 300 juta, serta membayar uang pengganti senilai Rp 70 juta. Untuk mengantisipasi tak dibayarnya uang pengganti, hakim Tipikor, Surabaya meminta agar melelang harta benda milik terpidana.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/