alexametrics
24.8 C
Mojokerto
Sunday, May 22, 2022

Pensiunan Pabrik Kena Tipu Rp 300 Juta Lebih

KOTA, Jawa Pos Radar Mojokerto – Wiyantono warga Kelurahan Wates, Kecamatan Magersari mengaku ditipu sejumlah orang hingga Rp 332 juta dengan jaminan putranya bakal lolos rekruitmen calon bintara (Caba) TNI AD. Kemarin siang (4/1), pria 57 tahun tersebut melapor ke Satreskrim Polres Mojokerto Kota karena janji itu tak kunjung terealisasi.

Aksi penipuan yang berlangsung pada awal 2019 silam ini bermula saat Wiyantono bertemu dengan BS. Pria asal Bojonegoro tersebut mengaku bisa membantu Krisna, putra Wiyantono menjadi anggota TNI tanpa proses seleksi. BS merupakan sosok yang direkomendasikan oleh JS, teman Wiyantono semasa masih kerja di pabrik kawasan Rungkut, Surabaya.

Setelah pertemuan itu, BS mendatangi rumah Wiyantono dan meminta uang sebesar Rp 50 juta sebagai uang muka. Biaya tersebut ditransfer ke rekening BS melalui rekening istri korban pada 16 Mei 2019. ’’Uang tanda jadi katanya. Dia bukan anggota (TNI), tapi saya ya percaya saja karena katanya sudah banyak yang diloloskan,’’ ungkap Wiyantono kepada Jawa Pos Radar Mojokerto.

Hampir sebulan kemudian, keluarga korban diajak bertemu dengan seorang pria berinisial FP di sebuah hotel di Surabaya. Pria yang tak diketahui domisilinya ini mengaku bekerja di Kementerian Sekretariat Negara RI sebagai tangan kanannya Jusuf Kalla, wapres saat itu. Korban kali ini diminta uang sebesar Rp 100 juta sebagai biaya pemulus untuk memasukkan anaknya sebagai anggota TNI.

Baca Juga :  Dua Brankas SMKN 1 Pungging Dibobol, Uang Setengah Miliar Digondol

Tak hanya itu, FP juga memberi iming-iming bisa meloloskan istrinya sebagai PNS di Mojokerto asal mau membayar Rp 50 juta. Total uang sebesar Rp 150 juta diberikan ke FP melalui sang sopir berinisial AG saat itu juga. Penyerahan itu dilakukan tanpa kuitansi atau bukti tertulis.

Wiyantono menyebut, anaknya sempat tinggal selama tiga bulan di asrama Kodam V Brawijaya untuk menjalani pelatihan persiapan seleksi. Namun, saat hendak mendaftar di Ajenrem Mojokerto sebagai Caba TNI-AD ternyata tidak ada kuota rekruitmen. ’’Saya langsung menghubungi orang itu (FP) karena anak saya tidak masuk. Dan sopirnya (AG) datang ke rumah saya dan minta uang lagi Rp 100 juta,’’ terangnya.

Uang tambahan diserahkan secara langsung tanpa tanda terima. Wiyantono mengaku sempat menaruh curiga dengan FP. Namun, karena terus diyakinkan oleh BS, ia tetap menuruti permintaan pelaku. Bahkan, tak hanya berhenti di situ, FP kembali meminta uang sebesar Rp 25 juta dengan dalih untuk biaya pemindahan data rekruitmen. Rp 15 juta ditransfer lewat kantor pos dan Rp 10 juta lewat rekening istrinya.

Baca Juga :  Bekas MI Tewas Tenggelam

’’Saya curiga, tapi disuruh percaya terus. Orang itu (FP) minta-minta uang terus,’’ ujar dia. Permintaan itu terus berlanjut hingga akhirnya korban kembali dipaksa menyerahkan uang sebesar Rp 32,9 juta untuk keperluan tes serta Rp 30 juta untuk pengangkatan PNS istrinya. ’’Kalau tidak saya beri katanya tesnya batal,’’ imbuhnya lirih.

Hingga berbulan-bulan kemudian, proses itu tak kunjung terealisasi. Seleksi masuk TNI maupun PNS tak ada yang jelas jluntrungannya. Pelaku mulai sulit dihubungi. Selama dua tahun dia berusaha menagih dan mencari kejelasan, namun tidak ketemu. Total uang yang telah diserahkan ke BS, AG, dan FP selama proses ini sebesar Rp 332.900.000. Uang tersebut merupakan hasil dari pesangon yang didapatnya saat pensiun dini hari serta berbagai sumber mulai dari menjual perhiasan hingga pinjam ke bank.

Kemarin, korban mendatangi Mapolres Mojokerto Kota sekitar pukul 13.30. Dia diantar petugas satsabhara ke satreskrim untuk melaporkan kasus penipuan tersebut. Hingga sore, korban masih dimintai keterangan oleh penyidik di ruang unit 3. ’’Masih diperiksa penyidik sepertiya. Kita belum menerima laporannya,’’ terang KBO Satreskrim Polres Mojokerto Kota Iptu Khusnul Hidayat. (adi/fen)

KOTA, Jawa Pos Radar Mojokerto – Wiyantono warga Kelurahan Wates, Kecamatan Magersari mengaku ditipu sejumlah orang hingga Rp 332 juta dengan jaminan putranya bakal lolos rekruitmen calon bintara (Caba) TNI AD. Kemarin siang (4/1), pria 57 tahun tersebut melapor ke Satreskrim Polres Mojokerto Kota karena janji itu tak kunjung terealisasi.

Aksi penipuan yang berlangsung pada awal 2019 silam ini bermula saat Wiyantono bertemu dengan BS. Pria asal Bojonegoro tersebut mengaku bisa membantu Krisna, putra Wiyantono menjadi anggota TNI tanpa proses seleksi. BS merupakan sosok yang direkomendasikan oleh JS, teman Wiyantono semasa masih kerja di pabrik kawasan Rungkut, Surabaya.

Setelah pertemuan itu, BS mendatangi rumah Wiyantono dan meminta uang sebesar Rp 50 juta sebagai uang muka. Biaya tersebut ditransfer ke rekening BS melalui rekening istri korban pada 16 Mei 2019. ’’Uang tanda jadi katanya. Dia bukan anggota (TNI), tapi saya ya percaya saja karena katanya sudah banyak yang diloloskan,’’ ungkap Wiyantono kepada Jawa Pos Radar Mojokerto.

Hampir sebulan kemudian, keluarga korban diajak bertemu dengan seorang pria berinisial FP di sebuah hotel di Surabaya. Pria yang tak diketahui domisilinya ini mengaku bekerja di Kementerian Sekretariat Negara RI sebagai tangan kanannya Jusuf Kalla, wapres saat itu. Korban kali ini diminta uang sebesar Rp 100 juta sebagai biaya pemulus untuk memasukkan anaknya sebagai anggota TNI.

Baca Juga :  Tiga Maling Satroni Markas Damkar

Tak hanya itu, FP juga memberi iming-iming bisa meloloskan istrinya sebagai PNS di Mojokerto asal mau membayar Rp 50 juta. Total uang sebesar Rp 150 juta diberikan ke FP melalui sang sopir berinisial AG saat itu juga. Penyerahan itu dilakukan tanpa kuitansi atau bukti tertulis.

Wiyantono menyebut, anaknya sempat tinggal selama tiga bulan di asrama Kodam V Brawijaya untuk menjalani pelatihan persiapan seleksi. Namun, saat hendak mendaftar di Ajenrem Mojokerto sebagai Caba TNI-AD ternyata tidak ada kuota rekruitmen. ’’Saya langsung menghubungi orang itu (FP) karena anak saya tidak masuk. Dan sopirnya (AG) datang ke rumah saya dan minta uang lagi Rp 100 juta,’’ terangnya.

- Advertisement -

Uang tambahan diserahkan secara langsung tanpa tanda terima. Wiyantono mengaku sempat menaruh curiga dengan FP. Namun, karena terus diyakinkan oleh BS, ia tetap menuruti permintaan pelaku. Bahkan, tak hanya berhenti di situ, FP kembali meminta uang sebesar Rp 25 juta dengan dalih untuk biaya pemindahan data rekruitmen. Rp 15 juta ditransfer lewat kantor pos dan Rp 10 juta lewat rekening istrinya.

Baca Juga :  Hakim Tipikor Cium Ada Aroma Balas Dendam

’’Saya curiga, tapi disuruh percaya terus. Orang itu (FP) minta-minta uang terus,’’ ujar dia. Permintaan itu terus berlanjut hingga akhirnya korban kembali dipaksa menyerahkan uang sebesar Rp 32,9 juta untuk keperluan tes serta Rp 30 juta untuk pengangkatan PNS istrinya. ’’Kalau tidak saya beri katanya tesnya batal,’’ imbuhnya lirih.

Hingga berbulan-bulan kemudian, proses itu tak kunjung terealisasi. Seleksi masuk TNI maupun PNS tak ada yang jelas jluntrungannya. Pelaku mulai sulit dihubungi. Selama dua tahun dia berusaha menagih dan mencari kejelasan, namun tidak ketemu. Total uang yang telah diserahkan ke BS, AG, dan FP selama proses ini sebesar Rp 332.900.000. Uang tersebut merupakan hasil dari pesangon yang didapatnya saat pensiun dini hari serta berbagai sumber mulai dari menjual perhiasan hingga pinjam ke bank.

Kemarin, korban mendatangi Mapolres Mojokerto Kota sekitar pukul 13.30. Dia diantar petugas satsabhara ke satreskrim untuk melaporkan kasus penipuan tersebut. Hingga sore, korban masih dimintai keterangan oleh penyidik di ruang unit 3. ’’Masih diperiksa penyidik sepertiya. Kita belum menerima laporannya,’’ terang KBO Satreskrim Polres Mojokerto Kota Iptu Khusnul Hidayat. (adi/fen)

Artikel Terkait

Most Read

Belum Game Over

Asyik di Kamar Kos LC, Digedor Polisi

Desak Kejari Usut Kasus PTSL

Artikel Terbaru


/