alexametrics
24.8 C
Mojokerto
Friday, May 27, 2022

Pesangon PHK dari Perusahaan Cair, Pilih Langsung Diinvestasikan

KOTA, Jawa Pos Radar Mojokerto – Ratusan korban yang melapor ke polresta ini didominasi eks karyawan Tjiwi Kimia, Sidoarjo, yang tersentuh pemutusan hubungan kerja (PHK). Usai di PHK, pesangon pun digunakan untuk investasi. ’’Saya tertarik karena memang kepala cabang (RHS Group), mantan orang PT Tjiwi Kimia,’’ papar Cahyo.

Sadar menjadi korban penipuan investasi bodong, didampingi kuasa hukum, Tutik Rahayu Laremba, SH mereka sepakat untuk melaporkan manajeman RHS Group ke polisi. ’’Sementara, ada tiga (orang) yang kami laporkan,” jelas Tutik.

Yakni, direktur MR, kepala cabang DW, dan koordinator lapangan MG. Ia menjelaskan, diduga ketiganya adalah otak dari investasi yang menyasar sebanyak 110 korban. ”Ratusan korban ini sebenarnya hanya bagian kecil dari sekitar 500 orang juga menjadi korban,” katanya.

Ia menambahkan, nilai kerugian atas dugaan penipuan investasi bodong tersebut bervariatif. Dari yang paling rendah Rp 5 juta hingga menembus angka Rp 1 miliar per orang. ’’Khusus klien yang kami damping ini, kerugiannya mencapai Rp 7 miliar,’’ tandasnya.

Baca Juga :  Tujuh PMK Kesulitan Padamkan Sumber Api di PT Cort Indonesia

Ia mengungkapkan, memang dalam meyakinkan korbannya, modus yang diterapkan para terlapor adalah membagi hasil sebesar 5 persen dari nominal yang diinvestasikan. Misalkan, lanjut Tutik, dari nilai investasi Rp 10 juta, korban menerima fee Rp 500 ribu. Sedangkan, uang investasi yang ditanamkan akan dikelola untuk bisnis bahan bangunan sekaligus menjadi suplier. ’’Tapi ternyata, suplier bahan bangunannya juga tidak ada atau bodong,’’ ujarnya.

Di samping itu, untuk meyakinkan korban kembali, agar investasi yang ditanam lebih besar, para terlapor menjanjikan pemberian tambahan bonus 10 persen di luar fee. ’’Makanya, satu korban tidak hanya investasi satu kali. Bahkan, ada yang berulang kali,” tandasnya.

Dengan demikian, nilai kerugian yang dialami para korban berbeda. Masing-masing kehilangan Rp 300 juta, Rp 500 juta, hingga yang paling tinggi Rp 1 miliar per orang. Tutik menegaskan, dari pengakuan para korban yang didampingi, selama menggulirkan investasi abal-abal ini belakangan dilakukan dengan cukup rapi dan menggiurkan.

Baca Juga :  Tetangga Sampaikan Permintaan Maaf Terbuka

Terlapor lebih dulu sebatas menawarkan investasi kecil-kecilan, yakni Rp 5 juta hingga Rp 10 juta. Dari situ, fee yang diberikan pun tak banyak. Namun, kondisi itu berbanding terbalik saat para korban terlanjur menginvestasikan uang mereka dalam jumlah tinggi. RHS Group sekadar memberikan fee rata-rata tiga kali pada masing-masing korban.

’’Selebihnya macet. Uang korban sampai sekarang juga tak kembali,’’ pungkasnya. (ori/ris)

 

KOTA, Jawa Pos Radar Mojokerto – Ratusan korban yang melapor ke polresta ini didominasi eks karyawan Tjiwi Kimia, Sidoarjo, yang tersentuh pemutusan hubungan kerja (PHK). Usai di PHK, pesangon pun digunakan untuk investasi. ’’Saya tertarik karena memang kepala cabang (RHS Group), mantan orang PT Tjiwi Kimia,’’ papar Cahyo.

Sadar menjadi korban penipuan investasi bodong, didampingi kuasa hukum, Tutik Rahayu Laremba, SH mereka sepakat untuk melaporkan manajeman RHS Group ke polisi. ’’Sementara, ada tiga (orang) yang kami laporkan,” jelas Tutik.

Yakni, direktur MR, kepala cabang DW, dan koordinator lapangan MG. Ia menjelaskan, diduga ketiganya adalah otak dari investasi yang menyasar sebanyak 110 korban. ”Ratusan korban ini sebenarnya hanya bagian kecil dari sekitar 500 orang juga menjadi korban,” katanya.

Ia menambahkan, nilai kerugian atas dugaan penipuan investasi bodong tersebut bervariatif. Dari yang paling rendah Rp 5 juta hingga menembus angka Rp 1 miliar per orang. ’’Khusus klien yang kami damping ini, kerugiannya mencapai Rp 7 miliar,’’ tandasnya.

Baca Juga :  Tiga Rumah Dirusak

Ia mengungkapkan, memang dalam meyakinkan korbannya, modus yang diterapkan para terlapor adalah membagi hasil sebesar 5 persen dari nominal yang diinvestasikan. Misalkan, lanjut Tutik, dari nilai investasi Rp 10 juta, korban menerima fee Rp 500 ribu. Sedangkan, uang investasi yang ditanamkan akan dikelola untuk bisnis bahan bangunan sekaligus menjadi suplier. ’’Tapi ternyata, suplier bahan bangunannya juga tidak ada atau bodong,’’ ujarnya.

Di samping itu, untuk meyakinkan korban kembali, agar investasi yang ditanam lebih besar, para terlapor menjanjikan pemberian tambahan bonus 10 persen di luar fee. ’’Makanya, satu korban tidak hanya investasi satu kali. Bahkan, ada yang berulang kali,” tandasnya.

- Advertisement -

Dengan demikian, nilai kerugian yang dialami para korban berbeda. Masing-masing kehilangan Rp 300 juta, Rp 500 juta, hingga yang paling tinggi Rp 1 miliar per orang. Tutik menegaskan, dari pengakuan para korban yang didampingi, selama menggulirkan investasi abal-abal ini belakangan dilakukan dengan cukup rapi dan menggiurkan.

Baca Juga :  Tujuh PMK Kesulitan Padamkan Sumber Api di PT Cort Indonesia

Terlapor lebih dulu sebatas menawarkan investasi kecil-kecilan, yakni Rp 5 juta hingga Rp 10 juta. Dari situ, fee yang diberikan pun tak banyak. Namun, kondisi itu berbanding terbalik saat para korban terlanjur menginvestasikan uang mereka dalam jumlah tinggi. RHS Group sekadar memberikan fee rata-rata tiga kali pada masing-masing korban.

’’Selebihnya macet. Uang korban sampai sekarang juga tak kembali,’’ pungkasnya. (ori/ris)

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/