alexametrics
25.8 C
Mojokerto
Thursday, May 26, 2022

Angka Kekerasan Anak Terjun Bebas

KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Angka kasus kekerasan di Kabupaten Mojokerto terus menurun. Dari 73 kasus sepanjang tahun 2017, kini menurun drastis dan hanya 13 kasus saja.

Hal itu ditegaskan Kepala Dinas Pengendalian Pendudukan, Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan (DP2KBP2) Kabupaten Mojokerto Joedha Hadi. Ia menuturkan, tren yang menimpa perempuan dan anak memang terus menurun.

’’Tahun 2017 lalu, paling banyak terjadi KDRT (kekerasan dalam rumah tangga),’’ jelasnya.

Data menyebutkan, dari 73 kasus yang masuk di Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) dan kepolisian menyebutkan, jumlah KDRT sepanjang tahun 2017 mencapai 27 kasus.

Sedangkan, di tahun 2018 mencapai 18 kasus, dan di tahun 2019 tercatat hanya 1 kasus saja. Sementara, kasus pencabulan mencapai 17 kasus di tahun 2017, dan mengalami penurunan di tahun 2018 yang hanya 5 kasus saja. ’’Sedangkan, tahun ini hanya 1 kasus saja,’’ imbuh Joedha.

Baca Juga :  Aneh, Jumlah Uang ATM BCA yang Dibobol Terdakwa Berkurang

Kasus penganiayaan yang menimpa perempuan dan anak mencapai 8 kasus di tahun 2017, mengalami penurunan menjadi 3 kasus di tahun 2018, dan di tahun 2019 hanya 4 kasus saja. Pun demikian dengan kasus perkosaan yang menimpa perempuan dewasa dan anak.

Joedha menyebutkan, jumlah korban pemerkosaan mencapai 6 kasus di tahun 2017, sebanyak 5 kasus di tahun 2018, dan di tahun 2019 tercatat nihil.

Ia menerangkan, meski terjadi banyak laporan yang masuk ke P2TP2A, namun tak semuanya dialihkan ke pihak kepolisian. Karena banyak kasus yang masih bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Ia lantas mencontohkan, KDRT tak semuanya harus berakhir di kepolisian. ’’Semisal tidak diberi nafkah batin. Nah, yang seperti ini masih bisa kita selesaikan. Ada proses mediasi yang bisa ditempuh,’’ jelasnya.

Sementara, kasus yang kental dengan unsur pidana, Joedha memastikan akan mengalihkan penanganannya ke kepolisian. ’’Selagi unsur pidananya kental, seperti kasus pemerkosaan, trafficking, maka akan kita limpahkan ke kepolisian,’’ ungkapnya.

Baca Juga :  KPK Kembali Dalami Kasus TPPU, Tiga Hari Jadwalkan Pemeriksaan

Melimpahkan kasus ke kepolisian tak membuat DP2KBP2 mengalihkan penyelesaian kasus. Karena harus bertanggung jawab terhadap keberadaan korban. ’’Kita langsung memberikan penanganan untuk masa depannya. Rasa trauma itu yang akan kita tangani,’’ tegas mantan kepala dinas sosial ini. Penurunan kasus kekerasan yang menimpa perempuan dan anak, bukan tanpa sebab.

Joedha menegaskan, penyelesaian kasus tak bisa dilakukan secara instan. Melainkan harus dengan proses dan tahapan yang sistematis. Salah satu langkah yang sudah dilalui adalah penanganan seks bebas di usia dini. Ia selalu mengkampanyekan larangan itu ke sekolah-sekolah. Yakni, pusat informasi konseling remaja (PIKR).

’’Kita selalu menjelaskan ke kalangan anak di bawah umur. Seksual yang dilakukan di usia dini, akan berdampak terhadap kesehatan. Karena kespro (kesehatan reproduksi) tidak siap. Belum waktunya,’’ tandasnya. (ron/ris)

KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Angka kasus kekerasan di Kabupaten Mojokerto terus menurun. Dari 73 kasus sepanjang tahun 2017, kini menurun drastis dan hanya 13 kasus saja.

Hal itu ditegaskan Kepala Dinas Pengendalian Pendudukan, Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan (DP2KBP2) Kabupaten Mojokerto Joedha Hadi. Ia menuturkan, tren yang menimpa perempuan dan anak memang terus menurun.

’’Tahun 2017 lalu, paling banyak terjadi KDRT (kekerasan dalam rumah tangga),’’ jelasnya.

Data menyebutkan, dari 73 kasus yang masuk di Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) dan kepolisian menyebutkan, jumlah KDRT sepanjang tahun 2017 mencapai 27 kasus.

Sedangkan, di tahun 2018 mencapai 18 kasus, dan di tahun 2019 tercatat hanya 1 kasus saja. Sementara, kasus pencabulan mencapai 17 kasus di tahun 2017, dan mengalami penurunan di tahun 2018 yang hanya 5 kasus saja. ’’Sedangkan, tahun ini hanya 1 kasus saja,’’ imbuh Joedha.

Baca Juga :  Aneh, Jumlah Uang ATM BCA yang Dibobol Terdakwa Berkurang

Kasus penganiayaan yang menimpa perempuan dan anak mencapai 8 kasus di tahun 2017, mengalami penurunan menjadi 3 kasus di tahun 2018, dan di tahun 2019 hanya 4 kasus saja. Pun demikian dengan kasus perkosaan yang menimpa perempuan dewasa dan anak.

- Advertisement -

Joedha menyebutkan, jumlah korban pemerkosaan mencapai 6 kasus di tahun 2017, sebanyak 5 kasus di tahun 2018, dan di tahun 2019 tercatat nihil.

Ia menerangkan, meski terjadi banyak laporan yang masuk ke P2TP2A, namun tak semuanya dialihkan ke pihak kepolisian. Karena banyak kasus yang masih bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Ia lantas mencontohkan, KDRT tak semuanya harus berakhir di kepolisian. ’’Semisal tidak diberi nafkah batin. Nah, yang seperti ini masih bisa kita selesaikan. Ada proses mediasi yang bisa ditempuh,’’ jelasnya.

Sementara, kasus yang kental dengan unsur pidana, Joedha memastikan akan mengalihkan penanganannya ke kepolisian. ’’Selagi unsur pidananya kental, seperti kasus pemerkosaan, trafficking, maka akan kita limpahkan ke kepolisian,’’ ungkapnya.

Baca Juga :  Penerapan Dua Jalur Jadi Satu Arah Bikin Bingung

Melimpahkan kasus ke kepolisian tak membuat DP2KBP2 mengalihkan penyelesaian kasus. Karena harus bertanggung jawab terhadap keberadaan korban. ’’Kita langsung memberikan penanganan untuk masa depannya. Rasa trauma itu yang akan kita tangani,’’ tegas mantan kepala dinas sosial ini. Penurunan kasus kekerasan yang menimpa perempuan dan anak, bukan tanpa sebab.

Joedha menegaskan, penyelesaian kasus tak bisa dilakukan secara instan. Melainkan harus dengan proses dan tahapan yang sistematis. Salah satu langkah yang sudah dilalui adalah penanganan seks bebas di usia dini. Ia selalu mengkampanyekan larangan itu ke sekolah-sekolah. Yakni, pusat informasi konseling remaja (PIKR).

’’Kita selalu menjelaskan ke kalangan anak di bawah umur. Seksual yang dilakukan di usia dini, akan berdampak terhadap kesehatan. Karena kespro (kesehatan reproduksi) tidak siap. Belum waktunya,’’ tandasnya. (ron/ris)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/