alexametrics
29.8 C
Mojokerto
Thursday, May 19, 2022

Kades Terlibat Peredaran Uang Palsu

DLANGGU, Jawa Pos Radar Mojokerto – Petugas kepolisian berhasil mengembangkan kasus uang palsu (upal) yang bakal diedarkan di wilayah Kecamatan Dlanggu, Kabupaten Mojokerto. Kini, pelaku pemalsuan uang tersebut bertambah menjadi dua orang. Salah satunya adalah adalah seorang kepala desa (kades) di Kabupaten Nganjuk.

Kapolres Mojokerto AKBP Dony Aleksander menjelaskan, dalam kasus peredaran upal senilai Rp 40 juta itu pihaknya telah mengamankan dua orang tersangka. Di antaranya, Setyawan, 46, warga  Dusun Tukangan, Desa/Kecamatan Gudo, Kabupaten Jombang, dan satu pelaku lainnya adalah kepala desa asal Ngajuk. Keduanya diduga dalam satu jaringan. ”Itu adalah hasil pengembangan yang kini telah kita limpahkan ke Polda Jatim,” ujarnya di Mapolsek Dlanggu.

Terbongkarnya kasus upal yang bakal diedarkan di wilayah Kabupaten Mojokerto itu berawal dari tertangkapnya Setyawan. Pelaku diamankan Unitreskrim Polsek Dlanggu saat melakukan transaksi upal di Kecamatan Dlanggu pada Kamis (18/02) sekitar pukul 19.30. ”Saat digeledah, petugas mendapati sejumlah uang palsu senilai Rp 40 juta yang disimpan di (dalam) tasnya,” bebernya.

Baca Juga :  Sita 125 Botol Miras dari Warkop

Dari hasil pemeriksaan sejumlah upal tersebut rencananya bakal diedarkan pelaku di wilayah Kecamatan Dlanggu. Dengan tujuan menipu masyarakat dengan modus mencampur uang asli dengan uang palsu. ”Pelaku mengedarkan uang palsu dengan sistem 1:5. Artinya pembeli membayar dengan uang asli Rp 1 juta dan mendapat uang palsu Rp 5 juta,” ungkapnya.

Dari tangan pelaku, setidaknya petugas berhasil menyita sejumlah barang barang bukti. Di antaranya, tas kecil warna cokelat untuk menyimpan upal, 400 lembar upal pecahan Rp 100 ribu, dan sebuah (handphone) HP merek Xiaomi. Atas aksinya itu kedua pelaku dijerat dengan pasal 245 KUHP tentang Uang Palsu dan pasal 36 ayat (2) dan atau ayat (3) Undang-Undang RI Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang. Dengan hukuman maksimal 15 tahun penjara dan denda Rp 10 miliar.

Baca Juga :  Dipindahkan dari Mapolresta, Mobil Sitaan KPK Dititipkan di Rubpasan

Hingga kini, petugas terus melakukan upaya pengembangan guna membongkar peredaran upal yang meresahkan masyarakat itu. Sehingga, dapat meringkus semua pelaku yang terlibat dalam proses pemalsuan mata uang tersebut. ”Tim gabungan masih melakukan pengembangan untuk mencari dalang pembuat uang palsu yang disebarkan dengan cara menyelipkan uang palsu diantara uang asli di tengah masyarakat tersebut,” tandasnya. (vad)

DLANGGU, Jawa Pos Radar Mojokerto – Petugas kepolisian berhasil mengembangkan kasus uang palsu (upal) yang bakal diedarkan di wilayah Kecamatan Dlanggu, Kabupaten Mojokerto. Kini, pelaku pemalsuan uang tersebut bertambah menjadi dua orang. Salah satunya adalah adalah seorang kepala desa (kades) di Kabupaten Nganjuk.

Kapolres Mojokerto AKBP Dony Aleksander menjelaskan, dalam kasus peredaran upal senilai Rp 40 juta itu pihaknya telah mengamankan dua orang tersangka. Di antaranya, Setyawan, 46, warga  Dusun Tukangan, Desa/Kecamatan Gudo, Kabupaten Jombang, dan satu pelaku lainnya adalah kepala desa asal Ngajuk. Keduanya diduga dalam satu jaringan. ”Itu adalah hasil pengembangan yang kini telah kita limpahkan ke Polda Jatim,” ujarnya di Mapolsek Dlanggu.

Terbongkarnya kasus upal yang bakal diedarkan di wilayah Kabupaten Mojokerto itu berawal dari tertangkapnya Setyawan. Pelaku diamankan Unitreskrim Polsek Dlanggu saat melakukan transaksi upal di Kecamatan Dlanggu pada Kamis (18/02) sekitar pukul 19.30. ”Saat digeledah, petugas mendapati sejumlah uang palsu senilai Rp 40 juta yang disimpan di (dalam) tasnya,” bebernya.

Baca Juga :  Dishub Kaji Ulang Jam Larangan

Dari hasil pemeriksaan sejumlah upal tersebut rencananya bakal diedarkan pelaku di wilayah Kecamatan Dlanggu. Dengan tujuan menipu masyarakat dengan modus mencampur uang asli dengan uang palsu. ”Pelaku mengedarkan uang palsu dengan sistem 1:5. Artinya pembeli membayar dengan uang asli Rp 1 juta dan mendapat uang palsu Rp 5 juta,” ungkapnya.

Dari tangan pelaku, setidaknya petugas berhasil menyita sejumlah barang barang bukti. Di antaranya, tas kecil warna cokelat untuk menyimpan upal, 400 lembar upal pecahan Rp 100 ribu, dan sebuah (handphone) HP merek Xiaomi. Atas aksinya itu kedua pelaku dijerat dengan pasal 245 KUHP tentang Uang Palsu dan pasal 36 ayat (2) dan atau ayat (3) Undang-Undang RI Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang. Dengan hukuman maksimal 15 tahun penjara dan denda Rp 10 miliar.

Baca Juga :  Sopir Tewas Diduga Dibunuh, Kaki Diikat, Tubuh Ditenggelamkan

Hingga kini, petugas terus melakukan upaya pengembangan guna membongkar peredaran upal yang meresahkan masyarakat itu. Sehingga, dapat meringkus semua pelaku yang terlibat dalam proses pemalsuan mata uang tersebut. ”Tim gabungan masih melakukan pengembangan untuk mencari dalang pembuat uang palsu yang disebarkan dengan cara menyelipkan uang palsu diantara uang asli di tengah masyarakat tersebut,” tandasnya. (vad)

Artikel Terkait

Most Read

SMAN 3 Kota Mulai Tatap Muka

Reputasi yang Gesit dan Andal

Boikot Ujian, Dipendik Turun Tangan

Artikel Terbaru


/