alexametrics
23.8 C
Mojokerto
Friday, May 27, 2022

Pentolalan Eks HTI Jatim Dituntut Tiga Bulan Penjara

SOOKO, Jawa Pos Radar Mojokerto – Eks pentolan HTI Jatim, Heru Ivan Wijaya, 45, dituntut hukuman penjara sangat ringan oleh jaksa penuntut umum (JPU), dalam sidang lanjutan di Pengadilan Negeri (PN) Mojokerto, Selasa (1/10). Ia dituntut hukuman penjara selama tiga bulan atas perbuatannya melanggar Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Di depan majelis hakim Agus Walujo Tjahjono, tuntutan itu dibacakan langsung JPU Kejari Mojokerto Ivan Yoko. Ia menyebut, terdakwa telah melanggar pasal 28 ayat 2 tentang menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).

Penyebaran informasi itu dilakukan Heru Ivan melalui akun facebook milik terdakwa pada 17-21 Juni 2018, 18 Juni 2018, dan pada 21 Juni 2018. Dengan berbagai bukti dan saksi yang dihadirkan selama proses persidangan, Heru Ivan diyakini melanggar pasal 28 ayat 2. JPU pun menuntut hukuman penjara selama 3 bulan kurungan penjara.

Baca Juga :  Penjaga Sarang Walet Tewas

Sementara itu, kuasa hukum Heru Ivan Yoko, Zulkahidir, SH menilai, tuntutan hukuman penjara selama tiga bulan ini, sebagai bentuk keraguan atas pidana yang telah dilakukan kliennya. ’’Mereka ragu. Seharusnya dituntut bebas. Karena apa yang dilakukan adalah bagian dari dakwah,’’ ungkapnya pasca sidang berlangsung. Seharusnya, kata Zulkahidir, jaksa tak perlu malu untuk menuntut bebas kliennya.

Dia menegaskan, unggahan status di akun facebook pribadi kliennya yang menjadi pangkal persoalan tersebut, dinilai tak menyalahi kaidah di negeri ini. ’’Apa yang dilanggar? Kontennya jelas-jelas hanya menasihati agar ormas Islam tidak bekerja sama dengan teroris Yahudi. Secara fiqih tidak ada yang salah,’’ tegas dia.

Sementara itu, meski tuntutan terhadap kliennya sangat ringan, namun Zulkahidir tetap akan mengajukan pembelaan. Dan, proses persidangan pun ditunda pekan depan dengan agenda pleidoi. Perlu diketahui, Heru Ivan Wijaya dijebloskan ke Lapas Kelas II-B Mojokerto sejak kasus ini dinyatakan lengkap (P-21) pada pertengahan Agustus lalu. Pria asal Desa Tunggal Pager, Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto itu menjadi tersangka kasus ujaran kebencian terhadap salah satu ormas.

Baca Juga :  Korban Kecelakaan Maut di Dawarblandong Menjadi Empat Orang

Eks pentolan organisasi terlarang itu dilaporkan ke polisi oleh salah satu ormas kepemudaan di Kabupaten Mojokerto. Oleh polisi, Heru lantas ditetapkan sebagai tersangka karena dinilai melanggar pasal 45A juncto pasal 28 ayat 2 Undang-Undang RI No 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-UndangU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang ITE.

Pasca menyandang status tersangka, Heru melakukan perlawanan dan mengajukan praperadilan terhadap Kapolres Mojokerto AKBP Setyo Koes Heriyatno. Gugatan Heru diajukan melalui tim kuasa hukumnya, yaitu LBH Pelita Umat pada April 2019. Namun, Kamis (11/4), hakim PN Mojokerto menolak permohonan Heru. Dia tetap menyandang status tersangka kasus ujaran kebencian atau hate speech.

SOOKO, Jawa Pos Radar Mojokerto – Eks pentolan HTI Jatim, Heru Ivan Wijaya, 45, dituntut hukuman penjara sangat ringan oleh jaksa penuntut umum (JPU), dalam sidang lanjutan di Pengadilan Negeri (PN) Mojokerto, Selasa (1/10). Ia dituntut hukuman penjara selama tiga bulan atas perbuatannya melanggar Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Di depan majelis hakim Agus Walujo Tjahjono, tuntutan itu dibacakan langsung JPU Kejari Mojokerto Ivan Yoko. Ia menyebut, terdakwa telah melanggar pasal 28 ayat 2 tentang menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).

Penyebaran informasi itu dilakukan Heru Ivan melalui akun facebook milik terdakwa pada 17-21 Juni 2018, 18 Juni 2018, dan pada 21 Juni 2018. Dengan berbagai bukti dan saksi yang dihadirkan selama proses persidangan, Heru Ivan diyakini melanggar pasal 28 ayat 2. JPU pun menuntut hukuman penjara selama 3 bulan kurungan penjara.

Baca Juga :  Bocah SD Tewas di Kolam TPA

Sementara itu, kuasa hukum Heru Ivan Yoko, Zulkahidir, SH menilai, tuntutan hukuman penjara selama tiga bulan ini, sebagai bentuk keraguan atas pidana yang telah dilakukan kliennya. ’’Mereka ragu. Seharusnya dituntut bebas. Karena apa yang dilakukan adalah bagian dari dakwah,’’ ungkapnya pasca sidang berlangsung. Seharusnya, kata Zulkahidir, jaksa tak perlu malu untuk menuntut bebas kliennya.

Dia menegaskan, unggahan status di akun facebook pribadi kliennya yang menjadi pangkal persoalan tersebut, dinilai tak menyalahi kaidah di negeri ini. ’’Apa yang dilanggar? Kontennya jelas-jelas hanya menasihati agar ormas Islam tidak bekerja sama dengan teroris Yahudi. Secara fiqih tidak ada yang salah,’’ tegas dia.

Sementara itu, meski tuntutan terhadap kliennya sangat ringan, namun Zulkahidir tetap akan mengajukan pembelaan. Dan, proses persidangan pun ditunda pekan depan dengan agenda pleidoi. Perlu diketahui, Heru Ivan Wijaya dijebloskan ke Lapas Kelas II-B Mojokerto sejak kasus ini dinyatakan lengkap (P-21) pada pertengahan Agustus lalu. Pria asal Desa Tunggal Pager, Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto itu menjadi tersangka kasus ujaran kebencian terhadap salah satu ormas.

Baca Juga :  Tuntut Tuntaskan Kasus Pembacokan
- Advertisement -

Eks pentolan organisasi terlarang itu dilaporkan ke polisi oleh salah satu ormas kepemudaan di Kabupaten Mojokerto. Oleh polisi, Heru lantas ditetapkan sebagai tersangka karena dinilai melanggar pasal 45A juncto pasal 28 ayat 2 Undang-Undang RI No 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-UndangU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang ITE.

Pasca menyandang status tersangka, Heru melakukan perlawanan dan mengajukan praperadilan terhadap Kapolres Mojokerto AKBP Setyo Koes Heriyatno. Gugatan Heru diajukan melalui tim kuasa hukumnya, yaitu LBH Pelita Umat pada April 2019. Namun, Kamis (11/4), hakim PN Mojokerto menolak permohonan Heru. Dia tetap menyandang status tersangka kasus ujaran kebencian atau hate speech.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/