alexametrics
30.8 C
Mojokerto
Monday, August 15, 2022

Mojosari Jadi Tempat Transit Anak PUNK asal Luar Jawa Timur

MOJOSARI, Jawa Pos Radar Mojokerto – Satpol PP Kabupaten Mojokerto menjaring delapan anak jalanan di Simpang Empat Panjer, Kelurahan/Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto, kemarin pagi. Anak punk dari luar daerah itu ditertibkan lantaran dianggap meresahkan warga setempat.

Petugas lantas diterjunkan ke lokasi untuk mengantisipasi terjadinya gangguan keamanan dan ketertiban di lokasi. Karena aktivitas anak punk persimpangan jalur strategis itu sudah diatur dalam Perda Kabupaten Mojokerto No 2 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Ketertiban Umum dan Ketentraman Masyarakat. Terlebih, mereka sudah bertahan di lokasi selama tiga hari ini.

”Kami merespon laporan dari masyarakat yang resah akan keberadaan anak punk ini. Kami langsung tindak lanjuti untuk mengantisipasi terjadinya hal yang tidak diinginkan,” ujar Kabid Penegakan Perundang-Undangan Daerah Satpol PP Kabupaten Mojokerto Zainul Hasan.

Kedelapan remaja bertato dan bertindik tersebut langsung diperiksa di lokasi. Sejumlah barang bawaan mereka pun digeledah petugas untuk memastikan tidak adanya potensi aksi yang berujung melanggar hukum.

Baca Juga :  MPLS SD Mamba’ul Ihsan, Ragam Kegiatan Adaptasi yang Menyenangkan

Hasilnya, tidak ada benda tajam maupun berbahaya dari sejumlah tas remaja berpenampilan sangar itu. Kedelapan pemuda yang rata-rata berusia belasan tahun tersebut datang dari luar daerah. Dari wilayah Jawa Tengah, Jawa Barat, hingga Sumatera Barat.

”Setelah kami lakukan asesmen, mereka dari luar Jawa Timur semua. Tidak ada sajam atau benda sejenisnya setelah kami geledah,” sebutnya. Lebih lanjut, wilayah Mojosari bukan jadi tujuan kedelapan anak punk tersebut. Mereka hendak menghadiri acara musik punk di wilayah Lowokwaru, Kota Malang. Mereka mengaku hanya singgah di Mojosari.

”Mereka mau mendatangi semacam konser musik punk. Jadi mereka di sini cuma transit saja,” terangnya. Saat diperiksa, mereka mengaku selama di Mojosari tidur di emperan toko dan bertahan dengan mengamen di lampu merah.

Baca Juga :  Braak! Panther-Truk Beradu Moncong, Ini yang Terjadi

Meski begitu dipastikan tidak ada aksi pemalakan bagi pengguna jalan dan toko di sekitar lokasi. Sehingga petugas mengarahkan kelompok anak punk tersebut untuk melanjutkan perjalanan usai dilakukan pemeriksaan.

”Mereka tidak kami rehabilitasi (sosial) karena memang ada tujuan ke Malang. Dan, mereka memang membawa bekal. Beda lagi kalau kalau anak jalanan yang nomaden atau tidak ada tujuan,” sebutnya.

Hingga kemarin petang, petugas melakukan pemantauan di sejumlah titik persimpangan lampu merah di wilayah Mojosari. Tak lain guna memastikan kelompok anak punk tersebut benar-benar melanjutkan perjalannya. ”Sampai tadi (kemarin) sore mereka sudah tidak ada di situ. Begitu pun di titik lain. Tujuan kami hanya untuk mengamankan wilayah dari potensi tindak anarkis maupun pemalakan,” tandas Zainul. (vad/ron)

MOJOSARI, Jawa Pos Radar Mojokerto – Satpol PP Kabupaten Mojokerto menjaring delapan anak jalanan di Simpang Empat Panjer, Kelurahan/Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto, kemarin pagi. Anak punk dari luar daerah itu ditertibkan lantaran dianggap meresahkan warga setempat.

Petugas lantas diterjunkan ke lokasi untuk mengantisipasi terjadinya gangguan keamanan dan ketertiban di lokasi. Karena aktivitas anak punk persimpangan jalur strategis itu sudah diatur dalam Perda Kabupaten Mojokerto No 2 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Ketertiban Umum dan Ketentraman Masyarakat. Terlebih, mereka sudah bertahan di lokasi selama tiga hari ini.

”Kami merespon laporan dari masyarakat yang resah akan keberadaan anak punk ini. Kami langsung tindak lanjuti untuk mengantisipasi terjadinya hal yang tidak diinginkan,” ujar Kabid Penegakan Perundang-Undangan Daerah Satpol PP Kabupaten Mojokerto Zainul Hasan.

Kedelapan remaja bertato dan bertindik tersebut langsung diperiksa di lokasi. Sejumlah barang bawaan mereka pun digeledah petugas untuk memastikan tidak adanya potensi aksi yang berujung melanggar hukum.

Baca Juga :  MPLS SD Mamba’ul Ihsan, Ragam Kegiatan Adaptasi yang Menyenangkan

Hasilnya, tidak ada benda tajam maupun berbahaya dari sejumlah tas remaja berpenampilan sangar itu. Kedelapan pemuda yang rata-rata berusia belasan tahun tersebut datang dari luar daerah. Dari wilayah Jawa Tengah, Jawa Barat, hingga Sumatera Barat.

”Setelah kami lakukan asesmen, mereka dari luar Jawa Timur semua. Tidak ada sajam atau benda sejenisnya setelah kami geledah,” sebutnya. Lebih lanjut, wilayah Mojosari bukan jadi tujuan kedelapan anak punk tersebut. Mereka hendak menghadiri acara musik punk di wilayah Lowokwaru, Kota Malang. Mereka mengaku hanya singgah di Mojosari.

- Advertisement -

”Mereka mau mendatangi semacam konser musik punk. Jadi mereka di sini cuma transit saja,” terangnya. Saat diperiksa, mereka mengaku selama di Mojosari tidur di emperan toko dan bertahan dengan mengamen di lampu merah.

Baca Juga :  Pelajar SMP Bobol Panti Asuhan Sampai 9 Kali

Meski begitu dipastikan tidak ada aksi pemalakan bagi pengguna jalan dan toko di sekitar lokasi. Sehingga petugas mengarahkan kelompok anak punk tersebut untuk melanjutkan perjalanan usai dilakukan pemeriksaan.

”Mereka tidak kami rehabilitasi (sosial) karena memang ada tujuan ke Malang. Dan, mereka memang membawa bekal. Beda lagi kalau kalau anak jalanan yang nomaden atau tidak ada tujuan,” sebutnya.

Hingga kemarin petang, petugas melakukan pemantauan di sejumlah titik persimpangan lampu merah di wilayah Mojosari. Tak lain guna memastikan kelompok anak punk tersebut benar-benar melanjutkan perjalannya. ”Sampai tadi (kemarin) sore mereka sudah tidak ada di situ. Begitu pun di titik lain. Tujuan kami hanya untuk mengamankan wilayah dari potensi tindak anarkis maupun pemalakan,” tandas Zainul. (vad/ron)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/