Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Perceraian Meningkat, Ada Apa dengan Keluarga Kita?

Indah Oceananda • Jumat, 2 Januari 2026 | 20:32 WIB

Achmad Jibril Ristiawan Mahasiswa Program Studi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Muhammadiyah Malang, NIM: 202410310110009
Achmad Jibril Ristiawan Mahasiswa Program Studi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Muhammadiyah Malang, NIM: 202410310110009
Oleh: Achmad Jibril Ristiawan*)

KELUARGA selama ini dikenal sebagai tempat paling aman bagi setiap orang. Di sanalah nilai, kasih sayang, dan tanggung jawab dibangun. Namun, realitas sosial hari ini menunjukkan bahwa banyak keluarga tidak lagi mampu menjalankan peran tersebut secara utuh. Salah satu tandanya adalah tingginya angka perceraian di Indonesia.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sepanjang tahun 2024 tercatat sebanyak 394.608 kasus perceraian. Angka ini memang menurun dibandingkan tahun sebelumnya, tetapi tetap tergolong tinggi. Di beberapa daerah, perceraian bahkan menjadi fenomena yang semakin sering ditemui di lingkungan sekitar, mulai dari desa hingga perkotaan. Fakta ini menunjukkan bahwa perceraian bukan lagi persoalan pribadi semata, melainkan masalah sosial yang patut menjadi perhatian bersama.

Banyak perceraian tidak terjadi secara tiba-tiba. Konflik rumah tangga biasanya telah berlangsung lama, dipicu oleh masalah ekonomi, komunikasi yang buruk, serta ketidakharmonisan hubungan suami istri. Tekanan biaya hidup, tuntutan pekerjaan, dan perubahan pola relasi dalam keluarga sering kali membuat pasangan sulit saling memahami. Ketika keluarga tidak lagi menjadi ruang aman untuk berbagi dan menyelesaikan masalah, perceraian kerap dianggap sebagai jalan keluar.

Dalam perspektif sosiologi, keluarga memiliki fungsi penting dalam menjaga keseimbangan kehidupan sosial. Keluarga seharusnya mampu memenuhi kebutuhan ekonomi dasar, menjaga hubungan emosional yang sehat, serta menanamkan nilai dan norma kepada anak. Ketika fungsi-fungsi ini tidak berjalan, keluarga menjadi rapuh dan mudah mengalami konflik. Perceraian, dalam konteks ini, merupakan tanda melemahnya fungsi keluarga.

Dampak perceraian tidak berhenti pada pasangan suami istri. Anak menjadi pihak yang paling rentan merasakan akibatnya. Anak dari keluarga bercerai berisiko mengalami gangguan emosional, kesulitan dalam bersosialisasi, serta kehilangan figur teladan dalam kehidupan sehari-hari. Jika kondisi ini dibiarkan, dampaknya dapat memengaruhi kualitas generasi mendatang dan melemahkan kohesi sosial di masyarakat.

Oleh karena itu, meningkatnya angka perceraian seharusnya menjadi alarm sosial. Penguatan keluarga tidak bisa hanya dibebankan pada individu, tetapi membutuhkan dukungan lingkungan dan kebijakan yang berpihak pada ketahanan keluarga. Pendidikan pranikah, pendampingan keluarga, serta dukungan ekonomi menjadi langkah penting untuk mencegah konflik yang berlarut-larut dalam rumah tangga. Keluarga yang kuat akan melahirkan masyarakat yang kuat. Menjaga keutuhan keluarga berarti menjaga masa depan sosial kita bersama. (*)

*) Mahasiswa Program Studi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Muhammadiyah Malang, NIM: 202410310110009

 

Editor : Fendy Hermansyah
#opini mahasiswa #radar mojokerto