Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Perceraian Meningkat, Ada Apa dengan Keluarga Kita?

I
Penulis: Indah Oceananda❯

Achmad Jibril Ristiawan Mahasiswa Program Studi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Muhammadiyah Malang, NIM: 202410310110009
Achmad Jibril Ristiawan Mahasiswa Program Studi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Muhammadiyah Malang, NIM: 202410310110009
Oleh: Achmad Jibril Ristiawan*)


Advertisement

KELUARGA selama ini dikenal sebagai tempat paling aman bagi setiap orang. Di sanalah nilai, kasih sayang, dan tanggung jawab dibangun. Namun, realitas sosial hari ini menunjukkan bahwa banyak keluarga tidak lagi mampu menjalankan peran tersebut secara utuh. Salah satu tandanya adalah tingginya angka perceraian di Indonesia.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sepanjang tahun 2024 tercatat sebanyak 394.608 kasus perceraian. Angka ini memang menurun dibandingkan tahun sebelumnya, tetapi tetap tergolong tinggi. Di beberapa daerah, perceraian bahkan menjadi fenomena yang semakin sering ditemui di lingkungan sekitar, mulai dari desa hingga perkotaan. Fakta ini menunjukkan bahwa perceraian bukan lagi persoalan pribadi semata, melainkan masalah sosial yang patut menjadi perhatian bersama.

Banyak perceraian tidak terjadi secara tiba-tiba. Konflik rumah tangga biasanya telah berlangsung lama, dipicu oleh masalah ekonomi, komunikasi yang buruk, serta ketidakharmonisan hubungan suami istri. Tekanan biaya hidup, tuntutan pekerjaan, dan perubahan pola relasi dalam keluarga sering kali membuat pasangan sulit saling memahami. Ketika keluarga tidak lagi menjadi ruang aman untuk berbagi dan menyelesaikan masalah, perceraian kerap dianggap sebagai jalan keluar.

Advertisement

Dalam perspektif sosiologi, keluarga memiliki fungsi penting dalam menjaga keseimbangan kehidupan sosial. Keluarga seharusnya mampu memenuhi kebutuhan ekonomi dasar, menjaga hubungan emosional yang sehat, serta menanamkan nilai dan norma kepada anak. Ketika fungsi-fungsi ini tidak berjalan, keluarga menjadi rapuh dan mudah mengalami konflik. Perceraian, dalam konteks ini, merupakan tanda melemahnya fungsi keluarga.

Dampak perceraian tidak berhenti pada pasangan suami istri. Anak menjadi pihak yang paling rentan merasakan akibatnya. Anak dari keluarga bercerai berisiko mengalami gangguan emosional, kesulitan dalam bersosialisasi, serta kehilangan figur teladan dalam kehidupan sehari-hari. Jika kondisi ini dibiarkan, dampaknya dapat memengaruhi kualitas generasi mendatang dan melemahkan kohesi sosial di masyarakat.

Oleh karena itu, meningkatnya angka perceraian seharusnya menjadi alarm sosial. Penguatan keluarga tidak bisa hanya dibebankan pada individu, tetapi membutuhkan dukungan lingkungan dan kebijakan yang berpihak pada ketahanan keluarga. Pendidikan pranikah, pendampingan keluarga, serta dukungan ekonomi menjadi langkah penting untuk mencegah konflik yang berlarut-larut dalam rumah tangga. Keluarga yang kuat akan melahirkan masyarakat yang kuat. Menjaga keutuhan keluarga berarti menjaga masa depan sosial kita bersama. (*)

Advertisement

*) Mahasiswa Program Studi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Muhammadiyah Malang, NIM: 202410310110009

 

Advertisement
Editor : Fendy Hermansyah
Sumber : Radar Mojokerto

Artikel Terkait

Pola Perilaku Konsumtif Santri Putri MA Nurul Islam II terhadap Produk Kekinian

Pola Perilaku Konsumtif Santri Putri MA Nurul Islam II terhadap Produk Kekinian

PERKEMBANGAN masyarakat teknologi informasi, internet, dan media sosial telah membawa perubahan yang sangat besar terhadap pola pikir dan gaya hidup remaja. Berbagai informasi mengenai produk, tren, maupun gaya hidup dap

Analisis Letak Geografis Ponpes Terhadap Minat Belajar Santri

Analisis Letak Geografis Ponpes Terhadap Minat Belajar Santri

PONDOK Pesantren Nurul Islam II merupakan salah satu lembaga pendidikan yang memiliki karakteristik geografis cukup menarik. Pesantren ini berada di kawasan pedesaan yang masih dikelilingi hamparan persawahan sehingga

Analisis Tanah Lumpur Lapindo terhadap Tanaman Cabai di Ladang Ilmu Nurul Islam

Analisis Tanah Lumpur Lapindo terhadap Tanaman Cabai di Ladang Ilmu Nurul Islam

LUMPUR Lapindo merupakan bencana lingkungan di Sidoarjo sejak 29 Mei 2006 yang berdampak pada permukiman, pertanian, dan lingkungan sekitar. Lumpur ini mengandung mineral seperti silika, kalsium, dan magnesium yang berpo

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer