Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kepemimpinan Dalam Kekuasaan Interaksi Sosial

I
Penulis: Indah Oceananda❯

Farid Ikhwananda, Mahasiswa Program Studi Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang
Farid Ikhwananda, Mahasiswa Program Studi Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang
Oleh: Farid Ikhwananda, Mahasiswa Program Studi Sosiologi, Universitas Muhammadiyah Malang


Advertisement

KEPEMIMPINAN adalah suatu fenomena sosial yang tidak terlepas dari hubungan kekuasaan dalam interaksi antar manusia. Setiap kali ada proses kepemimpinan, pasti ada upaya untuk memengaruhi tindakan, sikap, dan arah pikir anggota kelompok melalui hubungan sosial yang terus berlangsung.

Kekuasaan dalam konteks ini tidak selalu datang dalam bentuk paksaan atau jabatan resmi, melainkan lebih sering bekerja melalui kepercayaan simbolik, pengelolaan perasaan kelompok, serta pengakuan sosial yang terbentuk dari interaksi sehari-hari. Oleh karena itu, kepemimpinan bukan hanya tentang posisi atau jabatan, melainkan proses sosial yang terus berubah. Cara seorang pemimpin menggunakan kekuasaannya sangat menentukan keharmonisan hubungan di dalam organisasi atau masyarakat.

Jika kekuasaan digunakan melalui partisipasi, pengaruh simbolik, dan komunikasi yang baik, maka akan muncul rasa solidaritas dan keterikatan sosial yang kuat. Namun, jika kekuasaan digunakan secara kasar dan mengeksploitasi, maka bisa menyebabkan konflik, penolakan, serta melemahnya kepercayaan terhadap pemimpin. Hal ini menunjukkan bahwa kepemimpinan selalu bergantung pada kemampuan pemimpin untuk mengelola hubungan sosial secara terus-menerus, bukan hanya pada otoritas yang sudah dianggap kuat.

Advertisement

Permasalahan utama dalam mempelajari kepemimpinan adalah kecenderungan untuk melihat kekuasaan sebagai sesuatu yang secara otomatis ada dalam jabatan resmi. Pandangan ini tidak memperhatikan bahwa kepemimpinan justru dibentuk, dipertahankan, dan diperdebatkan melalui interaksi sosial kecil yang penuh dengan simbol, emosi, dan ritual. Dalam teori interaction ritual chains karya Randall Collins, kekuasaan muncul ketika seseorang mampu mengendalikan perhatian, energi emosional, dan simbol yang dianggap sah oleh kelompok tertentu.

Jika ritual interaksi ini tidak berjalan baik, legitimasi kepemimpinan akan melemah dan konflik di dalam kelompok bisa muncul. Dalam perspektif Collin mengenai konflik, kepemimpinan bukanlah alat yang netral untuk mengintegrasikan masyarakat, melainkan bagian dari proses dominasi yang terus berlangsung. Struktur kepemimpinan terbentuk dari pola interaksi yang berulang dan tidak seimbang, di mana para individu bersaing untuk menguasai sumber daya material, simbolis, dan emosional. Dalam setiap interaksi sosial, terjadi pertarungan simbolis mengenai siapa yang berhak memberi suara, menentukan makna, dan mengarahkan tindakan kelompok. Orang yang mampu menguasai dinamika ini secara konsisten akan dianggap sebagai pemimpin.

Dalam konteks organisasi dan politik, konflik sering kali tersembunyi di balik kestabilan formal. Kebijakan, aturan, dan prosedur tidak sepenuhnya objektif, melainkan mencerminkan pengaruh kelompok yang berhasil menguasai ritual interaksi. Studi kasus kepemimpinan Presiden Joko Widodo dalam menghadapi pandemi Covid-19 menunjukkan bagaimana kekuasaan negara bekerja melalui serangkaian interaksi simbolis untuk membangun kepatuhan, solidaritas, dan legitimasi publik.

Advertisement

Kesimpulannya, kepemimpinan harus dipahami sebagai proses sosial yang dinamis, bersejarah, dan penuh konflik. Perspektif konflik Randall Collins memberikan kerangka analisis yang kritis, dengan menempatkan interaksi sosial mikro sebagai dasar pembentukan struktur kekuasaan. Kepemimpinan yang gagal mengelola simbol, emosi, dan ritual interaksi secara adil berisiko kehilangan legitimasi dan menghadapi penolakan dari masyarakat. (*)

 

Advertisement
Editor : Fendy Hermansyah
Sumber : Radar Mojokerto

Artikel Terkait

Pola Perilaku Konsumtif Santri Putri MA Nurul Islam II terhadap Produk Kekinian

Pola Perilaku Konsumtif Santri Putri MA Nurul Islam II terhadap Produk Kekinian

PERKEMBANGAN masyarakat teknologi informasi, internet, dan media sosial telah membawa perubahan yang sangat besar terhadap pola pikir dan gaya hidup remaja. Berbagai informasi mengenai produk, tren, maupun gaya hidup dap

Analisis Letak Geografis Ponpes Terhadap Minat Belajar Santri

Analisis Letak Geografis Ponpes Terhadap Minat Belajar Santri

PONDOK Pesantren Nurul Islam II merupakan salah satu lembaga pendidikan yang memiliki karakteristik geografis cukup menarik. Pesantren ini berada di kawasan pedesaan yang masih dikelilingi hamparan persawahan sehingga

Analisis Tanah Lumpur Lapindo terhadap Tanaman Cabai di Ladang Ilmu Nurul Islam

Analisis Tanah Lumpur Lapindo terhadap Tanaman Cabai di Ladang Ilmu Nurul Islam

LUMPUR Lapindo merupakan bencana lingkungan di Sidoarjo sejak 29 Mei 2006 yang berdampak pada permukiman, pertanian, dan lingkungan sekitar. Lumpur ini mengandung mineral seperti silika, kalsium, dan magnesium yang berpo

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer