Efisiensi Anggaran, Gebuk Mafia Pangan, hingga Jalankan Strategi Hilirisasi
Revolusi pertanian hingga Indonesia sukses meraih swasembada pangan 2025 tidak bisa dilepaskan dari gagasan dan ide berani Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman. Ada banyak langkah strategis dan visioner yang dijalankan selama satu tahun terakhir ini. Termasuk mutlak bertransformasi dari segala sektor, ekspansi besar-besaran, efisiensi anggaran, serta menutup celah korupsi dan menggebuk mafia. Lantas seperti apa ”jurus” Amran dalam mewujudkan itu?
MOCH. CHARIRIS, Jakarta
MINGGU (11/1) pagi, jalan di sepanjang kawasan Kalibata hingga Pengadegan, Kecamatan Pancoran, Jakarta Selatan (Jaksel) basah. Setelah subuh sebelumnya, wilayah Ibu Kota yang dikenal padat aktivitas ini diguyur hujan. Namun, hal itu tak menyurutkan para pemimpin redaksi (pemred) yang tergabung dalam Jawa Pos Group untuk menghadiri undangan Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman di kediamannya.
Tepat pukul 06.00, sebanyak 70 pemred, direksi, dan wartawan senior Jawa Pos Group dari berbagai daerah di Indonesia sudah memenuhi ruangan pertemuan. Di tengah dinginnya ruang yang hanya terpisah tembok dengan kediaman induk Amran, momen istimewa ini terasa hangat. Penuh semangat, sekaligus menginsipirasi.
Amran hadir duduk satu meja dengan Direktur Utama Jawa Pos Radar Leak Kustiyo, Direktur Utama PT Jawa Pos Jaringan Media Nusantara (JJMN) Suhendro Boroma, Direktur Jawa Pos Radar Marsudi Nurwahid P, Pemred Jawa Pos Eko Priyono, dan Pemred Jawapos.com Dhimas Ginanjar Satria. Amran berada di tengah. Mengenakan peci hitam dan berbaju putih lengan panjang. ’’Ini pertemuan yang sungguh luar biasa. Seperti rapat Kabinet Merah Putih,’’ ujar Suhendro mengawal diskusi dengan iringan tawa.
Ruangan bercat putih dilengkapi lampu mewah menggantung, dan dua unit televisi android besar di kanan-kiri undangan ini sekaligus menjadi momen untuk menggali spirit di balik suksesnya Amran dalam menggapai swasembada pangan tahun 2025. Di mana, Rabu (7/1) lalu, baru saja dia meraih penghargaan Anugerah Bintang Jasa Utama dari Presiden Prabowo Subianto. Penghargaan tersebut lantas didedikasikan oleh pria kelahiran Bone, Sulawesi Selatan, 27 April 1968, ini sebagai penghargaan tertinggi bagi petani Indonesia.
Sharing session sembari ditemani secangkir kopi, pisang dan sukun goreng, serta buah-buahan hasil pertanian ini berlanjut dengan kisah perjalanan Amran semasa menempuh perkuliahan. Dia sempat menunjukkan foto kenangan ketika menghuni sebuah rumah kos yang cukup sederhana. Amran juga menampilkan saat foto dirinya bersama motor Honda Win pelat merah di tengah lahan pertanian selama mengabdi sebagai pegawai pertanian. Cerita ini lantas dilanjutkan dengan menyampaikan motivasi bahwa di era sekarang semua harus berjalan cepat.
’’Target swasembada pangan yang awalnya dipatok empat tahun oleh Presiden Prabowo Subianto terus dipercepat setelah melihat langsung kinerja dan perubahan besar di sektor pertanian,’’ katanya.
Dampak strategis keberhasilan swasembada beras serta rencana hilirisasi tiga komoditas pertanian utama nilai berpotensi mengubah konfigurasi perdagangan dunia. Hal ini sekaligus menjadi fondasi penting bagi Indonesia untuk naik kelas sebagai kekuatan global. ’’Dan itu dimulai dari efisiensi anggaran,’’ terangnya.
Selama setahun terakhir, Amran memutuskan memangkas kegiatan yang dirasa tidak diperlukan di Kementerian Pertanian (Kementan). Seperti perjalanan dinas, seminar, perbaikan gedung, rapat di hotel, dan lain-lain. Anggaran tersebut dialihkan untuk benih unggul, pompa, dan alsintan sebagai penggunaan refocusing. ’’Total efisiensi anggaran tahun 2025 mencapai Rp 3,8 triliun. Dampaknya langsung terasa pada peningkatan produksi beras nasional yang melonjak 4,09 juta ton,’’ imbuhnya.
Langkah percepatan ekstrem tersebut, lanjut dia, hanya dapat diwujudkan melalui reformasi menyeluruh. Baik dari sisi sektor tata kelola, budaya kerja, hingga penegakan integritas. Termasuk menutup celah bagi praktik korupsi maupun permainan mafia pangan.
’’Artinya, semua harus berubah. Tidak boleh ada korupsi, tidak boleh ada mafia. Target jelas, kalau tidak tercapai mundur,’’ tandasnya. Kondisi ini, turut memberikan efek domino di tingkat global. Bahkan, Indonesia kini menghentikan impor beras yang sebelumnya menelan nilai sekitar Rp 100 triliun.
Meski demikian, pihaknya menekankan, swasembada hanyalah gerbang awal. Menyusul, kunci kekuatan sesungguhnya terletak pada strategi hilirisasi. Yang mana tiga komoditas pertanian dinilai mampu memberikan guncangan besar bagi pasar dunia jika diolah di dalam negeri dengan baik. Meliputi, beras, kelapa, dan gambir. Penghentian impor beras oleh Indonesia secara langsung, misalnya.
Dapat mengganggu keseimbangan pasar internasional dan menekan negara-negara eksportir utama. Seperti Thailand, Vietnam, Pakistan, dan India. Sedangkan di tingkat petani, harga kelapa mentah hanya sekitar Rp 1.350 per kilogram (kg). Tetapi, setelah melalui proses pengolahan, nilainya bisa melesat hingga Rp 18.000 per kg.
Di sisi lain, tambah Amran, Indonesia saat ini menguasai sekitar 80 persen pasar ekspor gambir dunia. Namun, belakangan ini komoditas tersebut lebih banyak dikirim ke India untuk diolah sebelum diekspor kembali dalam bentuk produk jadi.
’’Artinya, kalau hilirisasi kita lakukan di dalam negeri. Diawali hilirasasi komunitas yang disenangi dulu, maka nilai tambahnya akan luar biasa. Dari situ, pertanian bergerak, dan Indonesia akan menjadi superpower (adikuasa),’’ pungkasnya. (*/fen)
Editor : Fendy Hermansyah