NAILUL MUFARICHAH, Gedeg
KUKUN mengatakan, konsep yang akan ditampilkan mengalami penambahan. Dari yang awalnya yang menggunakan konsep fragmen, yakni seperti pantonim.
Konsep tersebut menampilkan teater hanya dengan gerakan tanpa ada dialog dan konflik. Kemudian pengalami penambahan dialog serta konflik di dalamnya.
''Jauh hari saya sudah dipanggil Pak Niko dan Mas Arip untuk mendiskusikan konsep. Kemudian sekitar seminggu yang lalu bertemu dengan Mas Chariris dan mengajukan kalau teater harus ada dialognya. Jadi, saya harus mengubah konsep dan naskahnya baru jadi tiga hari yang lalu,” ujarnya.
Naskah tersebut kemudian dialihkan kepada pemeran teater pada hari pertama latihan, dengan sistem reading. Hari kedua, Kukun memberikan penekanan seperti blocking, kata, dialog dan ekspresi.
Kemudian pada hari ini, yaitu hari ketiga, para aktor dan musik pengiring tampak mengalami perkembangan yang baik.
''Ibaratnya saya sebagai nahkoda dan akan membawa penumpang berlayar ke pulau ini. Artinya, anak-anak harus memahami bagaimana alur cerita yang akan mereka tampilkan,” ungkap Kukun yang juga pegiat seni budaya Mojokerto.
Alur yang dibuat oleh Kukun yaitu pada adegan pertama menampilkan suasana kantor Jawa Pos Radar Mojokerto. Di sana terdapat para wartawan dan fotografer yang sibuk menyusun berita.
Kemudian pada adegan kedua terdapat konflik serta penyelesaian. Dari adegan tersebut Kukun sebagai mantan wartawan memberikan penjelasan tentang berita yang valid ada di koran.
Sedangkan di beberapa media sosial berita yang disampaikan masih belum kredibel.
Tidak hanya menampilkan teater, Kukun juga menjelaskan bahwa di sela-sela adegan teater ada musik pengiring. Musik yang dipakai ada empat, yaitu gitar, biola, jimbe dan suling.
Makna dari musik dan lagu tersebut sesuai dengan tema, yakni (Kembali Baca Koran).
''Agar teater tidak terlihat monoton, kita juga menampilkan musik pengiring. Karena menurut saya musik adalah nyawa dari sebuah teater,'' ungkap pria 35 tahun ini.
Kostum yang akan digunakan dalam penampilan ini juga natural dan modern. Kukun menambahkan, terkait kostum akan disamakan seperti wartawan pada umumnya.
Dia juga meminjam beberapa properti dari kantor radar, termasuk kamera. Penampilan teater tersebut melibatkan sekitar 10 aktor. Mulai dari pelajar hingga mahasiswa, termasuk Kukun, berperan sebagai mantan wartawan. Sedangkan musik pengiring melibatkan sembilan anak.
Pemilihan karakter tidak sesuai dengan karakter pribadi, tetapi sesuai dengan karakter yang ada dalam cerita. ''Itulah aktor yang sebenarnya. Bisa menjadi jahat, pendiam, dan aktor yang disakiti. Jadi tidak harus sesuai karakter yang dimiliki,'' jelas Kukun.
Nanda Ainun Apriliana, sebagai sutradara menambahkan, kendala selama latihan cukup banyak. Mulai dari ekternal hingga internal.
Nanda mengatakan, dari kendala tersebut para aktor yang terlibat mampu menyesuaikan meskipun latihannya hanya tiga hari.
''Lumayan banyak kendala, mulai dari hujan. Mas Kukun sibuk, banyak yang izin karena mereka pelajar. Kalau ketika latihan, kendalanya dari blocking yang masih belum dikuasai. Kemudian properti juga harus kami pikirkan agar seminimalisir mungkin,” jelasnya.
Dari kesenian yang akan ditampilkan oleh komunitas persada tersebut, Kukun berharap, teater yang digarapnya tidak akan mengecewakan pihak radar dan tamu undangan serta dapat menjadi edukasi masyarakat.
''Saya senang dan bahagia bisa terlibat dalam memeriahkan HUT Radar yang ke-23 ini, semoga Radar Mojokerto semakin konsisten dalam mengelola berita. Agar dapat memberikan asupan berita yang valid dan kredibel,'' pungkas Kukun. (fen)
Editor : Fendy Hermansyah