Budidaya jangkrik menjadi pilihan bisnis yang menguntungkan. Sebulan sekali bisa panen, kalau sedang bagus, omzetnya tembus puluhan juta rupiah. Musim hujan dengan curah tinggi menjadi satu-satunya tantangan.
YULIANTO ADI NUGROHO, Pungging, Jawa Pos Radar Mojokerto
TANGAN Tarmuji tanpak begitu terampil mencacah daun kapuk duri. Dia sedang mempersiapkan pakan untuk jangkrik-jangkriknya. Satu ember pakan sudah cukup untuk sembilan kandang yang berada di halaman depan dan belakang. Di rumahnya di Dusun Kebonsari, Desa Sekargadung, Kecamatan Pungging itulah, pria 63 tahun ini membudidayakan jangkrik.
’’Dua kali sehari harus diberi makan,’’ kata Tarmuji saat menemui Jawa Pos Radar Mojokerto di sela merawat jangkrik ternakannya, kemarin. Peternak ini sudah menggeluti bisnis budidaya jangkrik selama empat tahun terakhir.
Ritme budidaya jangkrik yang dilakoninya terbilang sederhana. Tarmuji merawat telur jangkrik lalu menjualnya saat jangkrik umur 27 hari. ’’Sudah ada juragan dari Sidoarjo yang memasok telur dan membeli jangkrik,’’ imbuhnya.
Setiap fase budidaya, Tarmuji membeli satu kilogram (kg) telur jangkrik seharga Rp 160 ribu. Telur-telur itu kemudian ditetaskan di tiga kandang yang telah diisi dengan tatakan telur ayam. Tatakan itu menjadi tempat bagi telur-telur jangkrik nantinya menetas.
Proses berlanjut saat jangkrik mulai tumbuh. Binatang dengan suara khasnya ini dirawat sampai umur 27 hari baru dipanen. ’’Jadi tidak sampai sebulan sekali pasti panen,’’ ujar bapak dua anak tersebut.
Pakan berupa daun kapuk duri itu berlaku bagi jangkrik umur 10 sampai 20 hari. Setelah itu, jangkrik akan diberi makan dengan batang dan daun pepaya. ’’Kalau kapuk duri, sehari bisa sampai dua kali kasih makan. Kalau batang pepaya itu, sampai sehari tidak habis,’’ rincinya.
Tarmuji menyebut, sekali panen, satu kilogram telur jangkrik bisa menghasilkan 150-160 kg jangkrik. Saat ini, harga jangkrik mencapai Rp 22 ribu per kg. Jangkrik ini banyak diburu para pecinta burung untuk pakan. Dengan hitung-hitungan kasar, dari bisnisnya Tarmuji bisa mendapat hasil sekitar Rp 3,3 juta per sekali panen. Itu baru dari satu kilogram telur. Tarmuji punya sembilan kandang. Artinya, dalam kondisi paling baik, dia setidaknya mendapat cuan Rp 10 juta sekali panen.
Tarmuji mengatakan, penghasilan Rp 10 juta itu merupakan yang terbesar. Penghasilan tersebut bergantung dari kondisi jangkrik. Sebab, tidak semua jangkrik bisa tumbuh normal. Terlebih ketika musim penghujan seperti sekarang. Menurutnya, jangkrik mudah mati karena kondisi cuaca dingin. ’’Makanya saya pasang lampu di kandang, supaya hangat. Sebab, kalau hujan terus begini banyak yang mati, kalau pas kemarin bisa bagus,’’ tandasnya.
Tarmuji mengaku, bisnis budidaya jangkrik lebih menguntungkan dibanding dengan penghasilan dari menggarap lahan pertanian. Dari bisnisnya ini, Tarmuji mampu mencukupi kebutuhan sehari-harinya bahkan sampai merenovasi rumah. ’’Saya pakai buat memperbagus rumah dan makan sehari-hari,’’ ungkapnya. (fen)
Editor : Fendy Hermansyah