Momen Imlek turut membawa berkah bagi kalangan petani buah naga di Kabupaten Mojokerto. Jelang Tahun Baru China yang jatuh pada Minggu (22/1) nanti, permintaan buah yang dipercaya pembawa hoki ini meningkat hingga tiga kali lipat dari hari biasanya.
RIZAL AMRULLOH, Gondang, Jawa Pos Radar Mojokerto
DI bawah awan gelap yang mulai menggelayut, Putri Susanti, 42, bersama suaminya Suharsono, 42, bergegas menuai buah naga, Kamis (19/1) siang. Meski tertutup plastik, ibu tiga anak ini tahu betul mana buah yang benar-benar siap untuk dipanen. ’’Kalau buah tidak ditutup nanti dimakan hama burung,’’ terangnya mengawali pembicaraan dengan Jawa Pos Radar Mojokerto.
Di ladang seluas 600 meter persegi yang berada di Dusun Kemasan, Desa Kemasantani, Kecamatan Gondang itu ditanami tiga jenis buah naga sekaligus. Dua di antaranya merupakan buah naga yang memiliki daging berwarna putih, yakni jenis kristal dan jelly.
Sementara satu jenis lainnya merupakan jenis red jelly. Daging buahnya berwarna merah pekat dan manis. Sekilas, buah naga tidak jauh berbeda dengan yang banyak dijual di pasaran.
Namun, petani yang membudidaya buah naga sejak 2014 ini mengolah pertaniannya secara organik. Mulai dari pemupukan hingga perawatan hanya menggunakan bahan-bahan alami. ’’Untuk membersihkannya pun kita memakai tenaga orang, tidak pakai bahan kimia,’’ terangnya.
Begitu pun untuk mendongkrak hasil panen. Putri menerapkan penyinaran buatan menggunakan lampu sebagai pengganti sinar matahari saat malam hari. Sehingga, buah naga dapat dipanen tanpa mengenal musim. ’’Panennya bisa tiga bulan sekali meskipun tanpa perangsang obat, cuma pakai lampu,’’ ungkapnya.
Teknologi pertanian tersebut juga dimanfaatkan untuk menyiasati agar bisa memetik hasil panen di awal tahun. Pasalnya, di Januari ini menjadi bulan yang membawa hoki tersendiri bagi petani buah naga.
Ya, momentum Tahun Baru Imlek 2023 membuat Putri kebanjiran pesanan. ’’Kalau Imlek permintaan memang banyak, sampai tiga kali lipat,’’ ujar perempuan kelahiran Medan, 13 April 1981 ini.
Pada masa panen biasanya, Putri rata-rata hanya memenuhi sekitar 2 kwintal buah naga. Sedangkan menjelang Imlek ini, permintaan melejit hingga 4-6 kwintal. Itu pun, sebagian permintaan terpaksa harus ditolak karena hasil panen terbatas. ’’Pesanannya jauh lebih tinggi dari hasil produksi. Jadi kita tidak bisa memenuhi,’’ imbuh dia.
Meroketnya permintaan juga turut mengerek omzet yang diterima Putri. Apalagi, harga buah naga juga masih berada di level tertinggi. Satu kilogram (Kg) buah naga organik dibanderol dengan harga Rp 55 ribu untuk kualitas super. Sementara untuk yang kualitas sedang masih bertengger di harga Rp 40 ribu per Kg.
Rencananya, hasil panen langsung dikirim hari ini melalui kelompok tani (poktan) setempat. Menurut Putri, buah naga hasil panen dari Gondang tersebut untuk memenuhi permintaan supermarket dan toko modern di Kota Surabaya. ’’Nggak tahu juga kenapa kok meningkat. Mungkin untuk keperluan sembahyang atau sekadar untuk makan-makan saat tahun baru China,’’ tutup dia. (fen)
Editor : Fendy Hermansyah