RIZAL AMRULLOH, Jawa Pos Radar Mojokerto, KRANGGAN
April, begitu perempuan ini akrab disapa langsung menyuguhkan jamu kunyit beluntas yang baru diolah di dapurnya rumahnya di Jalan Brawijaya, Lingkungan Sinoman, Kelurahan Miji, Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto. Di dalam botol kemasan 500 mililiter (ml) itu memang tidak mencantumkan khasiat, tetapi hanya memuat komposisi bahan saja. ”Karena setiap orang merasakan khasiat yang berbeda-beda,” terangnya sambil mempersilakan untuk meneguk jamu kunyit beluntas olahannya.
Khasiat memang tidak dijadikan sebagai bahan promosi bagi produk home industry yang sudah digeluti April selama empat tahun ini. Namun, berdasarkan testimoni dari para pelanggannya, kombinasi bahan kunyit, asam Jawa, dan daun beluntas dalam minuman tradisional itu banyak memberi manfaat bagi kesehatan.
Baik menurunkan kadar kolesterol, mengontrol gula darah, hingga mengusir bau badan dan beragam khasiat lainnya. Meski demikian, kata dia, manfaat tersebut masih butuh dibuktikan oleh ahli di bidang kesehatan. ”Karena saya tahu manfaat jamu kunyit beluntas juga dari testimoni dari pelanggan saja,” ungkapnya merendah.
Kepercayaan dari pelanggan itulah yang membuat ibu empat anak ini terus menggeluti usaha jamu kunyit beluntas. Bahkan, produksinya kini terus mengalami grafik peningkatan. Namun, karena peralatan dan bahan masih, April hanya mampu memproduksi 50 liter dalam sehari. ”Kalau dikemas jadinya 100 botol ukuran 500 mililiter,” imbuhnya.
Per botolnya hanya dibanderol Rp 7.000. Sejauh ini, April mengandalkan penjualan secara online. Sebagian besar, produk jamu dipesan oleh reseller dari daerah di sekitar Mojokerto. Pengiriman ke Jember menjadi yang paling sering dilakukan. ”Sekarang juga mulai kirim ke Jogja,” tandas dia.
Di samping itu, April juga melayani pembelian dari di Kota maupun Kabupaten Mojokerto. April menceritakan, terciptanya pangsa pasar semula berkat getok tular dari para pelanggannya. ”Karena awalnya saya tawarkan ke kerabat dan teman-teman dekat,” bebernya.
Sebab, April mengaku usaha yang dirintisnya sejak 2018 ini semula karena coba-coba. Saat itu, dia berniat memanfaatkan daun beluntas milik tetangganya saat masih tinggal di Desa/Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto. ”Tanaman beluntasnya buat pagar, akhirnya saya manfaatkan karena sudah mulai muncul tanaman benalu,” paparnya.
Saat itu, muncul ide untuk dimanfaatkan sebagai bahan olahan minuman tradisional karena terinspirasi dari salah seorang temannya. Untuk meracik menjadi produk jamu, dia mengkombinasikan dengan bahan kunyit dan asam Jawa.
Seluruh bahan tersebut direbus secara terpisah. Hanya kunyit yang dihaluskan lebih dulu sebelum dimasak. Baru, sari air dari seluruh bahan dijadikan satu dengan tambahan gula dan garam secukupnya. ”Direbus sampai mendidih sekitar 1,5 jam agar aroma beluntas hilang, tapi rasanya tetap ada,” imbuhnya.
Dalam sekali produksi, April menghabiskan kurang lebih setengah kilogram dari masing-masing bahan. Kini, perempuan yang pernah bekerja di perbankan ini mempekerjakan satu pegawai untuk membantu produksi.
Namun, keterbatasan lahan di halaman di rumahnya tidak memungkinkan untuk membudidayakan beluntas. Sejauh ini, April masih memanfaatkan beluntas dari lahan milik pekerjanya di Desa/Kecamatan Sooko. (ron)
Editor : Fendy Hermansyah