MARTDA VADETYA, Trowulan, Jawa Pos Radar Mojokerto
DI tangan dan ide kreatif tim Warung Selo Adji, minuman tradisional alias jamu itu kini bisa sejajar dengan minuman berkelas lainnya. Ya, selain berbahan utama buah maja, terdapat sejumlah rempah yang dicampurkan dalam proses pembuatan minuman tersebut. Mulai dari kapulaga, bunga lawang, kayu manis, hingga cengkeh.
Praktis, minuman tradisional besutan warung di Desa Watesumpak, Kecamatan Trowulan, ini pun kaya akan manfaat. Minuman tradisional ini dipercaya mampu mengurangi risiko kanker, mencegah diare, hingga menurunkan kadar gula tinggi. ”Karena dari buah maja sendiri sudah mengandung banyak vitamin. Mulai dari vitamin A, B komplek, C, kalium, kalsium, ataupun fosfor. Sangat baik untuk kesehatan tubuh, bahkan untuk kesehatan otak juga,” ungkap Bongak Rahayu, salah seorang tim Warung Selo Adji.
Dijelaskannya, proses produksi minuman tradisional satu ini persis layaknya pembuatan wine. Melalui rangkaian proses winery yang syarat akan fermentasi, buah maja yang digunakan pun tak sembarangan. Buah maja yang dipilih hasil panen dari pohon maja yang ditanam dengan pH tertentu. ”Jadi yang kami pilih buah maja yang ranum kekuningan dengan kadar gula tinggi saja,” terang pria 35 tahun itu.
Dicampur ragi dan sejumlah rempah tersebut, lanjut Bongak, buah maja yang telah diekstrak melalui proses sangrai itu pun difermentasi dalam pil atau barel kedap udara. ”Kita pakai air dengan pH 7. Kita pakai dari Trawas dan Pacet. Dan alat-alat yang kita pakai untuk proses winery ini sesuai standar pembuatan wine dan food grade semua,” tambah Teguh Sulaqsono, salah seorang tim Warung Selo Adji.
Minuman tradisinonal ini pun bisa dinikmati setelah melalui proses fermentasi di dalam pil minimal setahun lamanya. ”Setelah dipanen dari pil, baru pembotolan yang ditutup pakai tutup khusus dari kayu cork (kayu gabus) seperti wine pada umumnya,” tambahnya. Rampung melalui proses panjang, minuman fermentasi buah maja itu pun bisa disimpan hingga bertahun-tahun lamanya layaknya. Namun, semakin lama penyimpanan semakin tinggi pula kadar kandungan alkoholnya.
”Karena melalui proses fermentasi, minuman ini mengandung alkohol (alami) sekitar 10-15 persen,” beber pria 40 tahun itu. Diproses layaknya wine, rasa minuman tradisional ini pun tak jauh berbeda dengan minuman yang identik dengan buah anggur tersebut. Meski melalui rangkaian proses winery yang panjang, rasa dan aroma khas buah maja pada ’’wine maja'’ ini pun begitu terasa.
”Yang paling bagus itu setelah difermentasi selama setahun karena rasa dan aroma majanya masih terasa. Karena semakin lama, semakin tinggi alkoholnya, aroma majanya hilang,” jelas Teguh. Layaknya wine pada umumnya, wine maja pun diproduksi dengan tiga varian. Yakni dry dengan rasa kadar gula rendah, semi-sweet dengan tingkat kemanisan sedang, dan sweet well dengan rasa manis yang pas.
Teguh menerangkan, tercetusnya ide mengolah buah maja menjadi minuman tradisional bak wine ini lantaran ingin menjajarkan minman buah maja dengan minuman berkelas lainnya.
”Jadi ide gila ini muncul karena kami ingin menunjukkan bahwa buah maja khas majapahit ini kaya manfaat dan bisa olah menjadi berbagai makanan dan minuman yang berkelas. Sekaligus untuk memberdayakan dan mendorong UMKM lokal dari setiap prosesnya,” terangnya. Praktiknya, ide tersebut tidak diterapkan sembarangan. Setidaknya, butuh waktu lima tahun bagi Warung Selo Adji untuk merealisasikan inovasi olahan buah maja tersebut.
”Kami riset dulu selama lima tahun, supaya hasilnya pas. Dan baru ready sekitar dua tahun lalu. Ini masih belum diperjualbelikan bebas, masih sebatas untuk gifts (oleh-oleh) buat kolega-kolega dulu,” seloroh Bongak menambahkan. Tak hanya diolah layaknya wine, oleh Warung Selo Adji, buah khas majapahit itu diolah menjadi pancake, sirup, brownies, maupun liquor. (ron)
Editor : Fendy Hermansyah