alexametrics
29.8 C
Mojokerto
Saturday, June 25, 2022

Lakukan Riset di Stasiun Mojokerto hingga Ambarawa

Kunto Wijoyo, 44 Perajin Miniatur Kereta Api

Akrab dengan dunia lokomotif sejak kecil, membawa Kunto Wijoyo menjadi perajin miniatur kereta api. Kini, usahanya terus berkembang dan sukses menembus pasar luar negeri.

INDAH OCEANANDA, Prajurit Kulon, Jawa Pos Radar Mojokerto

PULUHAN rangkaian miniatur kereta api itu tertata rapi di etalase kaca di ruang tamunya. Beragam model. Mulai kereta uap tahun 1990-an hingga kereta listrik besutan KAI Indonesia. Semua terpampang rapi.

Rangkaian miniatur KA penumpang, kontainer hingga tangki bahan bakar itu nyaris 80 persen menyerupai bentuk kereta asli. ”Awalnya karena memang suka sama kereta api. Kebetulan, bapak saya dulu Kepala Stasiun Mojokerto tahun 1977-1982 dan tinggalnya persis di sebelah stasiun. Makanya tertarik aja mau coba buat miniatur sendiri tanpa harus beli,” ujar Kunto.

Pria 44 tahun ini mengaku, ia belajar merakit rangkaian KA secara otodidak. Rasa ingin tahunya, mendorong Kunto membongkar miniatur satu unit KA buatan Eropa yang dibeli seharga Rp 150 ribu. Itu pun ditawarnya dengan harga Rp 100 ribu.

Baca Juga :  Pertunjukan Wayang Beber di Peringatan Hari Lahir Pancasila

Setelah membongkar, ia belajar mendesain rangkaian KA penumpang dari bahan seadanya. ”Bahannya, pakai pipa paralon sama akrilik. Kurang lebih butuh setengah tahun saya belajar merakit hingga berani memasarkannya,” terangnya. Sedangkan, bagian roda, sampai saat ini ia masih membeli dari China dan Amerika Serikat. Sebab, barang itu masuk sulit ditemukan di Indonesia.

Dikatakannya, awal pemasarannya berawal dari mulut ke mulut. Seiring berjalannya waktu, banyak jejaring yang tertarik dengan miniatur buatan tangannya itu. Apalagi, semenjak ia mengembangkan miniatur, tak hanya dari mesin analog. Namun juga dijalankan dengan sistem digital. ”Alhamdulillah, saat pandemi tetap jalan terus. Pesanan juga banyak, meski memang sedikit berkurang, tapi tetap ada yang pesan dan cukup untuk makan,” papar Kunto.

Warga Penarip Gang 2, Kelurahan Kranggan, Kecamatan Prajurit Kulon ini mengaku, dalam sebulan ia bisa menciptakan kurang lebih 30 unit kereta penumpang serta 35 unit kereta tangki bahan bakar. Itu dipesan dari berbagai wilayah di Indonesia. Utamanya di Pulau Jawa dan Sumatera. Bahkan, ia juga kerap menerima pesanan dari Jerman, China, dan Perancis. ”Kalau yang luar negeri, biasanya tertarik dari komunitas di Facebook. Pesannya bisa sampai 60 unit,” ungkapnya.

Baca Juga :  Desain Kostum Pertunjukan Wayang Beber, Usung Unsur Majapahitan

Satu unit karyanya dihargai kisaran Rp 250-Rp 750 ribu. Sedangkan untuk rangkaian satu unit bisa mencapai Rp 1,2-Rp 1,8 juta.
Bapak dua anak ini menghitung, sudah ada 80 jenis rangkaian lokomotif yang telah didesain. Menurutnya, itu pun belum semua jenis kereta api berhasil ia rakit. Sebab, ia belum memiliki kesempatan untuk melakukan riset rancangan kereta api. ”Kalau dulu risetnya di Stasiun Mojokerto sampai Ambarawa, Jateng. Jadi nggak hanya asal rancang, tapi harus tahu detail bagian-bagian kereta serta ukurannya agar terlihat seperti bentuk asli,” tukasnya. (ron)

Kunto Wijoyo, 44 Perajin Miniatur Kereta Api

Akrab dengan dunia lokomotif sejak kecil, membawa Kunto Wijoyo menjadi perajin miniatur kereta api. Kini, usahanya terus berkembang dan sukses menembus pasar luar negeri.

INDAH OCEANANDA, Prajurit Kulon, Jawa Pos Radar Mojokerto

PULUHAN rangkaian miniatur kereta api itu tertata rapi di etalase kaca di ruang tamunya. Beragam model. Mulai kereta uap tahun 1990-an hingga kereta listrik besutan KAI Indonesia. Semua terpampang rapi.

Rangkaian miniatur KA penumpang, kontainer hingga tangki bahan bakar itu nyaris 80 persen menyerupai bentuk kereta asli. ”Awalnya karena memang suka sama kereta api. Kebetulan, bapak saya dulu Kepala Stasiun Mojokerto tahun 1977-1982 dan tinggalnya persis di sebelah stasiun. Makanya tertarik aja mau coba buat miniatur sendiri tanpa harus beli,” ujar Kunto.

Pria 44 tahun ini mengaku, ia belajar merakit rangkaian KA secara otodidak. Rasa ingin tahunya, mendorong Kunto membongkar miniatur satu unit KA buatan Eropa yang dibeli seharga Rp 150 ribu. Itu pun ditawarnya dengan harga Rp 100 ribu.

Baca Juga :  Mieke Ariyanita, Agen Koran yang Juga Sukses Beternak Hewan Kurban
- Advertisement -

Setelah membongkar, ia belajar mendesain rangkaian KA penumpang dari bahan seadanya. ”Bahannya, pakai pipa paralon sama akrilik. Kurang lebih butuh setengah tahun saya belajar merakit hingga berani memasarkannya,” terangnya. Sedangkan, bagian roda, sampai saat ini ia masih membeli dari China dan Amerika Serikat. Sebab, barang itu masuk sulit ditemukan di Indonesia.

Dikatakannya, awal pemasarannya berawal dari mulut ke mulut. Seiring berjalannya waktu, banyak jejaring yang tertarik dengan miniatur buatan tangannya itu. Apalagi, semenjak ia mengembangkan miniatur, tak hanya dari mesin analog. Namun juga dijalankan dengan sistem digital. ”Alhamdulillah, saat pandemi tetap jalan terus. Pesanan juga banyak, meski memang sedikit berkurang, tapi tetap ada yang pesan dan cukup untuk makan,” papar Kunto.

Warga Penarip Gang 2, Kelurahan Kranggan, Kecamatan Prajurit Kulon ini mengaku, dalam sebulan ia bisa menciptakan kurang lebih 30 unit kereta penumpang serta 35 unit kereta tangki bahan bakar. Itu dipesan dari berbagai wilayah di Indonesia. Utamanya di Pulau Jawa dan Sumatera. Bahkan, ia juga kerap menerima pesanan dari Jerman, China, dan Perancis. ”Kalau yang luar negeri, biasanya tertarik dari komunitas di Facebook. Pesannya bisa sampai 60 unit,” ungkapnya.

Baca Juga :  4 Varietas Kopi Penanggungan, Ditanam Tumpang Sari, Hasilkan Cita Rasa Khas

Satu unit karyanya dihargai kisaran Rp 250-Rp 750 ribu. Sedangkan untuk rangkaian satu unit bisa mencapai Rp 1,2-Rp 1,8 juta.
Bapak dua anak ini menghitung, sudah ada 80 jenis rangkaian lokomotif yang telah didesain. Menurutnya, itu pun belum semua jenis kereta api berhasil ia rakit. Sebab, ia belum memiliki kesempatan untuk melakukan riset rancangan kereta api. ”Kalau dulu risetnya di Stasiun Mojokerto sampai Ambarawa, Jateng. Jadi nggak hanya asal rancang, tapi harus tahu detail bagian-bagian kereta serta ukurannya agar terlihat seperti bentuk asli,” tukasnya. (ron)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/