alexametrics
30.8 C
Mojokerto
Monday, August 15, 2022

Khoiron Muhfudzi Berhasil Olah Ketela Jadi Produk Unggulan

Modal Rp 500 Ribu, Kini Tembus Pasar Hongkong

Melimpahnya hasil bumi ubi-ubian di kawasan Trawas jadi peluang bagi Khoiron Muhfudzi, 35. Hasil pertanian ini diolahnya menjadi keripik yang memiliki nilai ekonomis tinggi hingga tembus pasar mancanegara.

KHUDORI ALIANDU, Trawas, Jawa Pos Radar Mojokerto

MENGGELUTI usaha tak semudah membalikkan telapak tangan. Namun dengan keuletannya, membuat warga asal Trawas, Kabupaten Mojokerto ini berhasil mengolah hasil bumi menjadi produk unggulan Kabupaten Mojokerto dan berdaya saing. Bahkan, hasil keripik produksinya ini mampu menembus pasar luar negeri. ’’Alhamdulillah, tiap hari masih bisa produksi satu ton ketela,’’ ungkapnya mengawali percakapan.

Keripik ketela rambat ini sudah dilakoni sejak 2005. Peluang ini cukup menjanjikan. Apalagi dengan wilayahnya yang kaya dengan hasil pertanian. Dengan modal Rp 500 ribu, membuat keluarganya memutar otak untuk bisa memulai industri kecil menengah (IKM) ini. Meski awalnya sempat terjadi pasang surut, berkat keuletannya, akhirnya mampu membuahkan hasil. ’’Prinsipnya, bikin saja produk berkualitas, pasti dicari orang,’’ tegasnya.

Baca Juga :  Lakukan Riset di Stasiun Mojokerto hingga Ambarawa

Benar saja, berjalannya waktu, kini dirinya bisa sampai ekspor. ’’Sebelum Covid-19 kita ekspor ke Korea dan China. Satu hari 300 kilogram dan itu setiap hari tanpa henti,’’ katanya.

Namun, saat Covid-19 merebak di Indonesia, dirinya hanya mampu memenuhi pasar lokalan. ’’Sekarang masih ekspor ke Hongkong, tapi cuma 100 kilogram sebulan sekali,’’ tambahnya.

Kendati begitu, lanjut Khoiron, rasa alami yang ditawarkan dalam keripik buatannya ini menjadikan magnet tersendiri bagi wisatawan atau pelanggan. Hingga detik ini, permintaan pasar lokal terus mengalir. Seperti Malang, Batu, Surabaya, Pasuruan, dan Mojokerto sendiri. ’’Terjauh pengiriman sampai Kalimantan. Itu rutin minimal empat kali dalam satu bulan,’’ tuturnya.

Baca Juga :  Replika Jung Majapahit, Ikon Baru di Pemandian Sekarsari

Sejauh ini, mengalirnya pesanan membuat dirinya juga mampu membuka sepuluh lapangan pekerjaan bagi para tetangganya. Mereka yang dipekerjakan pada posisi pengolahan ini bahkan mampu memproduksi satu ton tiap hari. ’’Dengan bahan baku satu ton itu kita mampu produksi 300 kilogram kripik,’’ tandasnya.

Dia mengaku, produk olahannya ini paling ramai pada momentum tahun baru, Ramadan, dan liburan sekolah. ’’Per hari bisa dapat Rp 3 juta kotor,’’ tambahnya. Ketela ungu dan madu oren hingga kini menjadi pilihannya sebagai bahan baku. Keripik renyah ini pun cocok dijadikan kudapan keluarga selama berada di rumah. Harganya juga tak menguras kantong. Satu kilogram dibanderol Rp 26 ribu sampai Rp 30 ribu. ’’Harga juga naik turun tergantung bahan baku,’’ tuturnya. (ron)

Modal Rp 500 Ribu, Kini Tembus Pasar Hongkong

Melimpahnya hasil bumi ubi-ubian di kawasan Trawas jadi peluang bagi Khoiron Muhfudzi, 35. Hasil pertanian ini diolahnya menjadi keripik yang memiliki nilai ekonomis tinggi hingga tembus pasar mancanegara.

KHUDORI ALIANDU, Trawas, Jawa Pos Radar Mojokerto

MENGGELUTI usaha tak semudah membalikkan telapak tangan. Namun dengan keuletannya, membuat warga asal Trawas, Kabupaten Mojokerto ini berhasil mengolah hasil bumi menjadi produk unggulan Kabupaten Mojokerto dan berdaya saing. Bahkan, hasil keripik produksinya ini mampu menembus pasar luar negeri. ’’Alhamdulillah, tiap hari masih bisa produksi satu ton ketela,’’ ungkapnya mengawali percakapan.

Keripik ketela rambat ini sudah dilakoni sejak 2005. Peluang ini cukup menjanjikan. Apalagi dengan wilayahnya yang kaya dengan hasil pertanian. Dengan modal Rp 500 ribu, membuat keluarganya memutar otak untuk bisa memulai industri kecil menengah (IKM) ini. Meski awalnya sempat terjadi pasang surut, berkat keuletannya, akhirnya mampu membuahkan hasil. ’’Prinsipnya, bikin saja produk berkualitas, pasti dicari orang,’’ tegasnya.

Baca Juga :  Industri Kreatif Kampung Layah di Mlaten, Kecamatan Puri Kembali Bergairah

Benar saja, berjalannya waktu, kini dirinya bisa sampai ekspor. ’’Sebelum Covid-19 kita ekspor ke Korea dan China. Satu hari 300 kilogram dan itu setiap hari tanpa henti,’’ katanya.

- Advertisement -

Namun, saat Covid-19 merebak di Indonesia, dirinya hanya mampu memenuhi pasar lokalan. ’’Sekarang masih ekspor ke Hongkong, tapi cuma 100 kilogram sebulan sekali,’’ tambahnya.

Kendati begitu, lanjut Khoiron, rasa alami yang ditawarkan dalam keripik buatannya ini menjadikan magnet tersendiri bagi wisatawan atau pelanggan. Hingga detik ini, permintaan pasar lokal terus mengalir. Seperti Malang, Batu, Surabaya, Pasuruan, dan Mojokerto sendiri. ’’Terjauh pengiriman sampai Kalimantan. Itu rutin minimal empat kali dalam satu bulan,’’ tuturnya.

Baca Juga :  Kelas 3 SD Mulai Berani Tampil di Depan Publik

Sejauh ini, mengalirnya pesanan membuat dirinya juga mampu membuka sepuluh lapangan pekerjaan bagi para tetangganya. Mereka yang dipekerjakan pada posisi pengolahan ini bahkan mampu memproduksi satu ton tiap hari. ’’Dengan bahan baku satu ton itu kita mampu produksi 300 kilogram kripik,’’ tandasnya.

Dia mengaku, produk olahannya ini paling ramai pada momentum tahun baru, Ramadan, dan liburan sekolah. ’’Per hari bisa dapat Rp 3 juta kotor,’’ tambahnya. Ketela ungu dan madu oren hingga kini menjadi pilihannya sebagai bahan baku. Keripik renyah ini pun cocok dijadikan kudapan keluarga selama berada di rumah. Harganya juga tak menguras kantong. Satu kilogram dibanderol Rp 26 ribu sampai Rp 30 ribu. ’’Harga juga naik turun tergantung bahan baku,’’ tuturnya. (ron)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/