Rabu, 01 Dec 2021
Radar Mojokerto
Home / Features
icon featured
Features
Fauziah Utami, 48, Sulap Limbah Sepatu Kulit

Awalnya, Pemasaran Dari Mulut-Mulut, Kini Tembus Pasar Luar Negeri

23 November 2021, 14: 50: 59 WIB | editor : Fendy Hermansyah

Awalnya, Pemasaran Dari Mulut-Mulut, Kini Tembus Pasar Luar Negeri

TELATEN: Fauziah Utami merintis Amyrose de Craft sejak 2015 lalu dengan kerajinan khas perca kulit dari limbah industri sepatu kulit. (Martda Vadetya/jawaposradarmojokerto.id)

Share this      

Fauziah Utami,  mampu mengubah limbah industri sepatu kulit menjadi kerajinan bernilai tinggi. Mulai dompet, pouch, tas laptop, tas kerja hingga souvenir. Harganya, mulai puluhan ribu hingga jutaan rupiah.

MARTDA VADETYA, SOOKO, Jawa Pos Radar Mojokerto

Menumpuknya limbah sepatu kulit di sekitar rumahnya, Fauziah Utami, 48, pun prihatin. Ia pun mengulik ide untuk mengolahnya menjadi sesuatu yang bernilai. Ia berpikir, kulit sisa itu memiliki kualitas yang apik. ”Awalnya karena melihat banyaknya industri sepatu (kulit) di Mojokerto yang punya limbah kulit berkualitas. Padahal sebenarnya itu masih bisa diolah jadi kerajinan,” ujarnya.

Baca juga: Mereka Gugur saat Pertempuran Kemerdekaan di Surabaya

Warga Desa Japan, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto ini pun mencoba mengolah limbah yang diperolehnya secara gratis untuk diolah jadi kerajinan tas. Ia tak sendirian.  Ibu tiga anak mencoba merintis kerajinan itu bersama sejumlah walimurid TK tempat anaknya belajar.

Sebelum menjadi tas, limbah sepatu kulit itu pun diprosesnya menjadi kain perca. ”Awalnya coba-coba dulu bikin sedikit sama kelompok wali murid TK anak saya,” sebutnya.

Kala itu, tahun 2015 lalu, kulit perca yang ada disulapnya menjadi tas jinjing wanita dengan model sederhana. Namun, inovasi dan ide segar dari kelompok emak-emak itu kian mengalir hingga menelurkan sejumlah jenis tas lainnya. Mulai dompet, pouch, tas laptop, tas kerja hingga souvenir. ”Sampai sekarang kita bikin model yang mengikuti perkembangan zaman. Yang khasnya dari perca kulit,” katanya sembari menjahit tas.

Hingga kini, total enam motif yang ditelurkan. Di antaranya, motif kawung, bulatan, kembang pinggir, hingga teratai. ”Dua model lainnya ini masih kita rahasiakan buat presidensial nanti,” imbuhnya.

Saat merintis usaha kerajinannya itu, Fauziah mengandalkan sistem pemasaran dari mulut ke mulut dan pameran lokal di Mojokerto saja. Namun, kini, sudah menembus International Handicraft Trade Fair (Inacraft). Pameran kerajinan tangan berskala internasional yang digelar di Jakarta sekitar April lalu. ”Sekarang pesanan sudah menyeluruh secara nasional. Kita juga sudah ekspor ke Malaysia dan Australia. Bahkan, yang Malaysia itu orangnya langsung datang ke sini,” akunya.

Pemasaran produk kerajinan tangannya terus berkembang. Saat ini, sudah menjamah platform digital. Hasil kerajinan tangan itu pun dibanderol dengan harga bervariatif. Mulai Rp 50 ribu hingga Rp 1,5 juta. Harga itu tergantung ukuran dan tingkat kerumitan motif.

Mahalnya ’’limbah olahan’’ ini, membuat income perempuan ini cukup tinggi. ’’Kalau kita rata-rata, sebulan itu sampai Rp 75 juta,” kata owner Amyrose de Craft itu.

Lantaran mampu mengubah limbah menjadi komoditas bernilai tinggi, Fauziah kerap dipanggil sejumlah pemerintah desa untuk melakukan pembinaan. Untuk memberdayakan kaum perempuan agar mengantongi penghasilan sampingan. Hanya saja, itu baru dilakukannya dalam lingkup Mojokerto. ”Seperti di Desa Dinoyo sama Sumengko (Jatirejo), mereka minta supaya memberdayakan ibu-ibu di sana. Jadi mereka bisa jadi mitra kami kalau sudah bisa,” ungkap perempuan kelahiran Maret 1973 itu. (ron)

(mj/VAD/fen/JPR)

 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia