Rabu, 27 Oct 2021
Radar Mojokerto
Home / Features
icon featured
Features
Gerakan Gerombolan Bersenjata di Mojokerto

Berkedok Aksi Merdeka, Lakukan Pemerasan saat Ramadan

22 April 2021, 12: 00: 59 WIB | editor : Imron Arlado

Berkedok Aksi Merdeka, Lakukan Pemerasan saat Ramadan

Juli 1951 silam, aksi gerombolan semakin memuncak. Di tengah masyarakat menjalankan ibadah puasa, kelompok bersenjata tetap menyatroni rumah-rumah penduduk di desa hingga perkotaan. (rizal amrulloh/radarmojokerto)

Share this      

PASCA penyerahan kedaulatan kemerdekaan di akhir 1949, situasi keamanan di Mojokerto belum sepenuhnya kondusif. Sejumlah aksi kriminalitas masih kerap terjadi di beberapa wilayah kawedanan. Kerawanan tersebut dilakukan oleh gerombolan bersenjata dengan melakukan pemerasan. Bahkan terjadi di tengah bulan suci Ramadan.

Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq mengungkapkan, Kawedanan Mojosari menjadi daerah paling rawan menjadi sasaran aksi kriminal di Mojokerto. Saat itu, banyak terjadi perampokan yang menyasar wilayah Kecamatan Ngoro hingga Bangsal. ’’Gangguan keamanan juga terjadi di kawasan Trawas dan sekitarnya,’’ terangnya.

Dia mengatakan, kerawanan itu dilakukan oleh gerombolan bersenjata yang beroperasi di sekitar Mojosari. Menurutnya, kelompok tersebut melakukan pemerasan untuk menguasai harta masyarakat.

Baca juga: Diminta Puasa untuk Hilangkan Rasa Takut dan Grogi

Berkedok Aksi Merdeka, Lakukan Pemerasan saat Ramadan

Juli 1951 silam, aksi gerombolan semakin memuncak. Di tengah masyarakat menjalankan ibadah puasa, kelompok bersenjata tetap menyatroni rumah-rumah penduduk di desa hingga perkotaan. (rizal amrullah/radarmojokerto)

Sasaran pemerasan adalah warga yang dinilai memiliki harta lebih. Khususnya yang mempunyai hewan ternak, akan dimintai sejumlah uang. Gerombolan tersebut juga tak segan mengambil paksa hewan ternak bila permintaan mereka tak dipenuhi. ’’Penduduk akhirnya memilih untuk membayar karena khawatir hewan peliharaannya akan diambil paksa,’’ ujar pria yang akrab disapa Yuhan ini.

Akibatnya, sebagaian penduduk terpaksa harus mencari uang pinjaman lebih dulu. Sebab, kelompok bersenjata tersebut akan kembali saat malam hari dengan jumlah anggota yang lebih banyak jika tuntutan mereka tidak disanggupi. ’’Jumlahnya bisa belasan orang. Penduduk desa tidak berani melawan gerombolan itu karena mereka bersenjata api,’’ ulasnya.

Yuhan menyebutkan, salah satu pemicu terjadinya aksi kriminalitas karena masih labilnya keamanan pasca penyerahan kedaulatan yang masih menyisakan persoalan ekonomi. Pasalnya, selama perang kemerdekaan, lahan sawah milik masyarakat tidak termanfaatkan. Ketersediaan bahan pangan pun kian menipis sehingga berakibat meningkatnya angka pencurian maupun perampasan.

Rupanya, bulan Ramadan tidak menurunkan tingkat kriminalitas. Pada Juli 1951, aksi gerombolan semakin memuncak. Di tengah masyarakat menjalankan ibadah puasa, kelompok bersenjata tetap menyatroni rumah-rumah penduduk. ’’Sasarannya bukan hanya warga desa saja, tetapi meluas hingga penduduk Kota Mojokerto,’’ ulasnya.

Yuhan mengatakan, gerombolan yang mengatasnamakan kelompoknya Persatuan Pemuda Republik Indonesia (PPRI) itu memeras para pedagang di kawasan perniagaan Jalan Kediri atau kini Jalan Mojopahit. Tindakan kriminalitas tersebut kemudian dikenal dengan aksi merdeka.

Situasi terjadi hingga mendekati Lebaran. Tak pelak, tindakan gerombolan PPRI  mendapat banyak kecaman dari masyarakat. Terlebih, pengurus PPRI pusat juga telah membantah jika tidak ada instruksi untuk melakukan tindakan kriminal berkedok aksi merdeka itu.

(mj/ram/ron/JPR)

 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia