27.8 C
Mojokerto
Saturday, December 3, 2022

Mitigasi Bencana FPRB Kabupaten Mojokerto, Sisir 22 Kilometer Aliran Sungai

Menyisir aliran sungai dari hulu ke hilir, mencatat potensi bencana apa yang perlu dimitigasi, dan merekomendasikannya ke pemda menjadi bagian dari kegiatan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kabupaten Mojokerto. Pada musim hujan seperti ini, perhimpunan relawan yang baru berdiri tahun lalu itu fokus bersiaga menghadapi bencana hidrometeorologi.

YULIANTO ADI NUGROHO, Kabupaten, Jawa Pos Radar Mojokerto

TAK hanya soal kebencanaan. Mereka juga aktif mendatangi kasus kecelakaan lalu lintas hingga kebakaran. FPRB Kabupaten Mojokerto menjadi bentuk partisipasi masyarakat di bidang penanggulangan bencana dan penanganan darurat. Sebanyak 12 kelompok relawan dengan anggota ratusan orang terhimpun dalam forum yang terbentuk pada akhir 2021 tersebut.

Terkait dengan kebencanaan, forum yang menjadi wadah para sukarelawan ini tak hanya mendatangi tempat longsor atau banjir. Mereka juga bergerak sejak urusan mitigasi. ”Kegiatan-kegiatan kami arahkan ke semacam mitigasi agar kalau memang bencana, risikonya paling minim,” ungkap Ketua FPRB Kabupaten Mojokerto Saiful Anam, kemarin.

Kegiatan mitigasi yang telah dilakukan antara lain yakni penelusuran dampak banjir luapan aliran Kali Pikatan. Tim mitigasi diterjunkan untuk penyisiran sungai sepanjang 22 kilometer lebih yang melintasi Kecamatan Pacet, Gondang, dan Jatirejo ini.

Baca Juga :  Khoiron Muhfudzi Berhasil Olah Ketela Jadi Produk Unggulan

Dalam survei lapangan ini, tim melihat kondisi aliran sungai dari hulu ke hilir. Pemantauan tersebut terkait dengan kondisi sungai yang rawan memicu bencana. Langkah mitigasi juga dilakukan di aliran sungai di Dusun Ngetrep, Desa Sedati, Kecamatan Ngoro, yang langganan meluap setiap musim hujan. Dari penelusuran yang berlangsung, tim menelurkan tiga rekomendasi kepada pemda.

”Kalau yang di Kali Pikatan belum banyak rekomendasi untuk mitigasi struktural. Tapi kalau untuk sungai yang di Dusun Ngetrep, salah satu rekomendasi kita adalah membuat sudetan, kemudian normalisasi sungai, dan juga memperbaiki pintu di hilir yang tembus dengan Sungai Brantas,” jelas pria 47 tahun itu.

Sebagai mitra BPBD, lingkup kerja forum ini berkaitan dengan mitigasi kebencanaan dan penanganan darurat. Ranah FPRB dalam mitigasi bencana memang melakukan pemetaan dengan hasil berupa rekomendasi ke pemda. Tugas struktural forum yang dibentuk atas amanat UU 24/ 2007 tentang Penanggulangan Bencana dan Peraturan Pemerintah 21/2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana tersebut salah satunya dilakukan dengan penelusuran dua aliran sungai di atas. ”Mitigasi yang kita rekomendasi agar dilaksanakan pemerintah. Karena kita kan tidak ada dana untuk melakukan itu dan leading sector-nya memang pemerintah,” bebernya.

Baca Juga :  SMPN 5 Kota Mojokerto Bikin Aplikasi Adi Pintar, Petakan Potensi Siswa
KOMITMEN: Kegiatan FPRB Kabupaten Mojokerto untuk meminimalisir dampak bencana alam maupun kecelakaan. (dok FPRB Kabupaten Mojokerto for JPRM)

FPRB juga melakukan mitigasi kesiapsiagaan kebencanaaan. Salah satunya melalui kampanye sadar bencana kepada masyarakat. Untuk relawan, forum juga membentuk pelatihan peningkatan kapasitas yang salah satunya berupa water rescue yang dilakukan beberapa minggu lalu.

Di samping urusan kebencanaan, FPRB membaur dengan masyarakat dan bertindak untuk pertolongan darurat. Antara lain penanganan dan pencegahan korban kecelakaan. Misalnya, di kawasan wisata Pacet, para relawan rutun andil dalam mencegah terjadinya kecelakaan akibat rem blong dengan membentuk jalur penyelamatan berupa karung sekam.

”Bukan hanya mengurangi risiko bencana, kami juga mengurangi risiko akibat kecelakaan. Mulai dari penguatan benteng sekam sampai imbuan keselamatan di kawasan wisata Kali Kromong,” terang warga Desa Warugunung, Kecamatan Pacet, ini.

Anam berharap, langkah mitigasi yang dilakukan dapat meminimalisir risiko bencana di Kabupaten Mojokerto. ”Bencana tidak bisa kita dihindari. Kita tidak ada pilihan untuk tidak hidup bersama bencana, tetapi kita bisa bermain-main untuk mengurangi risiko bencana,” tandasnya. (ron)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/