Rabu, 01 Dec 2021
Radar Mojokerto
Home / Features
icon featured
Features
Rahmad Yusuf, Peraih Medali Peparnas

Dari Pemain Sepak Bola Menuju Paralimpiade

17 November 2021, 13: 20: 59 WIB | editor : Fendy Hermansyah

Dari Pemain Sepak Bola Menuju Paralimpiade

MENGEJAR MIMPI: Rahmad Yusuf saat menerima medali emas di Peparnas XVI 2021 Papua, 2-15 November kemarin. (dok rahmat yusuf for jawaposradarmojokerto.id)

Share this      

Kecelakaan yang dialami Rahmat Yusuf tahun 2013 silam, cukup parah. Telapak tangan kanannya terpaksa diamputasi. Cacat tubuh yang dialaminya, tak membuat ia lemah. Terbukti, ia sukses merebut tiga medali di ajang Peparnas XVI 2021 Papua, 2-15 November lalu.

FARISMA ROMAWAN, Kota, Jawa Pos Radar Mojokerto

Takdir manusia tidak pernah ada yang tahu. Pun demikian juga dalam hal karir. Semua menjadi rahasia Tuhan. Manusia hanya menjalani lewat usaha maksimal. Ungkapan ini mungkin layak disematkan kepada Rahmad Yusuf, paralimpian Kota Mojokerto, Rahmat Yusuf.

Baca juga: Pantau Akun Penjual Miras Hingga Grup Info Kos-Kosan

Pemuda asal Kelurahan Miji, Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto ini tak pernah menyangka, karirnya di bidang olahraga tiba-tiba melejit setelah tergabung sebagai atlet difabel di ajang paralimpiade. Padahal, Yusuf sempat melanglang buana mengejar karirnya sebagai pesepakbola profesional.

Hingga tahun 2018, ia bertemu dengan sosok Imam Kuncoro yang mengenalkannya tentang paralimpik, atau ajang olahraga khusus penyandang disabilitas. Dari perkenalan itu, Yusuf kepincut dan akhirnya memilih berpindah haluan dari olahraga umum ke paralimpiade. Ya, Yusuf menyadari dirinya memiliki kekurangan fisik, khususnya di sektor tangan pasca insiden kecelakaan tahun 2013 silam.

Saat itu, ia tengah meniti karir sebagai pemain junior. Meski begitu, Yusuf tak menyerah untuk mengejar cita-citanya. Ia terus berusaha menjadi pemain profesional meski dengan sedikit kekurangan.

Bahkan, pemuda kelahiran 19 Juli 1996 ini sempat direkrut sejumlah tim Liga 3. Sebut saja Persilamtim Lampung tahun 2015-2016, lalu berpindah ke Persema 1953 tahun 2017 hingga pada akhirnya dipanggil ke tim kebanggaan publik Mojokerto, Persem musim 2018.

Saat di Persem inilah, penampilan terpantau pengurus National Paralimpic Committe (NPC) Mojokerto. Dan setelah kontraknya dengan Persem berakhir, Yusuf langsung ditawari masuk dan bergabung sebagai atlet NPC. ’’Sempat dikenalkan di Pelatnas di Solo tentang olahraga khusus paralimpian. Dan juga diberitahu peluang karir saya di paralimpik justru lebih menjanjikan. Dari situ saya ikut,’’ terangnya.

Benar saja. Setahun bergabung dan berlatih, Yusuf langsung di turunkan di Pekan Paralimpiade Provinsi (Peparprov) Jatim di Kodikal AAL Surabaya, Mei lalu.

Di sana, Yusuf yang turun di cabor lari nomor 100 meter dan 200 meter putra dengan klasifikasi daksa upper berhasil merebut dua medali sekaligus, yakni, emas dan perak.

Dari hasil itu, ia langsung dipromosikan menjadi paralimpian provinsi Jatim untuk Peparnas kemarin. ’’Kalau latihannya baru dimulai tahun 2020 untuk persiapan Peparprov dan konsentrasi khusus di nomor lari juga baru dimulai enam bulan sebelum Peparnas atau saat di Puslatda,’’ tandasnya.

Meski baru enam bulan fokus pada pertandingan, performa Yusuf di ajang Peparnas yang baru ia ikuti, tidak bisa dianggap remeh. Khususnya di nomor lari 200 meter klasifikasi difabel T47 daksa yang mampu mengantarkannya merebut medali emas.

Pun demikian di nomor 100 meter dan 400 meter. Ia juga mampu merebut sekeping perak dan perunggu. Padahal, ketiga nomor itu dihuni paralimpian penghuni pelatnas untuk ajang paralimpiade tingkat internasional. ’’Memang saya terhitung baru, dan yang di nomor 100 meter dan 400 meter, musuh saya memang semuanya paralimpian pelatnas,’’ tambah putra pasangan Wahyono dan Rohwati itu.

Dengan raihan itu, kesempatan Yusuf masuk ke pelatnas kian terbuka lebar. Bahkan, secara aturan, peraih emas Peparnas otomatis masuk pelatnas. Artinya, pria kelahiran Kota Bandar Lampung ini berpeluang turun di ajang paralimpiade tingkat internasional mulai dari Asean Para Games, Asian Para Games.

Hingga yang tertinggi adalah Paralimpiade atau ajang olaharag khusus penyandang disabilitas tingkat dunia. Dengan kesempatan itu, ia pun terus termotivasi untuk bisa merealisasikan mimpinya menjadi olahragawan dunia. Sehingga bisa menyamai prestasi rekan sejawatnya asal Kabupaten Mojokerto, Khalimatus Sakdiyah yang sukses merebut medali emas Paralimpiade 2020 Tokyo beberapa waktu lalu. ’’Ya, salah satu motivasi saya adalah bisa seperti Khalimatus Sakdiyah. Mungkin suatu saat nanti, tapi sekarang fokus dulu pada peluang menuju Pelatnas,’’ pungkasnya. (ron)

(mj/far/fen/JPR)

 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia