alexametrics
25.8 C
Mojokerto
Thursday, May 26, 2022

Asa Itu Muncul setelah Kolaborasi dengan Bank Sampah

Siasat Posyandu Berantas Stunting di Tengah Minimnya Anggaran

Asa mengikis stunting di Desa Gunungsari Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto terus dipegang para bidan desa setempat. Meski anggaran pondok kesehatan desa (ponkesdes) dikepras pemerintah, jumlah Pemberian Makanan Tambahan (PMT) untuk memberantas stunting harus sama seperti sebelum pandemi. Begini siasat mereka?

INDAH OCEANANDA, Dawarblandong, Jawa Pos Radar Mojokerto

PAGI itu, sejumlah ibu tampak menggendong balita mereka. Sebulan sekali warga di Dusun Manyarsari, Desa Gunungsari kembali menggelar posyandu balita. Namun, sepintas ada yang terlihat berbeda saat pelaksanaan imunisasi itu.

Selain menggendong balita, mereka sembari membawa sampah jenis plastik maupun kardus bekas. Saat menunggu anak mereka mendapatkan imunisasi, para ibu antre dan menyerahkan sampah tersebut ke bidan desa. Usut punya usut, sampah plastik itu dikumpulkan lalu ditimbang. ’’Ini nanti untuk di-kilo-kan, jadi sebelum anak mereka disuntik nanti harus setor sampah dulu,’’ ujar Fitri Kusmiati, bidan desa di Ponkesdes Gunungsari, Kecamatan Dawarblandong.

Baca Juga :  Desain Kostum Pertunjukan Wayang Beber, Usung Unsur Majapahitan

Ide membawa sampah plastik atau kardus bekas ini, sambung Fitri, berangkat dari pengeprasan anggaran dari Dinas Kesehatan (Dinkes) PMT bagi balita akibat adanya refocusing anggaran Covid-19. Meski pandemi, namun baginya, pemberantasan stunting juga harus tetap diprioritaskan.

’Kalau jumah PMT-nya kurang kan kasihan. Malah nanti prediksi angka stunting bertambah kan susah juga. Akhirnya kita cari cara gimana agar bisa nambah pemasukan lagi tapi tanpa memberatkan warga,’’ terang wanita 41 tahun ini.

Dia bersama teman ponkesdes lainnya pun bekerja sama dengan PKK Desa Gunungsari. Yakni, dengan memasifkan bank sampah. Sebab, sampah nyatanya juga bisa menghasilkan uang asalkan telaten untuk mengumpulkannya. ’’Ya mulai dari plastik, botol kemasan gitu, terus kardus bekas. Lumayan, sehari posyandu kalau di-kilo-kan bisa sekitar Rp 50-70 ribu. Cukuplah untuk nambah pemasukan beli PMT,’’ ungkapnya.

Lanjutnya, langkah ini juga bisa menjadi upaya untuk mengurangi penggunaan plastik atau mengurangi sampah bahan bekas di kalangan warga. Dikatakannya, program ini diberi nama Sumpah Pusing. Itu merupakan akronim dari Sumbang sampah, Putus stunting. ’’Karena kan memang kita sedang fokus pada pemberantasan stunting. Balita di desa ini memang ada yang stunting kurang lebih empat orang. Alhamdulillah, karena PMT tetap bisa kita maksimalkan, jumlah stunting-nya tahun ini turun jadi tiga orang dari yang sebelumnya ada empat anak,’’ jelas wanita yang sudah bertugas di Ponkesdes sejak tahun 2007 silam itu.

Baca Juga :  Berawal dari Mulut ke Mulut, Ibu Bertugas Jaga Cita Rasa

Selain posyandu balita, Fitri menuturkan program setor sampah ini juga diterapkan dalam pelaksanaan posyandu lansia juga. Namun, semua pemasukan dari hasil bank sampah ini semuanya dibelikan untuk kebutuhan PMT balita. ’’Ya, harapannya masyarakat bisa lebih banyak membwa sampah lagi. Kita bersyukur kok ada bawa satu atau tiga gitu. Hitung-hitung bisa semakin memaksimalkan pemasukan juga untuk mengurangi sampah plastik kan,’’ tutupnya. (fen)

Siasat Posyandu Berantas Stunting di Tengah Minimnya Anggaran

Asa mengikis stunting di Desa Gunungsari Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto terus dipegang para bidan desa setempat. Meski anggaran pondok kesehatan desa (ponkesdes) dikepras pemerintah, jumlah Pemberian Makanan Tambahan (PMT) untuk memberantas stunting harus sama seperti sebelum pandemi. Begini siasat mereka?

INDAH OCEANANDA, Dawarblandong, Jawa Pos Radar Mojokerto

PAGI itu, sejumlah ibu tampak menggendong balita mereka. Sebulan sekali warga di Dusun Manyarsari, Desa Gunungsari kembali menggelar posyandu balita. Namun, sepintas ada yang terlihat berbeda saat pelaksanaan imunisasi itu.

Selain menggendong balita, mereka sembari membawa sampah jenis plastik maupun kardus bekas. Saat menunggu anak mereka mendapatkan imunisasi, para ibu antre dan menyerahkan sampah tersebut ke bidan desa. Usut punya usut, sampah plastik itu dikumpulkan lalu ditimbang. ’’Ini nanti untuk di-kilo-kan, jadi sebelum anak mereka disuntik nanti harus setor sampah dulu,’’ ujar Fitri Kusmiati, bidan desa di Ponkesdes Gunungsari, Kecamatan Dawarblandong.

Baca Juga :  Berawal dari Mulut ke Mulut, Ibu Bertugas Jaga Cita Rasa

Ide membawa sampah plastik atau kardus bekas ini, sambung Fitri, berangkat dari pengeprasan anggaran dari Dinas Kesehatan (Dinkes) PMT bagi balita akibat adanya refocusing anggaran Covid-19. Meski pandemi, namun baginya, pemberantasan stunting juga harus tetap diprioritaskan.

- Advertisement -

’Kalau jumah PMT-nya kurang kan kasihan. Malah nanti prediksi angka stunting bertambah kan susah juga. Akhirnya kita cari cara gimana agar bisa nambah pemasukan lagi tapi tanpa memberatkan warga,’’ terang wanita 41 tahun ini.

Dia bersama teman ponkesdes lainnya pun bekerja sama dengan PKK Desa Gunungsari. Yakni, dengan memasifkan bank sampah. Sebab, sampah nyatanya juga bisa menghasilkan uang asalkan telaten untuk mengumpulkannya. ’’Ya mulai dari plastik, botol kemasan gitu, terus kardus bekas. Lumayan, sehari posyandu kalau di-kilo-kan bisa sekitar Rp 50-70 ribu. Cukuplah untuk nambah pemasukan beli PMT,’’ ungkapnya.

Lanjutnya, langkah ini juga bisa menjadi upaya untuk mengurangi penggunaan plastik atau mengurangi sampah bahan bekas di kalangan warga. Dikatakannya, program ini diberi nama Sumpah Pusing. Itu merupakan akronim dari Sumbang sampah, Putus stunting. ’’Karena kan memang kita sedang fokus pada pemberantasan stunting. Balita di desa ini memang ada yang stunting kurang lebih empat orang. Alhamdulillah, karena PMT tetap bisa kita maksimalkan, jumlah stunting-nya tahun ini turun jadi tiga orang dari yang sebelumnya ada empat anak,’’ jelas wanita yang sudah bertugas di Ponkesdes sejak tahun 2007 silam itu.

Baca Juga :  Temukan Gaya Khas Bernyanyi saat Dakwah

Selain posyandu balita, Fitri menuturkan program setor sampah ini juga diterapkan dalam pelaksanaan posyandu lansia juga. Namun, semua pemasukan dari hasil bank sampah ini semuanya dibelikan untuk kebutuhan PMT balita. ’’Ya, harapannya masyarakat bisa lebih banyak membwa sampah lagi. Kita bersyukur kok ada bawa satu atau tiga gitu. Hitung-hitung bisa semakin memaksimalkan pemasukan juga untuk mengurangi sampah plastik kan,’’ tutupnya. (fen)

Previous articlePatrol
Next articleDisnaker Buka Posko Pengaduan THR

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/