alexametrics
29.8 C
Mojokerto
Wednesday, May 18, 2022

Berawal dari Mulut ke Mulut, Ibu Bertugas Jaga Cita Rasa

Kisah Usaha Katering yang Eksis Selama 26 Tahun

Tak banyak usaha katering yang mampu bertahan puluhan tahun. Namun, Catering Dewi punya trik sendiri menjaga kekhasan resep dan cita rasa dari menu yang dihidangkan. Usaha tersebut pun telah merambah ke luar daerah.

INDAH OCEANANDA, Prajurit Kulon, Jawa Pos Radar Mojokerto

BERDIRI sejak 1996 silam, membuat Ratna Puji Astuti, pengelola usaha Catering Dewi paham betul jatuh bangun sang ibu, Dewi Solikah memulai usaha di bidang kuliner itu. Wanita kerap disapa Ratna ini menuturkan, waktu itu dirinya masih duduk di bangku SMP.
Memang, sejak dulu sang ibu punya hobi masak. Lalu, sang ayah yang bekerja di salah satu bank ini kebetulan punya hobi berburu kuliner setiap akhir pekan. ’’Nah, setiap ayah habis berburu kuliner pasti dibungkuskan. Lalu, besoknya ibu disuruh masak makanan persis yang dibungkuskan ayah,’’ ujarnya.

Lambat laun, sang ibu pun memulai usahanya itu dengan menerima pesanan makan siang di kantor sang ayah. Tak disangka, pelanggan sang ibu bertambah karena pemasaran dari mulut ke mulut. Selang beberapa tahun kemudian, sang ibu menerima pesanan acara syukuran dari berbagai wilayah di Mojokerto. ’’Mulai ramai, tapi masih skala kecil. Saya jadi sering bantu ibu packing jadi hafal. Kadang juga jadi yang bagian ngincipi,’’ ungkap wanita 41 tahun ini.

Baca Juga :  Muncul Sensasi Aroma Karamel di Cangkir dan Teko

Anak pertama dari tiga bersaudara ini menuturkan, di pertengahan tahun 2005, ia dan sang ibu sepakat menambah usaha katering berupa layanan prasmanan pernikahan. Namun, waktu itu, belum banyak masyarakat yang berminat menggunakan jasa tersebut.

Baru sekitar tahun 2018-2019 lalu, usaha katering prasmanannya kebanjiran pelanggan. ’Baru ramai-ramainya, eh terus akhirnya terdampak pandemi. Waktu pandemi itu, kita langsung sepi orderan. Banyak yang langsung cancel, ada juga yang mengurangi pesanan,’’ kenang Ratna.

Padahal, lanjut dia, sebelum terdampak pagebluk Covid-19, dirinya sempat menerima pesanan katering nasi kotak maupun prasmanan pernikahan di luar kota. Seperti Surabaya dan Malang. Namun, akibat wabah korona, usahanya sempat beberapa pekan mandek karena sepi pelanggan. ’’Untungnya waktu itu terus dapat rekomendasi dari Disperindag kota untuk menangani katering bagi pasien Covid-19 di Rusunawa. Selebihnya itu ya sepi, gak ada pelanggan sama sekali,” papar ibu dua anak ini.

Baru tahun lalu, usahanya mulai kembali bergeliat. Kurang lebih pertengahan tahun 2021, Ratna mendapat pesanan sebanyak 3.200 nasi kotak. Pesanan katering lainnya seperti syukuran pun juga mulai bermunculan. Namun, jumlah pelanggannya tak seramai sebelum pandemi. ’’Mulai ramai lagi sekarang, tapi belum ramai kayak sebelum pandemi. Tapi, ini sudah banyak yang booking juga untuk prasmanan pernikahan bulan Juli dan Agustus,’’ sebutnya.

Baca Juga :  Asa Itu Muncul setelah Kolaborasi dengan Bank Sampah

Disinggung terkait tips menjaga cita rasa kulinernya, Ratna menuturkan menu yang disajikan selalu diolah dari tangan sang ibu langsung. Sehingga, proses masak hanya ditangani oleh sang ibu. Itu untuk menjaga kekhasan rasa kuliner yang disantap. ’’Saya juga pakai jasa freelance untuk bantu packing. Tapi, kalau yang masak harus tetap ibu saya, takutnya rasa nanti berubah kalau diolah orang lain. Saya lebih fokus di bagian tester dan packing,’’ terang warga Kedungkwali Gang III, Kelurahan Miji, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto ini.

Harga per porsi prasmanan pernikahan usaha Catering Dewi pun terbilang murah. Ratna menuturkan, ada paket per porsi Rp 50 ribu sampai Rp 100 ribu. Paket prasamanan pernikahan tersedia dalam empat jenis masakan. Mulai dari masakan Jawa, Tionghoa, Arab dan campuran. ’’Kalau yang nasi kotak, kita juga menyediakan macam-macam. Mulai dari nasi kuning, nasi rames, nasi padang bahkan ada gudeg juga. Tapi, memang selama ini yang best seller itu masakan Jawa dan Chinese,’’ tandasnya. (fen)

Kisah Usaha Katering yang Eksis Selama 26 Tahun

Tak banyak usaha katering yang mampu bertahan puluhan tahun. Namun, Catering Dewi punya trik sendiri menjaga kekhasan resep dan cita rasa dari menu yang dihidangkan. Usaha tersebut pun telah merambah ke luar daerah.

INDAH OCEANANDA, Prajurit Kulon, Jawa Pos Radar Mojokerto

BERDIRI sejak 1996 silam, membuat Ratna Puji Astuti, pengelola usaha Catering Dewi paham betul jatuh bangun sang ibu, Dewi Solikah memulai usaha di bidang kuliner itu. Wanita kerap disapa Ratna ini menuturkan, waktu itu dirinya masih duduk di bangku SMP.
Memang, sejak dulu sang ibu punya hobi masak. Lalu, sang ayah yang bekerja di salah satu bank ini kebetulan punya hobi berburu kuliner setiap akhir pekan. ’’Nah, setiap ayah habis berburu kuliner pasti dibungkuskan. Lalu, besoknya ibu disuruh masak makanan persis yang dibungkuskan ayah,’’ ujarnya.

Lambat laun, sang ibu pun memulai usahanya itu dengan menerima pesanan makan siang di kantor sang ayah. Tak disangka, pelanggan sang ibu bertambah karena pemasaran dari mulut ke mulut. Selang beberapa tahun kemudian, sang ibu menerima pesanan acara syukuran dari berbagai wilayah di Mojokerto. ’’Mulai ramai, tapi masih skala kecil. Saya jadi sering bantu ibu packing jadi hafal. Kadang juga jadi yang bagian ngincipi,’’ ungkap wanita 41 tahun ini.

Baca Juga :  Asa Itu Muncul setelah Kolaborasi dengan Bank Sampah

Anak pertama dari tiga bersaudara ini menuturkan, di pertengahan tahun 2005, ia dan sang ibu sepakat menambah usaha katering berupa layanan prasmanan pernikahan. Namun, waktu itu, belum banyak masyarakat yang berminat menggunakan jasa tersebut.

- Advertisement -

Baru sekitar tahun 2018-2019 lalu, usaha katering prasmanannya kebanjiran pelanggan. ’Baru ramai-ramainya, eh terus akhirnya terdampak pandemi. Waktu pandemi itu, kita langsung sepi orderan. Banyak yang langsung cancel, ada juga yang mengurangi pesanan,’’ kenang Ratna.

Padahal, lanjut dia, sebelum terdampak pagebluk Covid-19, dirinya sempat menerima pesanan katering nasi kotak maupun prasmanan pernikahan di luar kota. Seperti Surabaya dan Malang. Namun, akibat wabah korona, usahanya sempat beberapa pekan mandek karena sepi pelanggan. ’’Untungnya waktu itu terus dapat rekomendasi dari Disperindag kota untuk menangani katering bagi pasien Covid-19 di Rusunawa. Selebihnya itu ya sepi, gak ada pelanggan sama sekali,” papar ibu dua anak ini.

Baru tahun lalu, usahanya mulai kembali bergeliat. Kurang lebih pertengahan tahun 2021, Ratna mendapat pesanan sebanyak 3.200 nasi kotak. Pesanan katering lainnya seperti syukuran pun juga mulai bermunculan. Namun, jumlah pelanggannya tak seramai sebelum pandemi. ’’Mulai ramai lagi sekarang, tapi belum ramai kayak sebelum pandemi. Tapi, ini sudah banyak yang booking juga untuk prasmanan pernikahan bulan Juli dan Agustus,’’ sebutnya.

Baca Juga :  Di-Charge 2 Jam, Mampu Menempuh Jarak 200 Km

Disinggung terkait tips menjaga cita rasa kulinernya, Ratna menuturkan menu yang disajikan selalu diolah dari tangan sang ibu langsung. Sehingga, proses masak hanya ditangani oleh sang ibu. Itu untuk menjaga kekhasan rasa kuliner yang disantap. ’’Saya juga pakai jasa freelance untuk bantu packing. Tapi, kalau yang masak harus tetap ibu saya, takutnya rasa nanti berubah kalau diolah orang lain. Saya lebih fokus di bagian tester dan packing,’’ terang warga Kedungkwali Gang III, Kelurahan Miji, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto ini.

Harga per porsi prasmanan pernikahan usaha Catering Dewi pun terbilang murah. Ratna menuturkan, ada paket per porsi Rp 50 ribu sampai Rp 100 ribu. Paket prasamanan pernikahan tersedia dalam empat jenis masakan. Mulai dari masakan Jawa, Tionghoa, Arab dan campuran. ’’Kalau yang nasi kotak, kita juga menyediakan macam-macam. Mulai dari nasi kuning, nasi rames, nasi padang bahkan ada gudeg juga. Tapi, memang selama ini yang best seller itu masakan Jawa dan Chinese,’’ tandasnya. (fen)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/