alexametrics
30.8 C
Mojokerto
Tuesday, May 24, 2022

Lepaskan Burung Beragam Jenis di Gunung Lorokan

Ketika Kelompok Lintas Agama Turut Lestarikan Alam

DARI sangkar para pedagang di pasar, burung-burung itu dilepasliarkan ke Bukit Lorokan, Desa/Kecamatan Pacet. Pohon-pohon juga ditanam supaya jadi sumber kehidupan seluruh satwa. Upaya menjaga kelestarian alam sekaligus ajang silaturahmi lintas agama.

YULIANTO ADI NUGROHO, Pacet, Jawa Pos Radar Mojokerto

Mereka datang dari beragam latar belakang. Mulai dari biksu, pendeta, pengurus kelenteng dan gereja, hingga pemuda NU (Nahdlatul Ulama). Sabtu (5/3), kelompok lintas agama itu naik ke Bukit Lorokan, yang berada di kawasan Sendi.
Ada yang membawa beragam jenis burung dalam sangkar, ada pula yang menyunggi ember berisi puluhan ikan lele dan katak. Sementara itu, lainnya, tampak memikul berpot-pot bibit pohon. ’’Kegiatan ini dalam rangka pelepasan satwa dan penanaman pohon,’’ ujar Bagus Majoki, salah satu peserta.

Baca Juga :  Warto, 16 Tahun Keluar Masuk Kampung Tawarkan Potong Rambut

Ada sekitar seribu bibit pohon yang ditanam di kawasan bukit tersebut. Mulai dari pohon mahoni hingga pohon pisang. Untuk satwa, sedikitnya terdapat 150 burung dengan beragam jenis. Seperti burung perkutut serta burung gereja. Binatang yang biasa jadi peliharaan di sangkar itu sengaja dibeli langsung dari Pasar Burung di Jalan Empunala, Kota Mojokerto untuk ’’dibebaskan’’. ’’Kita beli dulu, kita ambil, kita lepaskan,’’ ungkap pria 49 tahun itu.

Selain itu, satwa yang juga turut dilepaskan juga meliputi empat ember ikan lele serta katak. Bagus menyebut, penanaman seribu bibit pohon serta pelepasliaran ratusan satwa ke alam merupakan kegiatan rutin lintas agama yang dilakukan. ’’Kita setiap tanggal 1 dan 15 Cina, kita selalu mengadakan pelepasan hewan,’’ kata salah satu anggota kelompok Dapur Sosial yang bermarkas di di Gedongan Gang 2 nomor 20, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto tersebut.

Baca Juga :  Diyakini sebagai Pintu Masuk Kerajaan yang Namanya Ada di Peta Zaman Belanda

Aktivitas yang sekaligus menjadi ajang keakraban antarumat itu rutin sejak dua bulan terakhir. Bagus menyebut semangat kegiatan semata ingin melestarikan alam. Bagi penganut Buddha, lanjutnya, melepaskan makhluk hidup ke alam liar merupakan salah satu tradisi turun temurun. Namanya Fang Sheng. ’’Artinya untuk membuang bala dan melestarikan hewan dan membantu kehidupan hewan juga,’’ jelasnya.

Binatang-binatang yang selama ini diburu dengan cara ditembak atau dijebak, kini dikembalikan lagi ke habitat aslinya. Dan tak sekadar dilepaskan, pohon yang ditanam juga diharapkan dapat bermanfaat bagi satwa yang hidup di kawasan tersebut. Langkah kecil pelestarian alam itu diiringi doa sesuai dengan semboyan di kalangan umat Buddha, semoga semua makhluk hidup berbahagia. Amin. (fen)

Ketika Kelompok Lintas Agama Turut Lestarikan Alam

DARI sangkar para pedagang di pasar, burung-burung itu dilepasliarkan ke Bukit Lorokan, Desa/Kecamatan Pacet. Pohon-pohon juga ditanam supaya jadi sumber kehidupan seluruh satwa. Upaya menjaga kelestarian alam sekaligus ajang silaturahmi lintas agama.

YULIANTO ADI NUGROHO, Pacet, Jawa Pos Radar Mojokerto

Mereka datang dari beragam latar belakang. Mulai dari biksu, pendeta, pengurus kelenteng dan gereja, hingga pemuda NU (Nahdlatul Ulama). Sabtu (5/3), kelompok lintas agama itu naik ke Bukit Lorokan, yang berada di kawasan Sendi.
Ada yang membawa beragam jenis burung dalam sangkar, ada pula yang menyunggi ember berisi puluhan ikan lele dan katak. Sementara itu, lainnya, tampak memikul berpot-pot bibit pohon. ’’Kegiatan ini dalam rangka pelepasan satwa dan penanaman pohon,’’ ujar Bagus Majoki, salah satu peserta.

Baca Juga :  Dibangun di Era Kolonial Belanda, Wakaf dari Warga Etnis Tionghoa

Ada sekitar seribu bibit pohon yang ditanam di kawasan bukit tersebut. Mulai dari pohon mahoni hingga pohon pisang. Untuk satwa, sedikitnya terdapat 150 burung dengan beragam jenis. Seperti burung perkutut serta burung gereja. Binatang yang biasa jadi peliharaan di sangkar itu sengaja dibeli langsung dari Pasar Burung di Jalan Empunala, Kota Mojokerto untuk ’’dibebaskan’’. ’’Kita beli dulu, kita ambil, kita lepaskan,’’ ungkap pria 49 tahun itu.

Selain itu, satwa yang juga turut dilepaskan juga meliputi empat ember ikan lele serta katak. Bagus menyebut, penanaman seribu bibit pohon serta pelepasliaran ratusan satwa ke alam merupakan kegiatan rutin lintas agama yang dilakukan. ’’Kita setiap tanggal 1 dan 15 Cina, kita selalu mengadakan pelepasan hewan,’’ kata salah satu anggota kelompok Dapur Sosial yang bermarkas di di Gedongan Gang 2 nomor 20, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto tersebut.

Baca Juga :  Asa Itu Muncul setelah Kolaborasi dengan Bank Sampah
- Advertisement -

Aktivitas yang sekaligus menjadi ajang keakraban antarumat itu rutin sejak dua bulan terakhir. Bagus menyebut semangat kegiatan semata ingin melestarikan alam. Bagi penganut Buddha, lanjutnya, melepaskan makhluk hidup ke alam liar merupakan salah satu tradisi turun temurun. Namanya Fang Sheng. ’’Artinya untuk membuang bala dan melestarikan hewan dan membantu kehidupan hewan juga,’’ jelasnya.

Binatang-binatang yang selama ini diburu dengan cara ditembak atau dijebak, kini dikembalikan lagi ke habitat aslinya. Dan tak sekadar dilepaskan, pohon yang ditanam juga diharapkan dapat bermanfaat bagi satwa yang hidup di kawasan tersebut. Langkah kecil pelestarian alam itu diiringi doa sesuai dengan semboyan di kalangan umat Buddha, semoga semua makhluk hidup berbahagia. Amin. (fen)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

Terancam Hukuman Maksimal

PPDB SMA/SMK Dimulai


/