Kamis, 20 Jan 2022
Radar Mojokerto
Home / Features
icon featured
Features
Saat Alat Deteksi Dini Banjir Dengung Keras

Dibayangi Ketakutan, Warga Ramai-Ramai Lihat Aliran Sungai

11 Januari 2022, 16: 35: 59 WIB | editor : Fendy Hermansyah

Dibayangi Ketakutan, Warga Ramai-Ramai Lihat Aliran Sungai

DETEKSI DINI: Alat EWS Banjir milik BPBD Kabupaten Mojokerto yang menyala saat hujan lebat, Minggu (9/1) (Martda Vadetya/jawaposradarmojokerto.id)

Share this      

Sejumlah aliran sungai di Kabupaten Mojokerto meluap. Potensi bencana banjir membayangi warga. Yang lebih membuat warga khawatir, Early Warning System (EWS) BPBD Kabupaten Mojokerto menyala dan berdengung sangat keras.

MARTDA VADETYA, Sooko, Jawa Pos Radar Mojokerto

Hujan deras Minggu (9/1) siang itu, tidak seperti biasanya. Sebab, hujan kali ini membuat debit air hulu sungai di Mojokerto naik. Seperti Sungai Kromong (Pacet) dan Sungai Klorak (Gondang). Otomatis, warga yang tinggal di sekitar wilayah hilir sungai waspada.

Baca juga: Berani Adu Kualitas Dengan Alat Modern

Seperti yang dialami warga Dusun/Desa Sambiroto, Kecamatan Sooko. Aliran Sungai Brangkal yang tak jauh dari hilir, yakni Sungai Brantas, bakal terkena imbasnya. Benar saja. Sekitar pukul 16.00, alat deteksi dini banjir milik BPBD Kabupaten Mojokerto berdengung keras. ”Pertama kali sirinenya bunyi itu sekitar pukul 16.00. Waktu itu memang pas lagi hujan,” ungkap Muhammad Romeo, warga setempat.

Sirine berbunyi keras sebanyak dua kali. Berselang lama usai berdengung kali pertama. Bahkan, bunyi keras sirine itu baru didengar warga setelah EWS bencana banjir milik BPBD Kabupaten Mojokerto dipasang sekitar akhir tahun 2020. ”Sebelumnya debit air pernah tinggi, tapi sirinenya gak bunyi. Baru kali ini saja bunyi,” imbuhnya.

Bergemanya sirine tanda bahaya itu membuat warga panik. Apalagi, warga yang tinggal di sekitar aliran Sungai Brangkal trauma dengan peristiwa banjir. Saat banjir bandang menerpa wilayah hulu yang berimbas ke hilirnya itu terjadi sekitar tahun 2003 silam. ”(Warga) sempat panik. Bunyi sirinenya kan cukup keras, jadi warga sekitar juga banyak yang keluar (rumah),” katanya.

Saat itu, debit air tengah meningkat. Namun, tinggi air dinilai masih aman. Sebab, masih berjarak sekitar dua meter dari tanggul. Bagi warga setempat, mengacu ketinggian air di Jembatan Daleman. Ketika, debit air sudah menyentuh badan jembatan, warga harus waspada. ”Saya juga sempat ngecek, ternyata (tinggi) debit airnya masih aman. Tapi arusnya deras, banyak sampah sama bambu-bambu yang hanyut,” urainya.

Meski dinilai aman, diakuinya, warga tetap waspada. Dikatakannya, usai sirine itu berdengung, sejumlah warga bersiaga memantau tinggi debit air di Sungai Brangkal. Sebab, mereka khawatir akan banjir kiriman. Derasnya arus pun berpotensi menggerus tanggul hingga jebol.

Seperti Februari 2020, tanggul Sungai Brangkal sepanjang 20 meter di Desa Jampirogo ambrol. ”Jadi waspada semua yang di rumah, nunggu sampai hujannya reda. Memastikan nggak terjadi apa-apa,” terangnya.

Beruntung, tak terjadi hal yang tidak diinginkan. Debit air di Sungai Brangkal berangsur surut saat malam tiba. Hanya saja, sejumlah tanaman warga di sekitar tanggul Sungai Brangkal turut terseret arus. 

Sistem peringatan dini bencana banjir berbasis curah hujan dan level ketinggian permukaan air sungai alias EWS itu tersebar di lima titik. Yakni, di aliran Sungai Dawuhan, Desa Padusan, Kecamatan Pacet (Wanawisata Padusan); Sungai Kromong, di Dusun Nono, Desa Kemiri, Kecamatan Pacet; aliran Sungai Roban, Desa Sumberjati, Kecamatan Jatirejo; aliran Sungai Brangkal di Desa Sambiroto, Kecamatan Sooko; dan aliran Sungai Jedong di Dusun Watusari, Desa Wotanmasjedong, Kecamatan Ngoro.

"Masing-masing sensor rata-rata memiliki batas aman kurang lebih 3 meter. Jarak dihitung antara tinggi permukaan air dan sensor," terang Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Mojokerto Djoko Supangkat. Dikatakannya, terdapat satu unit EWS di aliran Sungai Klorak, Desa Kalikatir, Kecamatan Gondang. Namun, disinyalir alat yang diperoleh dari hibah Lembaga Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID) itu tidak berfungsi normal.

"Yang di Kalikatir itu hibah dari USAID ke desa, kayaknya itu sudah rusak. Jadi yang bunyi cuma (EWS) di Sambiroto saja. Sebenarnya ada satu EWS bencana longsor di Dusun Mrasih, Desa Kemiri, Kecamatan Pacet, tapi itu milik BPBD Prov Jatim," sebutnya.

Dikatakannya, saat itu aliran anak Sungai Sadar yang ada di Kecamatan Mojoanyar juga sempat meluap ke jalan dan pemukiman. Setidaknya empat desa terdampak banjir luapan. Yakni, Dusun Ngengor dan Dusun Babatan di Desa Ngarjo, Desa Mojogeneng, Desa Sadartengah, hingga Desa Wunut. Beruntung, air juga berangsur surut Minggu (9/1) malam. (ron)

(mj/VAD/fen/JPR)

 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2022 PT. JawaPos Group Multimedia