alexametrics
30.8 C
Mojokerto
Thursday, July 7, 2022

Bunga Plastik Daur Ulang Kreasi Siswa Berkebutuhan Khusus

Manfaatkan Plastik Bekas, Hasilkan Beragam Jenis Tanaman Hias

Siswa berkebutuhan khusus di Sekolah Luar Biasa (SLB) PKK Gedeg, Kabupaten Mojokerto mampu mengkreasikan bunga berbahan plastik bekas. Karya daur ulang itu dirangkai hingga menyerupai bunga asli.

RIZAL AMRULLOH, Gedeg, Jawa Pos Radar Mojokerto

MEMASUKI gerbang SLB PKK Gedeg di Desa Pagerluyung, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto seakan langsung disambut dengan tanaman hias yang tertata rapi di pendapa sekolah. Selain bunga matahari, juga terdapat bunga sepatu dan bugenvil dengan corak warna yang beragam.

Sepintas, tanaman setinggi sekitar 2 meter itu menyerupai tumbuhan perdu seperti pada umumnya. Namun, jika diamati lebih dekat, mahkota bunga dan daun terbuat dari plastik. Ya, tanaman hias tersebut merupakan hasil karya dari peserta didik berkebutuhan khusus. ”Semuanya terbuat dari plastik bekas dan dibuat oleh siswa,” terang guru keterampilan SLB PKK Gedeg Khusnul Khotimah.

Bunga hias plastik tersebut dikreasikan oleh siswa jenjang SMALB. Tepatnya dari kategori B atau siswa penyandang tunarungu sebanyak 8 siswa. Selain itu, 4 peserta didik ketegori C atau tunagrahita juga ikut mengasah bakatnya dengan membuat karya bunga imitasi hias.

Khusnul mengungkapkan, bahan baku plasik diperoleh dari sumbangan siswa mulai dari jenjang TK hingga SMALB. Masing-masing membawa plastik bekas dari rumah. Tak jarang, plastik bekas juga didapat dari donasi wali murid. ”Kami terima semua jenis plastik bekas dengan warna apa saja. Ada juga yang dari jas hujan plastik yang sudah rusak,” tandasnya.

Baca Juga :  Akad Nikah Singkat, Penantian Malam Pertama Sangat Panjang

Bahan baku tersebut kemudian dilakukan pemilahan berdasarkan jenis bahan dan warna. Lembar demi lembar plastik bekas itu lalu dipotong dengan ukuran menyesuaikan jenis bunga yang akan dibuat.

Potongan bahan plastik itu yang akan dikombinasikan untuk dirangkai menjadi mahkota bunga. Sedangkan, plastik yang memiliki corak hijau digunakan khusus untuk membuat daun dan tangkai. Praktis, proses pembuatan karya bunga daur ulang tanpa membutuhkan pewarna tambahan.

Secara teknis, jelas Khusnul, bunga hias dari plastik bekas dilakukan dengan dua cara. Antara lain dilakukan dengan pemanas menggunakan setrika. Menurutnya, proses tersebut bertujuan untuk menciptakan ketebalan tertentu dengan menggunakan beberapa lapis plastik. ”Sehingga daun dan kelopak bunganya akan menjadi lebih kaku dan tahan lama setelah disetrika,” ulasnya.

Selain itu, bunga imitasi hias juga dirangkai secara natural. Seluruh bagian tanaman dibuat dengan potongan-potongan plastik tanpa ada sentuhan apa pun. Sehingga, hasil kreasi bunga memiliki tekstur yang lebih elastis sesuai dengan karakter bahan baku yang digunakan.

Baca Juga :  Lakukan Riset di Stasiun Mojokerto hingga Ambarawa

Tak hanya bahan baku tanaman hias, pot juga diproduksi dengan cara daur ulang. Yakni dengan memanfaatkan handuk bekas yang diolah dengan bahan semen. ”Jadi mulai dari pot hingga ujung tanaman memanfaatkan bahan bekas,” imbuh pendidik yang sudah mengabdi hampir 10 tahun di SLB PKK Gedeg ini.

Karena dibutuhkan ketelatenan, siswa membutuhkan waktu tiga hari untuk bisa memproduksi satu jenis bunga hias daur ulang. Meski proses produksi baru berjalan sekitar tiga bulan ini, namun siswa SLB PKK Gedeg telah berhasil membuat belasan jenis tanaman hias.

Di antaranya bunga matahari, anggrek, mawar, gladiol, bugenvil, dan asoka. Selain itu juga ada tanaman hias janda bolong, daun keladi, aglonema dan jenis lainnya. Hasil karya siswa berkebutuhan khusus itu kini terpajang rapi di etalase sekolah.

Selain dimanfaatkan untuk mempercantik ruang kelas dan lingkungan sekolah, produk bunga berbahan plastik bekas itu kini juga dipasarkan secara online melalui laman resmi sekolah. Satu rangkaian bunga dijual dengan harga kisaran Rp 45 ribu sampai Rp 145 ribu menyesuaikan dengan ukuran dan tingkat kesulitan saat proses pembuatannya. ”Bahan memang dari kresek bekas, tapi bunga-bunga ini merupakan hasil kreasi dari anak-anak (berkebutuhan khusus),” tandas Khusnul. (ron)

Manfaatkan Plastik Bekas, Hasilkan Beragam Jenis Tanaman Hias

Siswa berkebutuhan khusus di Sekolah Luar Biasa (SLB) PKK Gedeg, Kabupaten Mojokerto mampu mengkreasikan bunga berbahan plastik bekas. Karya daur ulang itu dirangkai hingga menyerupai bunga asli.

RIZAL AMRULLOH, Gedeg, Jawa Pos Radar Mojokerto

MEMASUKI gerbang SLB PKK Gedeg di Desa Pagerluyung, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto seakan langsung disambut dengan tanaman hias yang tertata rapi di pendapa sekolah. Selain bunga matahari, juga terdapat bunga sepatu dan bugenvil dengan corak warna yang beragam.

Sepintas, tanaman setinggi sekitar 2 meter itu menyerupai tumbuhan perdu seperti pada umumnya. Namun, jika diamati lebih dekat, mahkota bunga dan daun terbuat dari plastik. Ya, tanaman hias tersebut merupakan hasil karya dari peserta didik berkebutuhan khusus. ”Semuanya terbuat dari plastik bekas dan dibuat oleh siswa,” terang guru keterampilan SLB PKK Gedeg Khusnul Khotimah.

Bunga hias plastik tersebut dikreasikan oleh siswa jenjang SMALB. Tepatnya dari kategori B atau siswa penyandang tunarungu sebanyak 8 siswa. Selain itu, 4 peserta didik ketegori C atau tunagrahita juga ikut mengasah bakatnya dengan membuat karya bunga imitasi hias.

- Advertisement -

Khusnul mengungkapkan, bahan baku plasik diperoleh dari sumbangan siswa mulai dari jenjang TK hingga SMALB. Masing-masing membawa plastik bekas dari rumah. Tak jarang, plastik bekas juga didapat dari donasi wali murid. ”Kami terima semua jenis plastik bekas dengan warna apa saja. Ada juga yang dari jas hujan plastik yang sudah rusak,” tandasnya.

Baca Juga :  Hikayat Kerajinan Bambu Mojopilang Terancam Tamat

Bahan baku tersebut kemudian dilakukan pemilahan berdasarkan jenis bahan dan warna. Lembar demi lembar plastik bekas itu lalu dipotong dengan ukuran menyesuaikan jenis bunga yang akan dibuat.

Potongan bahan plastik itu yang akan dikombinasikan untuk dirangkai menjadi mahkota bunga. Sedangkan, plastik yang memiliki corak hijau digunakan khusus untuk membuat daun dan tangkai. Praktis, proses pembuatan karya bunga daur ulang tanpa membutuhkan pewarna tambahan.

Secara teknis, jelas Khusnul, bunga hias dari plastik bekas dilakukan dengan dua cara. Antara lain dilakukan dengan pemanas menggunakan setrika. Menurutnya, proses tersebut bertujuan untuk menciptakan ketebalan tertentu dengan menggunakan beberapa lapis plastik. ”Sehingga daun dan kelopak bunganya akan menjadi lebih kaku dan tahan lama setelah disetrika,” ulasnya.

Selain itu, bunga imitasi hias juga dirangkai secara natural. Seluruh bagian tanaman dibuat dengan potongan-potongan plastik tanpa ada sentuhan apa pun. Sehingga, hasil kreasi bunga memiliki tekstur yang lebih elastis sesuai dengan karakter bahan baku yang digunakan.

Baca Juga :  Mubin Supanji, Ubah Limbah Jadi Berbagai Kerajinan

Tak hanya bahan baku tanaman hias, pot juga diproduksi dengan cara daur ulang. Yakni dengan memanfaatkan handuk bekas yang diolah dengan bahan semen. ”Jadi mulai dari pot hingga ujung tanaman memanfaatkan bahan bekas,” imbuh pendidik yang sudah mengabdi hampir 10 tahun di SLB PKK Gedeg ini.

Karena dibutuhkan ketelatenan, siswa membutuhkan waktu tiga hari untuk bisa memproduksi satu jenis bunga hias daur ulang. Meski proses produksi baru berjalan sekitar tiga bulan ini, namun siswa SLB PKK Gedeg telah berhasil membuat belasan jenis tanaman hias.

Di antaranya bunga matahari, anggrek, mawar, gladiol, bugenvil, dan asoka. Selain itu juga ada tanaman hias janda bolong, daun keladi, aglonema dan jenis lainnya. Hasil karya siswa berkebutuhan khusus itu kini terpajang rapi di etalase sekolah.

Selain dimanfaatkan untuk mempercantik ruang kelas dan lingkungan sekolah, produk bunga berbahan plastik bekas itu kini juga dipasarkan secara online melalui laman resmi sekolah. Satu rangkaian bunga dijual dengan harga kisaran Rp 45 ribu sampai Rp 145 ribu menyesuaikan dengan ukuran dan tingkat kesulitan saat proses pembuatannya. ”Bahan memang dari kresek bekas, tapi bunga-bunga ini merupakan hasil kreasi dari anak-anak (berkebutuhan khusus),” tandas Khusnul. (ron)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/