alexametrics
32.8 C
Mojokerto
Friday, October 7, 2022

Di Balik Layar Pementasan Dolen Komo

Angkat Cerita Rakyat, Sekali Perform Butuh Persiapan selama Sepekan

Genap dua tahun Dolen Komo atau Dongeng Online Kota Mojokerto, eksis mengangkat cerita-cerita kedaerahan. Di balik pertunjukan boneka tangan dan panggung sederhana yang disiarkan secara live streaming itu, terdapat persiapan panjang yang dilakukan selama sepekan. Seperti apa?

RIZAL AMRULLOH, KOTA, Jawa Pos Radar Mojokerto

SEJAK dua tahun terakhir, ruang baca koleksi anak di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kota Mojokerto disulap menjadi studio sekaligus setting panggung untuk pentas Dolen Komo. Aktivitas story telling yang semula menjadi bagian dari adaptasi di awal masa pandemi Covid-19 ini masih konsisten memberi tontonan sekaligus tuntunan yang diangkat dari cerita rakyat.

Dolen Komo diinisiasi sejak 2 Oktober 2020 lalu ketika pandemi membatasi pertemuan tatap muka langsung. Meski kini pintu kunjungan perpustakaan sudah kembali dibuka, namun dongeng yang ditayangkan langsung melalui media sosial facebook dan instagram ini tetap rutin mengudara.

Di balik eksistensinya, Dolen Komo juga memiliki kru yang melakukan persiapan panjang sebelum disajikan secara daring. ”Persiapan kurang lebih satu minggu,” ungkap Cecilia Anantria, Pustakawan Dispusip Kota Mojokerto.

Baca Juga :  Replika Jung Majapahit, Ikon Baru di Pemandian Sekarsari

Maklum, dalam sekali pentas dongeng, terdapat banyak rangkaian persiapan yang dilakukan. Di awali dengan pemilihan konsep. Dolen Komo mengangkat cerita bervariatif. Terutama dongeng kumpulan buku cerita rakyat lokal di Mojokerto. ”Misalnya tema asal usul Kelurahan Meri, dari buku itu kita sajikan dalam bentuk naskah drama untuk didongengkan,” paparnya.

Karena itu, dalam pelaksanaannya terdapat penulis naskah dan sutradara untuk menentukan penokohan. Dongeng disajikan dengan menggunakan media boneka tangan, sehingga dipersiapkan pula setting panggung dan para pemain boneka tangan.

Termasuk dekorator dan kameraman untuk merekam secara langsung performance dongeng. ”Kalau mengangkat cerita buaya di Sungai Brantas, kita ya bikin properti tambahan sungai-sungai sebagai visualisasi latarnya,” imbuh Cecil.

Tak cukup dengan itu, seluruh kru juga melakukan pelatihan. Karena ditayangkan secara langsung, maka latihan dilakukan minimal dua kali hingga benar-benar siap ditampilkan.

Baca Juga :  Kesenian Ujung, Ritual Pemanggil Hujan dan Adu Kanuragan Prajurit Majapahit

Dongeng akan dibuka tokoh boneka tangan yang dinamakan Siti dan Aisyah. Tokoh khas Dolen Komo itu sekaligus menutup dongeng sekaligus menyampaikan pesan atau nasihat yang tersirat dari cerita yang diangkat. ”Karena dari setiap dongeng mengandung pesan-pesan moral,” tuturnya.

Seiring berjalannya waktu, Dolen Komo mengalami perkembangan. Agar penonton tidak bosan, dongeng juga dikombinasikan dengan kolaborasi mendongeng online. Cerita tidak dibawakan oleh boneka, melainkan juga disampaikan langsung dari pendongeng cilik dari kalangan pelajar jenjang sekolah dasar.

Rencananya, eksistensi Dolen Komo akan tetap dipertahankan. Bahkan, frekuensi penampilan yang semula sebulan sekali kini dijadwalkan rutin satu minggu sekali. Selain tetap mengusung cerita rakyat, tema dongeng juga lebih bervariatif dengan mengangkat cerita kedaerahan yang disesuaikan dengan momentum peringatan hari besar nasional maupun keagamaan. ”Harapannya anak-anak mengenal sejak dini cerita-cerita dan budaya yang ada di Mojokerto,” urai Cecil. (ron)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/