alexametrics
28.8 C
Mojokerto
Tuesday, May 17, 2022

Ariyanto, Tiga Tahun Dipercaya Jadi Koki di Lapas Mojokerto

Memasak Sejak Pukul 13.00 untuk Menu Berbuka Para Narapidana

Ada banyak cara yang dilakukan para napi untuk menebus kesalahan mereka di masa lampau. Salah satunya menyibukkan diri dengan kegiatan positif selama menjalani hukuman. Begitu pun yang dilakukan oleh Ariyanto. Salah satu juru masak di dapur Lapas Mojokerto sejak tiga tahun terakhir.

INDAH OCEANANDA, Kota, Jawa Pos Radar Mojokerto

SIANG itu, di dapur Lapas Klas IIB Mojokerto, Ariyanto tampak sibuk menyiapkan masakan. Kedua tangannya terlihat lihai membersihkan sayur mayur dan mengolahnya menjadi sajian untuk berbuka puasa maupun sahur untuk 975 warga binaan. ”Ini sudah Ramadan ketiga kalinya saya menyajikan makanan sahur dan berbuka untuk teman-teman,” ungkapnya mengawali percakapan.

Saking lamanya, Ariyanto sudah hafal menu harian yang akan disajikan ke teman senabisnya tersebut. Seperti, soto ayam, tumis kangkung, tumis tauge, tumis sawi putih, sayur bening, dan sayur lodeh.

Hidangan tersebut memang sudah menjadi menu makanan dalam siklus sepuluh hari warga binaan pemasyarakatan sesuai Permenkumham RI Nomor 40 tahun 2017. ”Saya dibantu 13 teman lainnya untuk mempersiapkan makanan. Tapi, kalau yang bagian masak sayur, pasti saya,” jelas pria 52 tahun ini.

Ariyanto mengaku, selama bulan puasa, ia sudah bekerja di dapur sejak pukul 13.00 WIB. Lantaran harus mempersiapkan bahan makanan kemudian mengolahnya. Lalu, pukul 15.00 WIB makanan itu bakal dibagikan ke tiap-tiap sel untuk dinikmati saat berbuka puasa. ”Kami menyebutnya cadong,” sebutnya.

Baca Juga :  Permintaan Meningkat Tiga Kali Lipat, Stok Bahan hingga 4 Kuintal

Sedangkan, untuk sahur, ia memilih tidak tidur bersama narapidana lain yang bertugas memasak. Hingga tiba waktunya mempersiapkan olahan makanan pukul 23.00 WIB. ”Kalau malam kita nggak tidur, cuma istirahat nonton TV, habis itu salat tarawih dan mengaji dulu. Takut kebablasan, kasian napi-napi yang lain, soalnya butuh sekitar dua jam untuk masak. Kita baru tidur habis salat subuh,’’ terang warga Dusun/Desa Kemasantani, Kecamatan Gondang ini.

Ariyanto menuturkan, sejatinya ia tak pernah mengikuti kursus memasak sebelum mendekam di hotel predeo. Namun, karena dulunya ia pernah merantau dan memaksanya mandiri, ia pun mengajukan diri menjadi juru masak. ”Bisa masaknya karena otodidak. Dulu waktu merantaukan harus bisa masak sendiri. Alhamdulillah sekarang sudah bisa masak apa saja. Kayak soto, numis,” beber mantan TKI Malaysia tersebut.
Saat ditanya alasannya menjadi juru masak selama mendekam di balik jeruji besi, Ariyanto mengaku ia tak ingin menyusahkan istri untuk berkirim makanan. Itu juga untuk menebus rasa bersalahnya terhadap sang istri akibat kesalahan yang pernah ia lakukan.

Baca Juga :  Berawal dari Mulut ke Mulut, Ibu Bertugas Jaga Cita Rasa

Sebagaimana diketahui, Ariyanto sendiri ditahan akibat tersandung kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) terhadap istrinya. ”Saya yang ingin masuk jadi (koki) di sini (dapur Lapas). Biar gak menyusahkan istri lagi, jadi dia tidak perlu mengantar makanan setiap hari. Sebab, saya sudah cukup kenyang di sini,” ungkap dia.

Disinggung tentang pengabdiannya menjadi juru masak di Lapas, Ariyanto mengaku tak merasa terbebani dengan kerjaan yang digelutinya sejak tahun 2019 lalu. ”Saya senang sekali. Bisa bagi-bagi takjil sama teman-teman. Karena napi-napi di sini rasanya sudah seperti saudara semua,” paparnya.

Di lain sisi, Ariyanto mengaku, ia merasa menyesal karena perbuatan kekerasan yang pernah dilakukan terhadap sang istri. Ariyanto pun berharap saat ia sudah menghirup udara bebas nanti, Ariyanto bisa kembali menjadi sosok kepala keluarga yang baik. Bahkan, ia sudah punya rencana akan kembali mendirikan usahanya sebelum menjadi penghuni di rumah tahanan. ”Kapok saya, ini (menjadi juru masak) jalan saya untuk taubat. Nggak mau masuk (Lapas) lagi. Kalau sudah bebas, mau jualan ketela seperti dulu lagi,” tutupnya. (ron)

Memasak Sejak Pukul 13.00 untuk Menu Berbuka Para Narapidana

Ada banyak cara yang dilakukan para napi untuk menebus kesalahan mereka di masa lampau. Salah satunya menyibukkan diri dengan kegiatan positif selama menjalani hukuman. Begitu pun yang dilakukan oleh Ariyanto. Salah satu juru masak di dapur Lapas Mojokerto sejak tiga tahun terakhir.

INDAH OCEANANDA, Kota, Jawa Pos Radar Mojokerto

SIANG itu, di dapur Lapas Klas IIB Mojokerto, Ariyanto tampak sibuk menyiapkan masakan. Kedua tangannya terlihat lihai membersihkan sayur mayur dan mengolahnya menjadi sajian untuk berbuka puasa maupun sahur untuk 975 warga binaan. ”Ini sudah Ramadan ketiga kalinya saya menyajikan makanan sahur dan berbuka untuk teman-teman,” ungkapnya mengawali percakapan.

Saking lamanya, Ariyanto sudah hafal menu harian yang akan disajikan ke teman senabisnya tersebut. Seperti, soto ayam, tumis kangkung, tumis tauge, tumis sawi putih, sayur bening, dan sayur lodeh.

Hidangan tersebut memang sudah menjadi menu makanan dalam siklus sepuluh hari warga binaan pemasyarakatan sesuai Permenkumham RI Nomor 40 tahun 2017. ”Saya dibantu 13 teman lainnya untuk mempersiapkan makanan. Tapi, kalau yang bagian masak sayur, pasti saya,” jelas pria 52 tahun ini.

- Advertisement -

Ariyanto mengaku, selama bulan puasa, ia sudah bekerja di dapur sejak pukul 13.00 WIB. Lantaran harus mempersiapkan bahan makanan kemudian mengolahnya. Lalu, pukul 15.00 WIB makanan itu bakal dibagikan ke tiap-tiap sel untuk dinikmati saat berbuka puasa. ”Kami menyebutnya cadong,” sebutnya.

Baca Juga :  Temukan Gaya Khas Bernyanyi saat Dakwah

Sedangkan, untuk sahur, ia memilih tidak tidur bersama narapidana lain yang bertugas memasak. Hingga tiba waktunya mempersiapkan olahan makanan pukul 23.00 WIB. ”Kalau malam kita nggak tidur, cuma istirahat nonton TV, habis itu salat tarawih dan mengaji dulu. Takut kebablasan, kasian napi-napi yang lain, soalnya butuh sekitar dua jam untuk masak. Kita baru tidur habis salat subuh,’’ terang warga Dusun/Desa Kemasantani, Kecamatan Gondang ini.

Ariyanto menuturkan, sejatinya ia tak pernah mengikuti kursus memasak sebelum mendekam di hotel predeo. Namun, karena dulunya ia pernah merantau dan memaksanya mandiri, ia pun mengajukan diri menjadi juru masak. ”Bisa masaknya karena otodidak. Dulu waktu merantaukan harus bisa masak sendiri. Alhamdulillah sekarang sudah bisa masak apa saja. Kayak soto, numis,” beber mantan TKI Malaysia tersebut.
Saat ditanya alasannya menjadi juru masak selama mendekam di balik jeruji besi, Ariyanto mengaku ia tak ingin menyusahkan istri untuk berkirim makanan. Itu juga untuk menebus rasa bersalahnya terhadap sang istri akibat kesalahan yang pernah ia lakukan.

Baca Juga :  Diyakini sebagai Pintu Masuk Kerajaan yang Namanya Ada di Peta Zaman Belanda

Sebagaimana diketahui, Ariyanto sendiri ditahan akibat tersandung kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) terhadap istrinya. ”Saya yang ingin masuk jadi (koki) di sini (dapur Lapas). Biar gak menyusahkan istri lagi, jadi dia tidak perlu mengantar makanan setiap hari. Sebab, saya sudah cukup kenyang di sini,” ungkap dia.

Disinggung tentang pengabdiannya menjadi juru masak di Lapas, Ariyanto mengaku tak merasa terbebani dengan kerjaan yang digelutinya sejak tahun 2019 lalu. ”Saya senang sekali. Bisa bagi-bagi takjil sama teman-teman. Karena napi-napi di sini rasanya sudah seperti saudara semua,” paparnya.

Di lain sisi, Ariyanto mengaku, ia merasa menyesal karena perbuatan kekerasan yang pernah dilakukan terhadap sang istri. Ariyanto pun berharap saat ia sudah menghirup udara bebas nanti, Ariyanto bisa kembali menjadi sosok kepala keluarga yang baik. Bahkan, ia sudah punya rencana akan kembali mendirikan usahanya sebelum menjadi penghuni di rumah tahanan. ”Kapok saya, ini (menjadi juru masak) jalan saya untuk taubat. Nggak mau masuk (Lapas) lagi. Kalau sudah bebas, mau jualan ketela seperti dulu lagi,” tutupnya. (ron)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/