Kamis, 20 Jan 2022
Radar Mojokerto
Home / Features
icon featured
Features
Hermawan, Perajin Bunga Bonsai Hias

Raup Omset Puluhan Juta Berkat Limbah

07 Januari 2022, 06: 00: 59 WIB | editor : Fendy Hermansyah

Raup Omset Puluhan Juta Berkat Limbah

BUATAN TANGAN: Wawan saat mengerjakan salah satu pesanan bunga bonsai hias jenis sakura untuk dikirim ke luar kota, kemarin. (Indah Oceananda/jawaposradarmojokerto.id)

Share this      

Kreativitas Hermawan patut diteladani. Dari tangan dinginnya, dia mampu memanfaatkan limbah plastik menjadi kerajinan bunga bonsai hias bernilai ekonomi tinggi.

INDAH OCEANANDA, Trowulan, Jawa Pos Radar Mojokerto

Selama belasan tahun, Hermawan mengadu nasib di jalanan. Sopir taksi ini mulai banting setir saat pandemi lalu. Menjadi perakit bunga hias dadakan meski tak memiliki keahlian.

Baca juga: Sempat Gagal Nikah Karena Narkoba, Kini Kelola Pertanian Organik

”Karena pandemi, tidak pernah ada penumpang. Akhirnya, saya coba jualan apa saja. Belum melirik ke usaha bunga bonsai, saya pun waktu itu belum ada keahlian yang berbau kerajinan,” ujar pria yang akrab disapa Wawan ini, kemarin (6/1).

Ditemui saat menyelesaikan rangkaian salah satu bunga bonsai hias di rumahnya, di Gang Kramat III, Dusun/Desa Trowulan, Wawan mengatakan, dirinya sempat berjualan celengan dari gipsum. Namun, usaha itu gagal karena bahan yang mudah pecah sekaligus minim peminat.

Tak putus asa. Wawan pun mencoba berjualan masker kain dan face shield. Tetapi, itu juga tak bertahan lama. Pasalnya, saat itu sudah banyak pembeli yang lebih suka mengenakan masker medis. ”Lalu, saya dipinjami modal sama orang tua. Saya kepikiran usaha bunga bonsai hias gara-gara pas jalan-jalan lihat kok banyak yang beli hiasan ini,” bebernya.

Bermodalkan minim, pria 37 tahun ini mulai belajar otodidak cara merangkai bunga bonsai. Dia mencoba menggunakan bahan dari limbah plastik yang sudah dimasak. Itu dipasoknya dari daerah Desa Kejagan, Kecamatan Trowulan.

Lalu, plastik itu dirangkainya menjadi batang maupun bunga. ”Kadang saya juga pakai limbah sterofoam yang diambil dari helm,” ucapnya.

Adapun jenis bunga bonsai hias yang dibuatnya, dijual mulai harga Rp 15 ribu-Rp 450 ribu. Ukurannya beragam. Ada yang ukuran kecil hingga besar dengan tinggi 2 meter.

Bapak dua anak ini menuturkan, dirinya berkutat memasarkan produk kerajinannya dari mulut ke mulut. Berkat jerih payahnya itu, produknya berhasil terjual hingga ke luar pulau Jawa. Diantaranya Medan, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua. ”Alhamdulillah, dari hasil penjualan ini sebulan saya bisa dapat untung Rp 40 juta. Malah pas jelang tahun baru kemarin, yang Medan dan Papua itu pesananannya nambah,” sebut dia.

Selama sebulan, dia mampu mengirimkan 500 hingga 1000 kerajinan bunga bonsai hias berukuran kecil. Sedangkan, bunga bonsai ukuran besar bisa laku mencapai 50 buah.

Tak ingin kecipratan berkah sendirian. Wawan mengajak empat orang tetangganya membantu usahanya itu. Dia menuturkan, usaha bunga bonsai hiasnya ini menjadi mata pencarian utamanya. Namun, di samping itu dia menjadi ketagihan berbisnis.

Saat ini, dia masih kerap menjajal bisnis lainnya. Seperti usaha hiasan dinding, celengan gipsum serta masker dan face shield. ”Kalau ada yang pesan saja. Tetap saya coba semuanya jadi tetap jalan dan dijadikan sampingan. Yang penting jangan menyerah dalam berusaha,” tandasnya. (ron)

(mj/OCE/fen/JPR)

 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2022 PT. JawaPos Group Multimedia