Rabu, 27 Oct 2021
Radar Mojokerto
Home / Features
icon featured
Features
Siasat Mbak Yanti Seniman Ludruk Saat Pandemi

Dua Tahun Tak Manggung, Banting Setir Jadi Penjual Mi Ayam

06 Oktober 2021, 12: 25: 59 WIB | editor : Fendy Hermansyah

Dua Tahun Tak Manggung, Banting Setir Jadi Penjual Mi Ayam

BERTAHAN: Yanti tengah melayani pembeli di lapaknya, di Dusun Pecuk, Desa Ngabar, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto. (Martda Vadetya/jawaposradarmojokerto.id)

Share this      

Diterpa pandemi, pemain ludruk menjadi salah satu seniman yang paling terpukul. Tak ada pentas. Mereka dilarang manggung. Lalu, bagaimana mereka bertahan untuk mencukupi kebutuhan?

MARTDA VADETYA, Jetis , Jawa Pos Radar Mojokerto

PAGI itu, Yanti tengah sibuk menyiapkan barang dagangannya. Berbagai parabot masakan, ditata dengan rapi. Tak jauh dari rumahnya. di Dusun Pecuk, Desa Ngabar, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto.

Baca juga: Dua Keluarga Ini Terpaksa Menghuni Kandang Kambing

Anggota Ludruk Karya Budaya Mojokerto itu, kini tengah menekuni usaha mi ayam. Saat ini, merupakan tahun keduanya sebagai penjual mi ayam. Bernama asli Suyanto, Yanti banting setir menjadi pedagang mi lantaran tak ada pentas.  ”Sejak awal pandemi itu, sekitar Maret 2020 kan mulai dilarang ada pentas. Akhirnya, saya pilih buka mi ayam,” ujarnya.

Menurutnya, itu karena kian terpuruknya para pelaku seni tradisional selama pandemi Covid-19 ini. Hingga kini, masih belum ada regulasi pasti terkait diizinkannya pagelaran seni secara langsung. Lantaran selama pandemi ini, baru pementasan secara daring yang diizinkan. Itu pun jumlah pentasnya sangat minim jika dibandingkan pada masa sebelum pandemi Covid-19. Sebab dalam sebulan, rata-rata mereka mampu pentas hingga enam kali. ”Kalau sekarang, paling cuma sebulan sekali. Itu pun kalau ada job mentas. Sekarang sudah gak kayak dulu lagi. Bahkan, dulu sampai pentas ke luar kota,” bebernya.

Dia mengaku, lebih memilih sebagai berjualan mi ayam lantaran jam operasional lapak kaki limanya itu lebih cocok bagi pelaku seni. Buka mulai sekitar pukul 08.00 hingga 15.00. Sebab, rentan waktu pada malam hari bisa ia gunakan untuk sekadar latihan. ”Dulu sempat dikasih pilihan. Mau jual  nasi goreng atau soto. Tapi itu kan jualannya magrib sampai malam,” ungkapnya.

Yanti mengaku, memang memiliki hobi memasak. Ya, nama panggungnya ia sesuaikan dengan nama asli dan peran yang dilakoninya saat manggung. Namun, saat itu ia tak tahu pasti resep mi ayam.

Diakuinya, ia mengantongi resep makanan berbahan dasar tepung dan ayam itu dari seorang teman. ”Resep ini diajari teman. Terus saya inovasi sendiri. Awalnya dulu juga sempat dikasi resep nasi goreng sama soto,” tuturnya.

Meski hasil berjualan mi ayam hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari, dia tetap bersyukur lantaran ada pemasukan rutin. Ketimbang hanya mengandalkan ludruk yang kian terpuruk dihantam pagebluk. ”Sekarang sudah lumayan ramai. Ya walaupun kadang laku dan kadang nggak. Cukup lah buat sehari-hari sama bantu orang tua,” papar pria kelahiran 1965 itu.

(mj/VAD/fen/JPR)

 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia