alexametrics
30.8 C
Mojokerto
Monday, August 15, 2022

Industri Kreatif Kampung Layah di Mlaten, Kecamatan Puri Kembali Bergairah

Perajin layah di Desa Mlaten, Kecamatan Puri mulai bergairah. Mereka kembali kebanjiran pesanan setelah sebelumnya terpuruk akibat merebaknya pandemi Covid-19.

KHUDORI ALIANDU, PURI, Jawa Pos Radar Mojokerto

GEMPURAN pandemi Covid-19 beberapa tahun terakhir ini membuat para perajin layah harus survive. Sebab, banyaknya pembatasan yang dilakukan pemerintah, berakibat pada orderan yang merosot tajam. Sementara, dapur harus tetap ngepul. ’’Tapi, Alhamdulillah. Sekarang mulai ramai lagi pesanan,’’ ungkap Ropiin, 45, salah satu perajin.

Di tengah kesibukannya menata layah produksinya, Ropiin mengaku, sudah beberapa bulan ini produksi layahnya perlahan pulih. Hal itu seiring pemulihan ekonomi yang dilakukan pemerintah dengan tak lagi memberi pembatasan di berbagai sektor.

’’Kalau kita, sebagai perajin layah, ya mengikuti pasar. Pasar ramai, kita dapat untung, kalau pasar sering tutup seperti saat pandemi, ya sepi,’’ tutur pria kelahiran 1977 ini.

Bersama istrinya, Khusnul Janiayah, 36, dia memproduksi layah dengan berbagai macam ukuran. Mulai, kecil, sedang, besar, hingga jumbo. Selain istrinya, untuk menyelesaikan pesanan, dia juga dibantu tiga pekerja yang juga tetangga sendiri.

Baca Juga :  Desain Kostum Pertunjukan Wayang Beber, Usung Unsur Majapahitan

’’Bisa produksi ratusan unit. Kalau yang kecil ini bisa 300 biji, layah yang besar ini 200-an biji, yang sedang ini juga 300-an biji, yang cetak dua orang,’’ jelasnya.

Hasil produksinya dikirim ke sejumlah pasar besar di wilayah Jawa Timur. Salah satunya Pasar Larangan, Sidoarjo. Ramainya pasar membuatnya juga bisa kirim satu sampai dua kali tiap minggunya. Jumlahnya bervariatif sekitar 300-500 unit sekali kirim dengan ukuran berbeda-beda.

’’Harganya juga menyesuaikan, banyak dan sedikitnya pesanan. Rata-rata satu layah ukuran kecil Rp 2.500, yang sedang 5.000, untuk yang jumbo untuk rujak ulek Rp 28-30 ribu satu layah,’’ paparnya.

Sejak ia lajang, dirinya sudah bergelut dengan kerajinan dengan bahan baku tanah liat ini. Hanya saja, dengan persaingan yang cukup ketat, pada 2018 dia memutuskan untuk memproduksi sendiri bersama sang istri. Mempertahankan kualitas menjadi alasan dirinya lebih mandiri.

Dengan banyaknya pesaing di Desa Mlaten yang sudah jadi sentra pembuatan layah, membuatnya harus jaga kualitas. ’’Kualitas ini yang utama. Sekali pelanggan kecewa, akan pindah ke perajin lain. Kuncinya, kita harus pintar-pintar pilih tanah sebagai bahan baku. Selain itu proses pembakaran juga harus diperhatikan, kalau saya biasanya dibakar sampai lima jam,’’ katanya.

Baca Juga :  4 Varietas Kopi Penanggungan, Ditanam Tumpang Sari, Hasilkan Cita Rasa Khas

Dengan menjaga kualitas dan terpaan produk pabrikan, ia mengaku produksi layah masih banyak dicari. Di antaranya untuk hajatan, budaya mauludan, hingga kuliner. Apalagi, dengan Sambel Wader yang menjadi salah satu kuliner khas Kabupaten Mojokerto yang bakal ikut meramaikan MajaFest 2022, Agustus mendatang di Trawas, sedikit banyak ikut mengangkat perekomian para perajin layah di Mlaten.

Dengan menjadikan kuliner ini sebagai ikonik daerah dan mencetak rekor Muri melalui event kreatif Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Keolahragaan dan Pariwisata (Disbudporapar), belakangan membuat perajin layah ikut ketiban untung. ’’Selain hajatan, memang banyak juga layah-layah kami ini dipesan dan dipakai untuk samber wader. Jadi Alhamdulillah, kita ikut menerima dampaknya,’’ jelasnya. (ron)

Perajin layah di Desa Mlaten, Kecamatan Puri mulai bergairah. Mereka kembali kebanjiran pesanan setelah sebelumnya terpuruk akibat merebaknya pandemi Covid-19.

KHUDORI ALIANDU, PURI, Jawa Pos Radar Mojokerto

GEMPURAN pandemi Covid-19 beberapa tahun terakhir ini membuat para perajin layah harus survive. Sebab, banyaknya pembatasan yang dilakukan pemerintah, berakibat pada orderan yang merosot tajam. Sementara, dapur harus tetap ngepul. ’’Tapi, Alhamdulillah. Sekarang mulai ramai lagi pesanan,’’ ungkap Ropiin, 45, salah satu perajin.

Di tengah kesibukannya menata layah produksinya, Ropiin mengaku, sudah beberapa bulan ini produksi layahnya perlahan pulih. Hal itu seiring pemulihan ekonomi yang dilakukan pemerintah dengan tak lagi memberi pembatasan di berbagai sektor.

’’Kalau kita, sebagai perajin layah, ya mengikuti pasar. Pasar ramai, kita dapat untung, kalau pasar sering tutup seperti saat pandemi, ya sepi,’’ tutur pria kelahiran 1977 ini.

Bersama istrinya, Khusnul Janiayah, 36, dia memproduksi layah dengan berbagai macam ukuran. Mulai, kecil, sedang, besar, hingga jumbo. Selain istrinya, untuk menyelesaikan pesanan, dia juga dibantu tiga pekerja yang juga tetangga sendiri.

Baca Juga :  Di-Charge 2 Jam, Mampu Menempuh Jarak 200 Km
- Advertisement -

’’Bisa produksi ratusan unit. Kalau yang kecil ini bisa 300 biji, layah yang besar ini 200-an biji, yang sedang ini juga 300-an biji, yang cetak dua orang,’’ jelasnya.

Hasil produksinya dikirim ke sejumlah pasar besar di wilayah Jawa Timur. Salah satunya Pasar Larangan, Sidoarjo. Ramainya pasar membuatnya juga bisa kirim satu sampai dua kali tiap minggunya. Jumlahnya bervariatif sekitar 300-500 unit sekali kirim dengan ukuran berbeda-beda.

’’Harganya juga menyesuaikan, banyak dan sedikitnya pesanan. Rata-rata satu layah ukuran kecil Rp 2.500, yang sedang 5.000, untuk yang jumbo untuk rujak ulek Rp 28-30 ribu satu layah,’’ paparnya.

Sejak ia lajang, dirinya sudah bergelut dengan kerajinan dengan bahan baku tanah liat ini. Hanya saja, dengan persaingan yang cukup ketat, pada 2018 dia memutuskan untuk memproduksi sendiri bersama sang istri. Mempertahankan kualitas menjadi alasan dirinya lebih mandiri.

Dengan banyaknya pesaing di Desa Mlaten yang sudah jadi sentra pembuatan layah, membuatnya harus jaga kualitas. ’’Kualitas ini yang utama. Sekali pelanggan kecewa, akan pindah ke perajin lain. Kuncinya, kita harus pintar-pintar pilih tanah sebagai bahan baku. Selain itu proses pembakaran juga harus diperhatikan, kalau saya biasanya dibakar sampai lima jam,’’ katanya.

Baca Juga :  Geliat Ekonomi Pasca Musim Haji Dibuka Kembali

Dengan menjaga kualitas dan terpaan produk pabrikan, ia mengaku produksi layah masih banyak dicari. Di antaranya untuk hajatan, budaya mauludan, hingga kuliner. Apalagi, dengan Sambel Wader yang menjadi salah satu kuliner khas Kabupaten Mojokerto yang bakal ikut meramaikan MajaFest 2022, Agustus mendatang di Trawas, sedikit banyak ikut mengangkat perekomian para perajin layah di Mlaten.

Dengan menjadikan kuliner ini sebagai ikonik daerah dan mencetak rekor Muri melalui event kreatif Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Keolahragaan dan Pariwisata (Disbudporapar), belakangan membuat perajin layah ikut ketiban untung. ’’Selain hajatan, memang banyak juga layah-layah kami ini dipesan dan dipakai untuk samber wader. Jadi Alhamdulillah, kita ikut menerima dampaknya,’’ jelasnya. (ron)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/