alexametrics
30.8 C
Mojokerto
Monday, August 15, 2022

Mengenal Seragam Khas SDN Purwotengah ala Soekarno Kecil

Siswa Gunakan Blangkon, Siswi Pakai Setelan Kebaya
Sosok Koesno seakan kembali hadir di SDN Purwotengah, Kota Mojokerto. Sekolah yang pernah menjadi tempat mengenyam pendidikan Putra Sang Fajar pada 1909-1912 ini menetapkan seragam ala Soekarno kecil menjadi seragam khas sekolah.

RIZAL AMRULLOH, Kranggan, Jawa Pos Radar Mojokerto

NUANSA pendidikan zaman prakemerdekaan direfleksikan oleh SDN Purwotengah, Kota Mojokerto. Lembaga pendidikan yang pada era kolonial dikenal dengan sekolah ongko loro ini menjadikan seragam ala Soekarno kecil menjadi pakaian khas sekolah.

Peringatan Hari Lahir Pancasila pada 1 Juni 2022 menandai ditetapkannya seragam Koesno -nama kecil Soekarno- untuk digunakan seluruh peserta didik di SDN Purwotengah. Tak hanya untuk kegiatan belajar mengajar, seragam yang memadukan warna putih dan corak batik itu juga dipakai pada beberapa kegiatan dalam rangka bulan Bung Karno dan upacara Hari Lahir Soekarno 6 Juni.

Kepala SDN Purwotengah Endang Pujiastutik menjelaskan, penggunaan seragam khas sekolah tersebut bertujuan untuk memperkuat identitas lembaga yang berada Jalan Taman Siswa 16, Kecamatan Kranggan itu merupakan sekolah Soekarno. Sehingga, pakaian yang disebut dengan baju Geno Center ini menjadi pembeda dengan 46 SD negeri di Kota Mojokerto yang lain.

Baca Juga :  Warto, 16 Tahun Keluar Masuk Kampung Tawarkan Potong Rambut

”Model baju ini menjadi ciri khas SDN Purwotengah karena memang dipakai Soekarno kecil,” terangnya.
Endang menceritakan, awalnya, seragam ala Soekarno kecil itu tidak langsung mendapat persetujuan seluruh wali murid. Hal itu berdasarkan dari angket yang disebarkan ke semua orang tua siswa. Sebab, ada beberapa yang menyatakan tidak sepakat dengan berbagai alasannya.

Namun, setelah disosialisasikan, hampir 100 persen orang tua siswa akhir sepakat dengan pemakaian seragam Soekarno kecil. Kecuali kelas VI yang memang sudah lulus di tahun ajaran 2021/2022 ini.

Terkait model seragam, Endang menyebut desain pakaian ditetapkan berdasarkan referensi dari berbagai literatur. Selain dari foto-foto masa kecil Soekarno, desain seragam juga mengacu pada cover buku Bung Karno Candradimuka. ”Soekarno kecil memakai blangkon dan jas warna putih dengan dasi kupu-kupu,” jelasnya.

Sedangkan untuk bawahannya, lanjut Endang, memakai jarik motif batik dan alas kaki sandal selop. ”Sehingga model ini kami gunakan untuk seragam siswa laki-laki,” papar penulis buku Tapak Tilas sang Putra Fajar di Mojokerto ini.

Baca Juga :  Juara 1 LT 3 Pramuka Kabupaten Mojokerto, Bersiap ke Tingkat Jatim

Lain halnya dengan seragam bagi siswi. Endang menuturkan, pakaian yang dikenakan oleh peserta didik perempuan adalah model kebaya klasik. Desain tersebut juga diperoleh dari hasil penelusurannya ke Ndalem Pojok Kediri. ”Di sana (Ndalem Pojok, Red) kan ada foto-foto Soekarno. Saya juga melihat foto baju-baju kebaya yang menjadi pakaian perempuan dulu itu mirip seperti pakaian RA Kartini,” imbuhnya.

Setelan kebaya putih itu kemudian dijadikan untuk model seragam khas bagi siswi SDN Purwotengah. Tak hanya dipergunakan siswa, pakaian ala Soekarno kecil tersebut juga diterapkan bagi para tenaga pendidik.

Endang menambahkan, pakaian khas SDN Purwotengah itu rencananya akan digunakan rutin minimal sekali dalam sebulan mulai tahun ajaran baru 2022/2023 Juni nanti. ”Jika ada peringatan hari besar nasional dalam bulan tersebut juga akan kami gunakan. Tidak hanya anak-anak, tetapi juga untuk guru,” pungkasnya. (ron)

Siswa Gunakan Blangkon, Siswi Pakai Setelan Kebaya
Sosok Koesno seakan kembali hadir di SDN Purwotengah, Kota Mojokerto. Sekolah yang pernah menjadi tempat mengenyam pendidikan Putra Sang Fajar pada 1909-1912 ini menetapkan seragam ala Soekarno kecil menjadi seragam khas sekolah.

RIZAL AMRULLOH, Kranggan, Jawa Pos Radar Mojokerto

NUANSA pendidikan zaman prakemerdekaan direfleksikan oleh SDN Purwotengah, Kota Mojokerto. Lembaga pendidikan yang pada era kolonial dikenal dengan sekolah ongko loro ini menjadikan seragam ala Soekarno kecil menjadi pakaian khas sekolah.

Peringatan Hari Lahir Pancasila pada 1 Juni 2022 menandai ditetapkannya seragam Koesno -nama kecil Soekarno- untuk digunakan seluruh peserta didik di SDN Purwotengah. Tak hanya untuk kegiatan belajar mengajar, seragam yang memadukan warna putih dan corak batik itu juga dipakai pada beberapa kegiatan dalam rangka bulan Bung Karno dan upacara Hari Lahir Soekarno 6 Juni.

Kepala SDN Purwotengah Endang Pujiastutik menjelaskan, penggunaan seragam khas sekolah tersebut bertujuan untuk memperkuat identitas lembaga yang berada Jalan Taman Siswa 16, Kecamatan Kranggan itu merupakan sekolah Soekarno. Sehingga, pakaian yang disebut dengan baju Geno Center ini menjadi pembeda dengan 46 SD negeri di Kota Mojokerto yang lain.

Baca Juga :  Hari Ini 15 Pelukis Gelar OTS

”Model baju ini menjadi ciri khas SDN Purwotengah karena memang dipakai Soekarno kecil,” terangnya.
Endang menceritakan, awalnya, seragam ala Soekarno kecil itu tidak langsung mendapat persetujuan seluruh wali murid. Hal itu berdasarkan dari angket yang disebarkan ke semua orang tua siswa. Sebab, ada beberapa yang menyatakan tidak sepakat dengan berbagai alasannya.

- Advertisement -

Namun, setelah disosialisasikan, hampir 100 persen orang tua siswa akhir sepakat dengan pemakaian seragam Soekarno kecil. Kecuali kelas VI yang memang sudah lulus di tahun ajaran 2021/2022 ini.

Terkait model seragam, Endang menyebut desain pakaian ditetapkan berdasarkan referensi dari berbagai literatur. Selain dari foto-foto masa kecil Soekarno, desain seragam juga mengacu pada cover buku Bung Karno Candradimuka. ”Soekarno kecil memakai blangkon dan jas warna putih dengan dasi kupu-kupu,” jelasnya.

Sedangkan untuk bawahannya, lanjut Endang, memakai jarik motif batik dan alas kaki sandal selop. ”Sehingga model ini kami gunakan untuk seragam siswa laki-laki,” papar penulis buku Tapak Tilas sang Putra Fajar di Mojokerto ini.

Baca Juga :  Gunung Merapi Luncurkan 43 kali Guguran Lava selama Sepekan

Lain halnya dengan seragam bagi siswi. Endang menuturkan, pakaian yang dikenakan oleh peserta didik perempuan adalah model kebaya klasik. Desain tersebut juga diperoleh dari hasil penelusurannya ke Ndalem Pojok Kediri. ”Di sana (Ndalem Pojok, Red) kan ada foto-foto Soekarno. Saya juga melihat foto baju-baju kebaya yang menjadi pakaian perempuan dulu itu mirip seperti pakaian RA Kartini,” imbuhnya.

Setelan kebaya putih itu kemudian dijadikan untuk model seragam khas bagi siswi SDN Purwotengah. Tak hanya dipergunakan siswa, pakaian ala Soekarno kecil tersebut juga diterapkan bagi para tenaga pendidik.

Endang menambahkan, pakaian khas SDN Purwotengah itu rencananya akan digunakan rutin minimal sekali dalam sebulan mulai tahun ajaran baru 2022/2023 Juni nanti. ”Jika ada peringatan hari besar nasional dalam bulan tersebut juga akan kami gunakan. Tidak hanya anak-anak, tetapi juga untuk guru,” pungkasnya. (ron)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/